Di tengah riuh klakson jalan dan aspal yang panas, terdapat perjuangan sunyi yang tak luput dari perhatian. Dia adalah Wahyu Aji Ramadan, seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada angkatan 2020 di sela waktu kuliahnya, menjadi tukang ojol makanan. Pilihan menjadi ojol makanan sebagai langkah menyiasati keterbatasan ekonomi keluarga dalam membiayai kuliahnya. Apalagi selama kuliah, ia tidak mendapatkan beasiswa yang membuatnya memilih jalan lain untuk tetap bertahan dengan memilih menjadi tukang jasa antar makanan. “Waktu itu nggak dapat beasiswa sama sekali, pengen punya penghasilan sendiri dan setidaknya bisa meringankan beban orang tua,” ujar Aji, Selasa (3/2).
Sebagai seorang mahasiswa sekaligus ojol makanan, rutinitas yang dihadapi Aji antara kuliah dan kerja sambilan tentu tidak mudah. Ia harus mengatur waktu dengan baik agar keduanya bisa tetap berjalan beriringan. Jika kuliah siang, pagi digunakan untuk mencari pesanan. Sebaliknya, jika kuliah pagi, siang atau sore ia pergunakan untuk bekerja. Kawasan Kaliurang, Pogung, dan Kotabaru menjadi saksi perjuangan Aji untuk dapat bertahan hidup.
Pendapatan yang ia terima sebagai pengemudi ojol, Aji mengaku untuk sebuah melayani pesan antar makanan online yang menghubungkan pelanggan dengan restoran/UMKM, ia mendapat komisi mulai dari Rp 6.400 hingga Rp 7.200, sampai belasan ribu rupiah yang bergantung pada jarak orderan pelanggan. Namun kenyataan di lapangan untuk mendapatkan orderan dan komisi tidaklah mudah. “Jujur kenyataannya harus diakui nggak mudah dijalani. Sempat bersitegang dengan pemilik resto dan diancam sekitar jam dua pagi saat bulan puasa karena hendak ambil orderan tapi resto ternyata tutup. Lalu, orderan customer juga pernah jatuh di jalan dan akhirnya ganti rugi. Rela berangkat hujan-hujanan demi dapat bonus, bahkan panas-panasan nyari orderan tapi ban bocor di jalan,”kenangnya.
Selain menjadi pengemudi pengantar makanan, Aji juga sempat bekerja paruh waktu di Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum UGM. Di sana, ia membantu pengelolaan jurnal, administrasi kenaikan pangkat dosen, penyusunan bahan pembelajaran, dan pekerjaan teknis atau administrasi lainnya.
Di kampus, Aji dikenal aktif mengikuti berbagai aktivitas organisasi mahasiswa, seperti Forum Penelitian dan Penulisan Hukum (FPPH), Asian Law Students’ Association Local Chapter UGM (ALSA UGM), Business Law Community (BLC), dan Speech and Law Debate Society (Speciality). Di luar dari bagian fakultas, Aji juga pernah menjabat sebagai pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tenis Lapangan.
Tidak hanya terpaku di dalam kegiatan organisasi, ia juga mulai merintis karirnya di bidang profesional semenjak ia menjadi mahasiswa. Menjelang libur semester, Aji kerap mengajukan lamaran magang di beberapa institusi hukum, diantaranya, DPD RI Yogyakarta, Kejaksaan Negeri, kantor hukum, kantor notaris, lembaga bantuan hukum, hingga lembaga riset hukum Institute for Criminal Justice Reform (ICJR). Ia juga sempat bekerja sebagai content writer di platform media sosial yang membahas isu-isu hukum.
Di tengah kesibukannya dalam menjalani kuliah sebagai mahasiswa UGM, jasa antar makanan, dan organisasi, Aji tetap berusaha untuk berprestasi di akademik dan non akademik. Ia tercatat menjuarai berbagai kompetisi ilmiah tingkat nasional, universitas, hingga fakultas. Beberapa di antaranya adalah Juara 1 Karya Tulis Ilmiah Airlangga Law Competition 2023, Juara 1 Kompetisi Artikel Ilmiah Constitutional Law Fair Universitas Brawijaya 2022, serta Juara 2 Legislative Drafting Competition Universitas Indonesia 2022. Di tingkat universitas, Aji juga meraih prestasi dalam kompetisi riset, lomba video digital, hingga olahraga tenis lapangan.
Bahkan saat memasuki semester akhir, Aji terlibat dalam berbagai proyek penelitian bersama dengan dosen Fakultas Hukum UGM dan beberapa lembaga riset hukum. Ia menjadi asisten penelitian dalam kajian perubahan Undang-Undang Pengelolaan Keuangan Haji serta terlibat dalam pengelolaan database dan pelacakan kasus hukuman mati di ICJR.
Melalui berbagai hiruk pikuk yang dialaminya, Aji memilih untuk tidak pernah menyerah meskipun tekanan tersebut kian menghampiri. “Capek pasti ada karena masalah ada-ada saja membentur dari berbagai arah. Bukan pengen nyerah tapi lebih memilih ke meluangkan waktu buat istirahat sejenak menata ulang apa yang seharusnya dibenahi, dilakukan, dituntaskan, dan dicapai dengan terarah,” tambahnya.
Kini, Aji menikmati hasil perjuangan menyelesaikan pendidikan sarjana Hukum di kampus UGM. Ia berhasil untuk lulus sarjana hukum dengan predikat cumlaude dengan IPK 3.55. Menurut Aji, menyelesaikan studi adalah bentuk tanggung jawab dirinya pada orang tua dan mimpi yang harus dituntaskan. “Selama kuliah, tentu momen wisuda yang dinanti dan cita-cita yang harus digapai,” ujarnya.
Bila menoleh ke belakang, Aji memaknai seluruh perjuangan itu sebagai proses yang penuh makna. “Mungkin jalan yang ditempuh nggak mudah. Tapi bisa jadi itu cara Tuhan memberi kenikmatan setelah pahitnya susah,” pungkasnya
Penulis : Zabrina Kumara Putri
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Aji Ramadan
