Anselmus Wau, tidak pernah menduga bahwa pandemi Covid-19 merubah jalan hidupnya. Disaat itu, banyak pengurangan tenaga kerja termasuk ditempat kerjanya, dan di saat bersamaan ibunya meninggal dunia ia memberanikan diri membangun usaha pangan dari skala sangat kecil, dan produk awal yang dipilih adalah keripik singkong, dengan pertimbangan segmentasi pasar.
Usahanya kini terus berkembang denga nauangan MAMOKA Group, sebuah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang beralamat di Blimbingsari, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Alumnus Departemen Pembangunan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM mengaku terjun menjadi wirausaha di tengah keputuasaan saat terkena PHK dan keberanian mengambil keputusan. “Pandemi Covid-19 awal 2020 menjadi titik balik perjalanan hidup saya. Saya mengalami PHK akibat pengurangan karyawan, dan di waktu hampir bersamaan ibu meninggal dunia. Kondisi ini memaksa memaksa saya mengambil alih peran sebagai penopang ekonomi keluarga, termasuk membiayai pendidikan adik-adiknya. Pesangon yang saya terima dari perusahaan tentu tidak cukup untuk menopang kebutuhan jangka panjang,” ujarnya saat ditemui di sudut Kampus UGM, Rabu (11/2).
Pria yang lahir di Nias, Sumatera Utara dan mantap menetap di Yogyakarta mengaku bersyukur karena memiliki hobi memasak dan memiliki keberanian mencoba hal baru. Dari ceritanya, iapun mengaku diawal usahanya ia sengaja memilih olahan keripik rasa gurih dan pedas. “Ini saya pilih karena produk bercita rasa manis sudah terlalu banyak pesaing,” tuturnya.
Anselmus berterus terang bahwa ia merintis usaha dari Nol, dan modal usaha awal MAMOKA Group tidak menggunakan modal usaha dalam arti konvensional. Pesangon yang ia terima dari perusahaan dimana ia pernah bekerja tidak dijadikan sebagai modal produksi melainkan dipergunakan untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari.
Produksi kripik singkong di awal-awal, katanya, dilakukan secara bertahap dengan sistem sederhana. Di tahap awal, sebutnya, penjualan keripik singkong MAMOKA Group mampu mencapai 500–1.000 pcs per bulan, dan seluruhnya melalui sistem konsinyasi dengan jejaring pertemanan di wilayah Jabodetabek. “Bahkan penjualan saat itu justru belum menyasar pasar Yogyakarta,” terangnya.
Seiring perjalanan waktu, Hans mulai mempertimbangkan keberlanjutan produk. Iapun sadar bila tren rasa pedas-manis berpotensi menimbulkan kejenuhan pasar, dan dari sinilah lahir inovasi produk olahan sambal MAMOKA. “Sayang produk ini belum mendapat respons pasar yang optimal, terlebih saat itu masih di masa-masa social distancing yang membuat konsumen beralih ke platform daring,” ungkapnya.
Menghadapi tantangan tersebut, Hans melakukan pivot bisnis dan agar tetap bisa mempertahankan ciri khas rasa pedas dan gurih, iapun menciptakan Ayam Geprek MAMOKA dan mulai beroperasi melalui layanan GoFood. Langkah ini terbukti tepat, terbukti permintaan meningkat pesat yang pada akhirnya mendorongnya untuk segera mengurus berbagai perizinan usaha. Hans pun mulai mengurus terkait HAKI, sertifikasi halal, hingga legalitas lainnya.
Ekspansi pun terus ia lakukan. Transformasi penjualan digital pun dilakukan bersama GrabFood dan ShopeeFood, dan di puncak penjualan secara daring ini mampu menembus sekitar 100 porsi per hari. “Bahkan rata-rata terjadi lima pesanan dalam satu menit, terutama saat momentum Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Permintaan konsumen yang beragam turut melahirkan inovasi baru. Dari pesanan nasi kotak, tercipta produk Rice Box “Catering MAMOKA”, disusul Snack Box “Mela Mela MAMOKA” yang menyasar kebutuhan acara dan konsumsi kolektif,” paparnya.
Setelah berhasil dengan produk-produk makanan siap saji yang mendapat tempat di pasar, Hans kembali menghidupkan produk sambal MAMOKA. Hanya saja, sambal kini dikemas sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta dengan cita rasa pedas gurih yang sungguh berbeda dari produk sambal mainstream. Produk sambal MAMOKA inipun kini telah dititipkan di berbagai toko oleh-oleh ternama, seperti Hamzah Batik, Raminten, dan Jogja Mart. “Beberapa kementerian pernah melakukan kunjungan ke MAMOKA Group,” akunya.
Inovasi MAMOKA tidak berhenti, dan untuk menjawab permintaan pasar akan makanan basah tradisional, Hans kembali berinovasi dengan menghadirkan kuliner khas Sumatera Utara, seperti Mie Gomak, Miso (Mieso), Lapet, Lupis, dan Bandrek. Produk-produk inipun mendapat sambutan luar biasa, terutama saat dipasarkan di Pasar Kangen dengan total penjualan mencapai 3.000 pcs. Keunikan produk diperkuat dengan penggunaan bahan baku asli dari Sumatera Utara, seperti andaliman, jinten, dan bubuk daun jeruk purut. “Ini kita usahakan demi menjaga keaslian cita rasa dan memenuhi ekspektasi pasar,” imbuhnya.
MAMOKA Group terus berkembang, dan saat ini memanfaatkan Tokopedia dan Shopee sebagai kanal penjualan, sementara branding dilakukan secara aktif melalui Instagram dan WhatsApp Business. Ayam Geprek MAMOKA bahkan mendapat predikat sebagai salah satu ayam geprek terenak di sekitar UGM, dan keenakan produk ini pernah diulas media nasional Kompas.
Kesuksesan Anselmus Hans membuktikan bahwa latar belakang keilmuan sosial dapat berpadu dengan inovasi bisnis berbasis pangan, budaya, dan teknologi digital. Kisah MAMOKA Group menunjukkan bahwa ketangguhan, inovasi, dan kolaborasi dengan perguruan tinggi mampu melahirkan UMKM yang dapat memberi dampak sosial dan ekonomi yang nyata. Ini sebuah bukti bahwa pengabdian dan kewirausahaan dapat berjalan beriringan, menciptakan nilai bagi masyarakat luas.
Penulis : Agung Nugroho
