Merujuk pada laporan Konsorsium Australia untuk Studi Indonesia di Dalam Negeri (ACICIS), jumlah perguruan tinggi di Australia yang masih menyelenggarakan program Bahasa Indonesia pada 2023 tinggal 13 institusi, jauh berkurang dibandingkan sekitar 22 kampus dalam dua dekade terakhir. Di beberapa wilayah, eksistensi program ini bahkan sempat terancam hilang sepenuhnya di tingkat universitas ketika Universitas Tasmania mempertimbangkan penghentian pengajaran Bahasa Indonesia.
Menanggapi hasil laporan ACICIS, Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia, Wira Kurniawati, S.S., M.A., menjelaskan bahwa merosotnya minat mempelajari Bahasa Indonesia dipicu oleh sejumlah faktor, baik yang berasal dari dinamika internal maupun eksternal di Australia, yang satu sama lain saling berkelindan. Baginya, peristiwa geopolotik di kedua negara, seperti peristiwa bom Bali serta pandemi COVID-19 menjadi salah satu pemicu.
Selain itu, terdapat dinamika internal Australia, seperti dinamika politik, sistem migrasi, dan sumber daya manusia yang menguasai Bahasa Indonesia cukup terbatas. “Banyak juga sekolah-sekolah yang mulai menutup kelas bahasa Indonesia karena diawali dari permasalahan bom Bali dan COVID-19. Di Australia juga terdapat beberapa permasalahan internalnya seperti kondisi politiknya, sistem migrasi, dan sumber daya manusia yang menguasai Bahasa Indonesia terbatas,” ujarnya, pada Senin (2/3) di Kampus UGM.
Wira menambahkan, peningkatan kemahiran masyarakat Indonesia dalam berbahasa Inggris turut memengaruhi urgensi warga Australia dalam belajar bahasa Indonesia. “Belum lagi, masyarakat Indonesia sudah mahir dalam berbahasa Inggris, sehingga urgensi mereka untuk belajar bahasa Indonesia tidaklah banyak,” tambahnya.
Wira mengaku ada beberapa alasan bagi mahasiswa asing tertarik untuk mempelajari Bahasa Indonesia adalah karena ekonomi, pendidikan, adat istiadat, dan pariwisata. Menurutnya, penguasaan Bahasa Indonesia membuka peluang kerja sama bisnis dan investasi sekaligus memperluas akses berjejaring secara profesional. Pengakuan Bahasa Indonesia di sidang PBB pada tahun 2023 juga turut meningkatkan legitimasi dan daya tarik global, terkhususnya bagi mereka di bidang pendidikan dan penelitian.
Selain itu, sektor pariwisata juga mengambil peran yang besar mengingat Indonesia dikenal sebagai destinasi wisata unggulan yang membuat banyak wisatawan terdorong mempelajari bahasanya demi memperkaya pengalaman selama berkunjung. “Mereka tertarik untuk pergi ke Bali, sehingga mereka pun berbondong-bondong untuk mempelajari Bahasa Indonesia,” kata Wira.
Menurutnya, ada beberapa langkah yang bisa pemerintah dan diaspora lakukan untuk meningkatkan minat belajar Bahasa Indonesia di luar negeri. Beberapa diantaranya adalah, pengiriman tenaga pengajar ke luar negeri oleh kementerian sebagai bentuk penguatan sumber daya manusia dalam pengajaran Bahasa Indonesia, pemberian beasiswa Darmasiswa maupun fellowship bagi warga negara asing, dan peran perwakilan Indonesia di luar negeri seperti Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) dalam membina hubungan dengan komunitas diaspora. Namun, ia mengakui sepertinya terdapat keterbatasan internal Australia dalam mendukung upaya ini. “Dulu beasiswa Darmasiswa itu masih cukup banyak. Tapi entah mengapa sekarang jumlahnya sedikit dan ini turut memengaruhi minat belajar Bahasa Indonesia,” tambahnya.
Wira turut menilai bahwa sektor budaya dan pariwisata menjadi potensi terbesar yang dapat terus dikembangkan oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia. Ia menyebutkan kekayaan adat istiadat, tradisi, seni, hingga kuliner Indonesia dinilai memiliki daya tarik kuat bagi masyarakat asing untuk mengenal bahasa sebagai pintu masuk memahami budaya secara lebih mendalam.
Di sisi lain, pariwisata Indonesia yang terus berkembang membuka ruang interaksi langsung antara wisatawan mancanegara dan masyarakat lokal. Pengalaman tersebut kerap memunculkan ketertarikan untuk mempelajari Bahasa Indonesia, baik untuk kebutuhan komunikasi maupun sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya setempat. Oleh karena itu, optimalisasi promosi budaya dan pariwisata dapat menjadi strategi berkelanjutan dalam memperluas minat global terhadap Bahasa Indonesia. “Budaya dan pariwisata kita bermacam-macam sekali, jadi dari sana saya rasa bisa kita sama-sama membangun untuk meningkatkan potensinya,” pungkasnya.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Humas UGM
