Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada menggelar Festival Karawitan dan Bazar Nusantara di Lapangan Fakultas Filsafat UGM, Sabtu (18/7). Perhelatan budaya dalam rangka memeriahkan rangkaian Dies Natalis ke-59 tersebut diikuti oleh 52 kelompok karawitan serta diramaikan 30 tenant UMKM yang menawarkan beragam produk, mulai dari kuliner, aksesori, hingga tanaman hias.
Jumlah kelompok festival tahun ini meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya pada 19 Juli 2025 yang diikuti oleh 47 kelompok karawitan. Pada penyelenggaraan tahun ini, Fakultas Filsafat UGM menghadirkan 52 kelompok karawitan yang berasal dari lingkungan UGM, komunitas seni, hingga kelompok masyarakat dari berbagai daerah. Adapun seluruh penampilan dibagi dalam dua hari, yakni Sabtu (18/7) dan Minggu (19/7), dengan jadwal pertunjukan yang berlangsung pada pukul 07.30–22.00 WIB.
Ketua Panitia, Dr. Sartini, M.Hum., mengatakan bahwa Festival Karawitan yang diselenggarakan Fakultas Filsafat UGM telah berlangsung sejak 2017. Pada penyelenggaraan awal, festival ini hanya melibatkan kelompok dan komunitas karawitan dari lingkungan UGM. Namun, seiring meningkatnya antusiasme masyarakat, festival tersebut mulai diikuti oleh berbagai kelompok karawitan dari luar UGM yang turut memeriahkan perayaan Dies Natalis Fakultas Filsafat UGM tersebut. “Festival kali ini merupakan yang kedelapan, terhitung sejak 2017. Namun, saat pandemi Covid-19, Festival Karawitan sempat tidak diselenggarakan selama dua tahun,” tutur dosen Departemen Filsafat Timur tersebut saat memberikan kata sambutan.
Sartini menambahkan, kelompok karawitan yang tampil pada festival tahun ini berasal dari beragam komunitas. Dari lingkungan UGM sendiri terdapat 24 kelompok karawitan yang mewakili berbagai fakultas. Adapun peserta lainnya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah atas (SMA), Kejaksaan Tinggi, hingga komunitas seni dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta. “Ada sekitar 52 kelompok yang akan tampil dalam dua hari ini. Kalau dari fakultas sendiri, sebelumnya sudah tampil Karawitan Filsafat (Karafi). Anggotanya terdiri atas tenaga kependidikan atau pegawai di Fakultas Filsafat,” ujarnya.
Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, menegaskan bahwa Festival Karawitan tidak semata-mata menjadi bagian dari perayaan Dies Natalis Fakultas Filsafat UGM, tetapi juga merupakan upaya fakultas untuk menumbuhkan semangat sekaligus merawat nilai-nilai tradisi Indonesia. “Festival ini merupakan ruang bagi kita untuk terus menjaga nilai-nilai tradisi yang menjadi roh dan nyawa kehidupan kita bersama,” ujarnya.
Lebih lanjut, Siti menjelaskan bahwa kegiatan serupa sejatinya telah lama diselenggarakan di Fakultas Filsafat UGM. Namun, baru pada 2017 festival tersebut memperoleh dukungan secara kelembagaan dari fakultas dan universitas sehingga penyelenggaraannya menjadi lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, turut mengapresiasi komitmen Fakultas Filsafat UGM dalam melestarikan nilai-nilai budaya melalui penyelenggaraan Festival Karawitan yang rutin digelar setiap tahun dalam rangka Dies Natalis. Menurutnya, Universitas Gadjah Mada memiliki jati diri sebagai pusat kebudayaan. Oleh karena itu, kata Ova, universitas memberikan dukungan penuh terhadap berbagai upaya pelestarian dan pengembangan budaya di lingkup kampus. “Kampus seharusnya menjadi ruang hidup bagi pelestarian dan pengembangan budaya sebagai hasil dari proses dialektika perkembangan zaman,” kata Ova.
Di akhir sambutannya, Ova juga menyoroti keterlibatan berbagai komunitas dalam festival tersebut. Menurutnya, partisipasi peserta yang tidak hanya berasal dari lingkungan UGM menunjukkan bahwa kegiatan ini mendapat perhatian luas dari masyarakat.
Di mata peserta, Festival Karawitan juga menjadi ruang untuk melestarikan budaya. Salah satu peserta dari kelompok karawitan Kagama Sekar Gending, Alisha Putra Nafeeza, menuturkan bahwa karawitan merupakan warisan budaya yang perlu terus dijaga kelestariannya. Menurut Putra, minat generasi muda terhadap seni musik tradisional Nusantara saat ini masih perlu terus ditumbuhkan.”Kalau saya sendiri memang sedari SD sudah diperkenalkan dengan karawitan karena dulu ada pelajaran wajibnya. Saya rasa festival seperti ini harus terus ada guna menjaga nilai-nilai tradisi yang sudah menjadi ciri khas kita, apalagi di Yogyakarta,” kata siswa SMP Negeri 12 Yogyakarta tersebut saat diwawancarai, Sabtu (18/7).
Festival yang juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Filsafat UGM ini turut dihadiri oleh perwakilan Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Republik Indonesia, Reghi Perdana, S.H., LL.M., serta Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A. Selain menyaksikan pertunjukan karawitan, pengunjung juga dapat menikmati Bazar Nusantara yang menjadi bagian dari rangkaian perayaan Dies Natalis ke-59 Fakultas Filsafat UGM.
Penulis/Foto : Agito Sitepu
Editor : Gusti Grehenson
