Setiap 15 April, selalu diperingati sebagai Hari Seni Dunia sebagai momen untuk kembali melihat peran seni dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah perkembangan teknologi dan budaya populer yang semakin cepat, seni tradisional seperti karawitan menghadapi tantangan untuk tetap hidup dan dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda.
Dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Dr. Dra. Sartini, M.Hum., yang memiliki fokus pada Filsafat Nusantara, menilai bahwa karawitan sebenarnya masih memiliki tempat yang kuat, khususnya di Yogyakarta. Namun, keberlangsungannya sangat bergantung pada bagaimana seni itu terus dipraktikkan, bukan hanya sekedar disimpan sebagai warisan budaya.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital justru bisa menjadi peluang besar untuk mengenalkan karawitan lebih luas. Kini, pertunjukan karawitan dapat diakses dengan mudah melalui platform seperti YouTube atau siaran langsung. Bahkan, tidak jarang justru komunitas di luar negeri yang aktif menampilkan karawitan. “Dengan zaman digital sekarang ini justru bagus untuk sosialisasi, bahkan ke dunia,” ujarnya, Selasa (14/4).
Meski begitu, ia melihat ada ironi ketika masyarakat lokal belum sepenuhnya memanfaatkan peluang tersebut. Banyak perangkat gamelan di lingkungan masyarakat yang tidak digunakan karena tidak ada ruang untuk tampil. Akibatnya, minat untuk berlatih juga menurun. “Budaya itu akan hidup kalau sering dipertunjukkan. Tapi sering kali tidak ditampilkan karena tidak ada ruang untuk dipentaskan,” jelasnya.
Kendati demikian, di sisi lain, Sartini menilai bahwa minat terhadap karawitan sebenarnya masih ada. Hal ini terlihat dari antusiasme masyarakat dalam mengikuti festival atau pertunjukan. Salah satu contohnya adalah Festival Karawitan di UGM pada saat Dies Natalis Fakultas Filsafat yang telah berjalan selama beberapa tahun dan selalu menarik banyak peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga komunitas umum.
Festival seperti ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa masyarakat membutuhkan wadah untuk mengekspresikan seni. Tanpa ruang seperti itu, seni tradisional akan sulit berkembang meskipun minatnya masih ada.
Selain sebagai hiburan, karawitan juga memiliki nilai filosofis yang dalam. Dalam satu pertunjukan, setiap pemain memiliki peran yang berbeda, tetapi harus saling mendengarkan dan bekerja sama agar menghasilkan harmoni. Nilai ini dianggap relevan dengan kehidupan sehari-hari. “Supaya lagunya bagus, mereka itu harus saling ngemong, saling komunikasi, saling mendengarkan. Itu seperti kehidupan manusia,” tuturnya.
Terkait generasi muda, Sartini menilai bahwa rendahnya keterlibatan mereka bukan semata karena tidak tertarik, tetapi lebih karena kurangnya akses dan paparan. Jika sejak awal mereka tidak dikenalkan dengan karawitan, maka wajar jika mereka lebih memilih hiburan lain yang lebih mudah dijangkau.
Ia juga menyoroti kuatnya pengaruh budaya populer global, seperti musik Korea, yang bisa menjadi sangat populer karena didukung oleh promosi yang masif. Hal ini, menurutnya, seharusnya menjadi pelajaran bahwa seni tradisional juga perlu diperkenalkan secara lebih aktif di ruang digital. “Kalau seni kita tidak diangkat, ya akan kalah dengan yang lain. Padahal kalau dikenalkan, orang juga bisa bangga,” katanya.
Dalam refleksinya pada Hari Seni Dunia, Sartini berharap agar karawitan tidak hanya dipertahankan sebagai simbol budaya, tetapi juga terus dihidupkan melalui praktik nyata. Ia menekankan pentingnya peran berbagai pihak, mulai dari komunitas, sekolah, hingga institusi, untuk menyediakan ruang bagi seni tradisional agar tetap berkembang. Dengan adanya dukungan tersebut, karawitan diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan zaman dan tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Kagama Karawitan
