Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Indonesia di kancah internasional. Satwika Nino Wandhana, mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Gadjah Mada, berhasil meraih First Prize dalam ajang Global Sustainability Challenge tahap Regional Final yang diselenggarakan pada 17–18 Januari di Zhejiang University, Hangzhou, Zhejiang, China.
Kompetisi ini berlangsung selama kurang lebih tiga bulan dan mempertemukan tim-tim multidisipliner dari berbagai negara. Final regional tersebut diselenggarakan oleh Global Sustainability Challenge dan dieksekusi bersama Zhejiang University, Hong Kong University of Science and Technology (HKUST), serta Stanford Doerr School of Sustainability.
Dalam kompetisi ini, Nino menggandeng beberapa mahasiswa UGM lain dan dua mahasiswa dari universitas internasional, yaitu Pranavi Kuntrapakam (Computer Engineering + AI, HKUST), Anuk Ranaweera (Mechanical Engineering, HKUST), Najwa W. Ayu (Manajemen Bisnis, FEB UGM), Nikita Dinda Azizah (Manajemen Bisnis, FEB UGM), dan Gustav Susanto (Manajemen Bisnis, FEB UGM)
Keberagaman jurusan serta kampus tersebut yang menjadi tantangan tersendiri bagi tim Tycoon dalam mempersiapkan kompetisi. Ditambah dua dari anggota mereka merupakan mahasiswa kampus internasional yang memiliki perbedaan jadwal dan kesibukan. “Kita semua punya kesibukan masing-masing. Jadi misalnya saya sendiri masih magang gitu terus Niki juga magang. Najwa sendiri ada program lainnya gitu yang mungkin dia ikuti dan lain sebagainya. Begitu juga dengan teman-teman kita yang dari India dan Sri Lanka seperti itu mereka juga punya kesibukannya masing-masing. Karena kita lintas negara, jadi kita juga harus menyesuaikan waktu meeting kita yang dimana itu juga harus dilaksanakan cukup singkat juga,” ungkap Nino, Selasa (27/1).
Dalam kompetisi ini, tim Tycoon mengusung Resilient360, sebuah platform manajemen kebencanaan terintegrasi yang dirancang untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan respons darurat melalui pemanfaatan teknologi digital. Resilient360 menggabungkan sistem peringatan dini, aplikasi mobile berbasis komunitas, serta drone logistik berteknologi AI dalam satu ekosistem terpadu. “Ketika ada sebuah bencana alam tentunya banyak sekali kerusakan yang terjadi Oleh karena itu kami membuat sebuah aplikasi yang bisa bermanfaat bagi teman-teman yang membutuhkan bantuan. Ada dari drone yang bisa nge-scout lingkungan dari bencana alam itu atau mungkin bisa membantu mengirim keperluan-keperluan yang mereka butuhkan seperti makanan, minuman, minuman dan like first aid dan feature aplikasi lain,” jelas Nino
Solusi ini menjawab persoalan utama kebencanaan, seperti fragmentasi koordinasi, keterbatasan informasi, dan lambatnya distribusi bantuan. Melalui peta geospasial real-time, pelacakan drone, dan sistem komando terpusat, Resilient360 mampu mempercepat penyaluran bantuan, meningkatkan akurasi identifikasi wilayah berisiko, serta membangun kapasitas masyarakat sebelum bencana terjadi. Berdasarkan simulasi dan pengujian awal, platform ini berpotensi meningkatkan kecepatan.
Raihan First Prize tersebut tidak membuat tim Tycoon berpuas diri dengan berhenti pada kompetisi ini saja. Kedepannya mereka berharap agar inovasi prototype ini dapat diwujudkan. Mereka berharap jika ide ini dapat diimplementasikan langsung di negara ini. Sebab, inovasi ini memiliki kaitan yang erat dengan urgensi di negara ini. “Jadi, menurut saya memang mungkin ide ini bisa dipraktikkan di Indonesia yang memiliki daerah dengan risiko bencana yang lebih besar. Jadi, menurut saya, kalau misalnya kita bisa mendapatkan dukungan mungkin kita bisa mewujudkan ide ini seperti itu,” ungkap Gustav
Tak hanya itu, mereka pun berharap jika pihak kampus turut memberikan bantuan kepada tim ini. Sebab dalam pengalaman mereka ini bantuan hanya datang dari pihak fakultas. “Harapannya adalah agar mungkin semisal ada delegasi lain seperti kami, harapannya adalah tidak hanya bantuan dari fakultas, tapi mungkin juga ada bantuan dari universitas,” ungkap Najwa.
Penulis : Fatihah Salwa Rasyid
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Tim Mahasiswa UGM
