Krisis iklim tidak lagi menjadi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang telah dirasakan melalui meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, hingga ancaman krisis pangan. Guru Besar Teknik Geologi UGM Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, Ph.D., menjelaskan bahwa perubahan iklim merupakan fenomena alam yang kini dipercepat oleh aktivitas manusia sejak Revolusi Industri. Ia mengungkapkan bahwa kenaikan suhu global sebesar sekitar 1,55 derajat celcius dalam kurun sekitar 170 tahun telah melampaui target yang sebelumnya diproyeksikan baru terjadi menjelang tahun 2100.
“Kenaikan suhu bumi yang sangat cepat ini menyebabkan siklus hidrologi menjadi semakin ekstrem. Kita menyaksikan dalam satu kawasan terjadi banjir besar, sementara wilayah lain mengalami kekeringan. Fenomena ini oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa bahkan disebut sebagai climate boiling,” jelasnya dalam Forum Pemikiran Bulaksumur yang diselenggarakan Dewan Guru Besar UGM yang bertajuk tema “Krisis Iklim, Mitigasi Bencana, dan Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan” di Balai Senat UGM, Rabu (24/6).
Menurut mantan Kepala BMKG tersebut, percepatan perubahan iklim berdampak langsung terhadap meningkatnya bencana geohidrometeorologi, istilah baru yang disampaikan oleh Dwikorita, mulai dari banjir, longsor, kekeringan, hingga terganggunya ketahanan pangan. Jika laju perubahan iklim tidak mampu dikendalikan, dunia berpotensi menghadapi krisis pangan global pada dekade 2050-an akibat gagal panen di berbagai negara. “Ketika hampir seluruh negara mengalami gagal panen, kita tidak bisa lagi bergantung pada impor pangan. Karena itu, akar persoalannya harus diselesaikan sejak sekarang, yaitu bagaimana manusia mengurangi penyebab perubahan iklim sekaligus memperkuat kemampuan adaptasi masyarakat,” katanya.
Dwikorita juga menekankan pentingnya pendekatan mitigasi bencana yang menggabungkan teknologi tepat guna dengan kearifan lokal. Ia membagikan pengalaman mahasiswa KKN UGM yang melakukan pemetaan wilayah rawan bencana bersama masyarakat, sekaligus mengidentifikasi kelompok rentan sebagai prioritas utama dalam sistem perlindungan masyarakat. Menurutnya, pendidikan masa depan harus semakin mengedepankan problem-based learning, di mana mahasiswa bekerja bersama masyarakat secara kolaboratif untuk menyelesaikan persoalan riil.
Mantan Menteri Perdagangan Indonesia Gita Wirjawan menyoroti pentingnya kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi perubahan geopolitik dan transformasi teknologi global. Ia menjelaskan bahwa transisi menuju energi terbarukan kini semakin realistis karena biaya penyimpanan energi surya melalui baterai mengalami penurunan yang sangat signifikan. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional. “Pertumbuhan ekonomi membutuhkan elektrifikasi. Konsumsi listrik per kapita Indonesia masih relatif rendah, sehingga peningkatan kapasitas energi menjadi prasyarat menuju negara maju,” ujarnya.
Di sisi lain, Gita menilai Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, khususnya kecerdasan buatan, melainkan harus menjadi pencipta inovasi. Ia mengingatkan bahwa negara-negara yang berhasil melompat menjadi kekuatan teknologi tidak selalu berkembang secara linier, melainkan berani mengambil lompatan besar melalui investasi pada riset, inovasi, dan pengembangan kapasitas nasional.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa Fakultas Teknik UGM terus membangun budaya inovasi yang berlandaskan semangat Panca Brata Herman Yohannes, yakni menjadi penemu, perintis, patriot, berpikir alternatif, dan ulet. Nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur pembelajaran berkelanjutan seperti Smart Green Learning Center (SGLC) dan Engineering Research Innovation Center (ERIC), yang dirancang sebagai ruang kolaborasi riset dan inovasi teknologi ramah lingkungan.
Selain infrastruktur, Fakultas Teknik juga mengembangkan berbagai hasil riset yang telah dimanfaatkan masyarakat, antara lain inovasi pewarna alami “Indi” serta teknologi peningkatan kualitas pangan “Gamahumat”. Menurut Selo, inovasi tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi harus mampu meningkatkan kemandirian bangsa dan menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.
Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM, Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., menilai bahwa perubahan besar harus dimulai dari sistem pendidikan tinggi. Menurutnya, pembelajaran tidak lagi cukup dilakukan melalui metode ceramah konvensional, tetapi perlu diarahkan menjadi project-based learning (PBL) yang mendorong mahasiswa menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.
Ia mencontohkan persoalan sampah yang selama ini dipandang sebagai masalah teknis semata, padahal juga berkaitan erat dengan moral, perilaku, dan tanggung jawab sosial masyarakat. Oleh karena itu, mata kuliah wajib di perguruan tinggi perlu dirancang lebih aplikatif agar mahasiswa terbiasa bekerja lintas disiplin untuk menghasilkan solusi yang berdampak langsung. “Pendidikan harus membawa mahasiswa keluar dari ruang kelas untuk menyelesaikan persoalan nyata. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga kepedulian sosial dan kemampuan memecahkan masalah,” ujarnya.
Penulis : Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
