Membangun citra kota kini menjadi instrumen krusial bagi banyak pemda untuk meningkatkan perekonomian daerah dengan menyajikan destinasi dan event untuk meningkatkan daya tarik wisatawan, investasi, dan perputaran ekonomi lokal. Melalui eksekusi city branding yang konsisten, wilayah seperti Banyuwangi, Solo, Bali, dan Yogyakarta terbukti mampu mengubah potensi daerah menjadi stimulus ekonomi riil. Keberhasilan ini ditandai dengan penyelenggaran kalender kegiatan yang secara langsung memicu perputaran uang daerah dan mendongkrak tumbuhnya UMKM. Hal itu mengemuka dalam Workshop Region City Branding, di Gedung Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) Yogyakarta, Sabtu (23/5).
Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., menjadi pembicara dalam workshop tersebut mengungkapkan bahwa keselarasan identitas suatu instansi dengan daerahnya sangat menentukan untuk meningkatkan citra suatu daerah. Ia mencontohkan, citra UGM dengan karakteristik “kerakyatan” dengan citra Yogyakarta merupakan bentuk strategi komunikasi yang organik.
Menurut Ova, citra tersebut dibangun dengan aktualisasi di masyarakat dengan adanya program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dinilai menjadi instrumen pemasaran tidak langsung mengenai karakteristik Yogyakarta di tingkat akar rumput. “UGM itu identik dengan Jogja, yaitu ndeso. Melalui KKN, UGM menjadi dekat dengan masyarakat. Bagi anak-anak di remote area yang ingin bersekolah di UGM karena termotivasi mahasiswa KKN, itu merupakan sebuah marketing yang secara tidak langsung dari UGM untuk menarik orang ke Yogyakarta,” jelasnya.
Ova mengemukakan potensi kolaborasi kurikulum guna menanggapi fenomena pelarian talenta (brain drain) dari daerah ke kota besar. Menurutnya, selain memperkuat identitas sosial, keberadaan perguruan tinggi yang mapan juga berfungsi sebagai magnet talenta yang mendukung daya saing daerah. Menurutnya, gagasan ini didukung oleh regulasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) yang kini mengizinkan gelar ganda antarperguruan tinggi lokal. “Kerja sama kurikulum melalui double degree antara universitas lokal dengan universitas ‘sudah mapan’ dapat menjadi jalan keluar. Selain itu, perguruan tinggi di daerah harus mampu merancang proyek-proyek lokal yang unik untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik di wilayahnya masing-masing,” jelasnya.
Sementara Arief Budiman, sebagai inisiator Jogja Istimewa menyoroti mengeksekusi city branding di lingkungan pemerintahan seringkali terhambat pada sinkronisasi konsep kreatif ke dalam tahapan anggaran dan birokrasi. “Branding itu adalah tata kelola potensi unggulan. Harus ada program nyata yang menyertai agar brand tersebut memiliki makna dan terbukti secara konkret,” ujarnya.
Ia menilai Bappeda di setiap pemda bisa memastikan city branding mampu menciptakan nilai tambah yang pada akhirnya berkontribusi pada meningkatnya pendapatan asli daerah.
Sementara itu, Board of Creative Ngayogjazz, Ajie Wartono, menyatakan mengangkat nilai sejarah yang orisinil di setiap lokasi kegiatan merupakan kunci utama dari keberlanjutan sebuat event daerah. Berkaca pada kesuksesan Ngayogjazz yang berpindah-pindah desa sejak 2007, ia menjelaskan bahwa sebuah festival harus menggunakan ‘ruang hidup’ masyarakat, bukan sekadar menggunakan tempat pertunjukan yang mati secara sosial. “Ngayogjazz itu memakai ruang hidup yang sudah ada aktivitas sosial kemasyarakatannya, bukan memakai ruang mati. Tantangannya adalah bagaimana kita mengelola ruang tersebut bersama warga. Kami memicu mereka dengan mendatangkan acara, dengan seluruhnya dikelola desa dan masuk ke kas desa,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ajie menambahkan strategi branding wilayah, termasuk pedesaan harus jeli dalam menggali narasi yang unik untuk dikonversikan menjadi daya tarik kontemporer yang relevan bagi generasi muda. “Masih banyak desa-desa yang tidak sadar kalau mereka memiliki potensi. Oleh karena itu, perlu kita arahkan untuk membuat branding desa yang khas, misalnya Badui di Lebak, tagline kegiatannya bisa diambil dari hal di desa itu,” pungkasnya.
Penulis : Aldi Firmansyah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Hanifah
