Nama Misye Qiera Prameswari (18), belum lama ini sempat viral di media sosial. Sebuah konten yang menunjukkan pesan menyentuh sang ibunda untuk anak sulung yang baru lolos diterima kuliah di prodi filsafat UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.
Menurut sang ibu, pendidikan bukan sekadar sarana meraih pekerjaan, tetapi proses membentuk kebijaksanaan. “Belajarlah apa yang kamu cintai. Jika kamu mencintai apa yang kamu pelajari, hasil akan mengikuti,” pesan Ibu Qiera di konten tersebut.
Dihubungi via telepon, Qiera mengaku pilihannya melanjutkan pendidikan di Fakultas Filsafat UGM sebenarnya telah melalui proses yang panjang. Apalagi sejak kecil, ia telah terbiasa dengan budaya membaca dan diskusi. Beruntung, kedua orang tuanya tidak membatasi rasa ingin tahu sanga anak, bahkan mendorongnya untuk mengeksplorasi imajinasi. Namun, pengalaman berbeda ia temui saat memasuki pendidikan formal. Pertanyaan-pertanyaan kritis yang ia ajukan justru kerap dianggap sebagai tanda ia termasuk anak yang kurang fokus bagi teman-teman sekelasnya. “Saya bahkan pernah dianggap slow learner karena terlalu banyak bertanya,” ungkapnya, Sabtu (2/5).
Perubahan besar terjadi saat keluarganya memutuskan memilih pindah ke Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Di desa tersebut, orang tuanya mendirikan komunitas pendidikan bernama Omah Sinau, yang berfokus pada peningkatan akses literasi melalui perpustakaan keliling. Tidak jarang ia ikut dengan Ayahnya berkeliling desa membawa banyak buku untuk mengajak anak-anak gemar membaca.
Suatu ketika saat ia menemani Ayah berkeliling desa menjajakan buku, Qiera menyaksikan langsung kesenjangan akses pendidikan. Banyak anak yang ditemuinya ternyata ada yang baru pertama kali mengenal buku atau baru mengetahui dunia di luar lingkungan mereka. Pengalaman ini menjadi titik balik kesadarannya bahwa kemampuan berpikir kritis dan akses pendidikan merupakan sebuah privilege. “Saya menyaksikan, ada anak yang baru pertama kali mengenal buku, di situ saya terenyuh,” kenangnya.
Selain itu, nilai-nilai yang ditanamkan keluarga turut membentuk karakter pribadinya. Bahkan ia kegemarannya membaca buku menjadikannya banyak tahu soal pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh besar hingga para pendiri bangsa. Salah satu kutipan yang membekas adalah pemikiran Tan Malaka tentang tanggung jawab terhadap bangsa dan desa.
Seiring waktu, ia mulai melihat filsafat sebagai fondasi penting untuk memahami realitas dan berkontribusi bagi masyarakat. Bersama komunitas yang kini berkembang menjadi Good Village Project, ia memiliki visi membangun ruang belajar berbasis pemikiran kritis yang disebut Sekolah Athena.
Tidak hanya itu, minat terhadap ilmu sosial pada diri Qiera sebenarnya telah muncul sejak dini. Ketertarikan tersebut terus berkembang dari psikologi, sosiologi, hingga hubungan internasional. Namun, pada akhirnya ia memilih filsafat sebagai bidang studi lanjutan karena ingin memahami dasar cara berpikir manusia. “Filsafat memberi kemampuan berpikir yang luas dan holistik, bidang ini bisa masuk ke semua aspek kehidupan” jelasnya.
Selain itu, ia menilai filsafat semakin relevan di era perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan. “Ditengah otomatisasi, kemampuan berpikir kritis dan reflektif manusia justru menjadi nilai utama yang tidak tergantikan,” ujarnya.
Soal rencananya selama studi di UGM, Qiera berencana ingin aktif dalam berbagai kegiatan, mulai dari seni tari tradisional, debat, hingga Model United Nations (MUN). Ia juga ingin terlibat dalam komunitas yang bergerak di bidang pendidikan dan isu perempuan. Ia ingin mendalami ilmu filsafat dengan kebijakan publik. Ia meyakini bahwa pemimpin dengan dasar pemikiran filosofis akan mampu mengambil keputusan secara lebih kritis dan komprehensif. “Bagi saya, kuliah bukan hanya tentang mencari pekerjaan, tetapi tentang membangun cara berpikir dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
Penulis : Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Qiera
