Usai meraih penghargaan di festival film nasional dan internasional dalam dua tahun terakhir, Film Setan Alas! (The Draft!) siap tayang di 181 layar bioskop di berbagai kota di Indonesia pada 5 Maret 2026 ini. Film bergenre horor garapan Yusron Fuadi ini mengambil syuting di salah satu villa di Kaliurang dengan melibatkan banyak figuran yang menjadi Zombie yang menghantui petualangan sekelompok mahasiswa yang menginap di sebuah rumah tua.
Yusron Fuadi mengungkapkan bahwa ide produksi film bermula dari tantangan pimpinan Sekolah Vokasi UGM untuk mengembangkan laboratorium multimedia. Tantangan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi proyek-proyek film dan salah satunya adalah Setan Alas! yang melibatkan sekitar 70 orang dengan proses pengambilan gambar selama 10 hari. Ia menambahkan bahwa faktor cuaca menjadi kendala utama dalam proses pembuatan film. “Hujan menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, separuh kru adalah mahasiswa, jadi kadang ada yang belum tahu teknisnya. Di situ kami saling belajar,” jelasnya,” selasa (3/3).
Terkait pemilihan judul, Yusron menjelaskan bahwa nama Setan Alas! terinspirasi dari keberagaman bahasa umpatan di Indonesia. Ia juga menekankan bahwa film ini merupakan hasil kerja bersama berbagai elemen termasuk ratusan siswa SMK dari Yogyakarta dan Solo. “Ini filmnya orang banyak, elemen masyarakat yang banyak, dan film ini juga komunikatif dengan penonton,” ujarnya.
Film berdurasi 84 menit ini diproduksi pada 2022 dan rampung pada 2023. Mengangkat kisah lima mahasiswa yang menghabiskan akhir pekan di sebuah vila tua di tengah hutan, Setan Alas! membangun ketegangan melalui konflik, prasangka, dan dinamika psikologis antartokoh. Pendekatan ini secara sadar menghindari ketergantungan pada efek kejut atau jumpscare yang lazim dalam horor arus utama.
Usai meraih penghargaan Best Film, Best Storytelling, dan Best Editing dalam JAFF Indonesian Screen Awards 2023. Bahkan, film ini disebut sebagai horor Indonesia yang “Amazing, Awesome, dan Mindblowing” oleh sutradara Joko Anwar. Di tingkat internasional, film ini melangsungkan pemutaran perdana dunia di Fantastic Fest 2024 di Texas, Amerika Serikat, serta diputar di London dan Toronto pada tahun yang sama. Menurut Yusron, film ini bahkan berhasil bersaing dengan sejumlah film nasional yang sebelumnya meraih Piala Citra.
Selain versi film, semesta Setan Alas! juga dikembangkan dalam bentuk gim digital berjudul “Ganyang Setan Alas”. Salah satu mahasiswa, Andhika Rahmanu, awalnya mengembangkan gim berbasis Android dalam program magang selama dua bulan. Atas arahan Yusron, proyek tersebut diperluas ke platform PC untuk memperpanjang universe cerita. Proyek gim ini dikerjakan selama tiga tahun dan melibatkan lima mahasiswa yang menjadikannya sebagai topik skripsi. Gim tersebut juga diperkenalkan dalam ajang industri gim di Jakarta dan memperoleh banyak jejaring dengan pengembang profesional. “Awalnya kami mengembangkan game Android saat magang dua bulan, lalu atas saran Mas Yusron dikembangkan ke PC untuk memperpanjang universe Setan Alas!. Proyek ini digarap selama tiga tahun dan menjadi topik skripsi bagi lima mahasiswa. Game tersebut sudah kami perkenalkan di ajang Gamers to Gamers di Jakarta, mendapat banyak relasi dengan profesional developer, dan ke depan akan segera dirilis serta terus dikembangkan,” akunya.
Wiryanta, Wakil Dekan Sekolah Vokasi UGM, menjelaskan bahwa pengembangan gim tersebut tidak berdiri sendiri sebagai proyek kreatif, melainkan menjadi bagian dari integrasi kurikulum dan penguatan kerja sama dengan mitra industri. Menurutnya, proses produksi gim ini melibatkan pembelajaran lintas mata kuliah sekaligus praktik langsung yang relevan dengan kebutuhan industri. “Game itu juga merupakan embrio dari kerja sama Sekolah Vokasi dan mitra dalam pengembangan kurikulum. Game ini istimewa karena pengambilan gambarnya juga secara nyata di Hutan Wanagama. File awalnya besar sekali, lalu kami kompres,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengalaman teknis tersebut sekaligus melatih mahasiswa dalam pengelolaan aset digital, optimalisasi sistem, hingga distribusi produk. Ke depan, pihaknya menargetkan gim tersebut dapat dipublikasikan melalui platform distribusi internasional agar memiliki daya saing global. “Target kami nanti bisa dipublish di Steam. Mudah-mudahan itu bisa jadi produk unggulan dari UGM,” katanya.
Dekan Sekolah Vokasi, Prof Agus Maryono menekankan bahwa proyek ini merupakan kerja kolektif yang melibatkan banyak unsur di lingkungan Sekolah Vokasi dan masyarakat. Oleh karena itu, sebagai dekan, ia sangat mendukung penuh projek ini. “Bagi Sekolah Vokasi, ini sebuah proyek yang luar biasa karena melibatkan banyak dosen, elemen mahasiswa, dan tenaga kependidikan. Saya sebagai dekan mendukung penuh, karena melalui kreativitas dan fiksi, sebuah bangsa bisa maju,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa proses produksi film tidak berdiri sendiri sebagai karya seni, tetapi juga mengintegrasikan berbagai bidang keilmuan. “Kreativitas di bidang IT dan manufaktur muncul banyak sekali yang muncul untuk mendukung proyek kolektif ini. Selain itu, bidang ekonomi seperti mengelola, me-manage, mencari dananya serta pemasarannya juga terlibat,” jelasnya.
Menurut Agus, model kolaborasi yang terbangun dalam produksi Setan Alas! menunjukkan bahwa sinergi antarunit di lingkungan universitas memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara lebih sistematis. Keterlibatan berbagai disiplin, dapat menjadi peluang kolaborasi lintas fakultas sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi UGM tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai pusat produksi karya kreatif yang berdaya saing. “Mudah-mudahan UGM, Vokasi, dan fakultas lainnya dapat bekerja sama untuk membuat suatu film. Dengan begitu, kita akan bisa menjadi sentral dari industri kreatif juga,” tambahnya.
Setan Alas! dijadwalkan tayang serentak di 181 layar bioskop di berbagai kota di seluruh Indonesia mulai 5 Maret 2026. Melalui pencapaian kolektif ini, Sekolah Vokasi UGM bersama lapisan masyarakat lainnya menegaskan komitmennya dalam menghadirkan karya kreatif berbasis pendidikan dan praktik nyata yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie dan Dok.Tim Film Setan Alas
