Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Ir. Jaka Widada, M.P.,Ph.D., dikukuhkan sebagai Guru Besar UGM pada hari Selasa (21/4) di ruang Balai Senat. Dalam pengukuhan jabatan Guru Besar di bidang Mikrobiologi Terapan, ia menyampaikan pidato berjudul Holobiont sebagai Driver Revolusi Mikrobiologi Terapan untuk Ketahanan Pangan dan Kesehatan Global.
Jaka mengatakan dalam pengembagan produktivitas tanaman pangan cenderung berfokus pada seleksi varietas berdasarkan kecepatan tumbuh, umur panen, atau besarnya bulir padi. Namun, dibalik efisiensi tersebut, apa yang terjadi di bawah permukaan tanah sering terlupakan. Padahal ketika menghadapi cekaman patogen atau kekeringan, tanaman mengaktifkan strategi pertahanan kompleks yang dikenal sebagai mekanisme “Cry for Help.” “Tanaman secara aktif mengekskresikan hingga 30% hasil fotosintesisnya sebagai eksudat akar. Cairan kaya gula dan asam organik ini berfungsi sebagai sinyal kimiawi di zona rizosfer,” katanya.
Menurutnya saat ini terjadi ancaman Microbiome Extinction atau kepunahan ekosistem mikroba secara masif akibat praktik pertanian intensif, penggunaan pupuk sintetis yang berlebihan, dan paparan herbisida. Upaya penyelamatan mikrobioma tanah melalui praktik mikrobiologi terapan merupakan prasyarat mutlak untuk menyelamatkan peradaban. “Kita harus beralih dari sekedar memberi makan tanaman dengan bahan kimia menjadi “memberi makan” kehidupan dalam tanah. Sebab, hanya dari tanah yang sehatlah akan lahir pangan yang kuat, dan dari pangan yang kuatlah akan lahir manusia yang sehat,” ungkapnya.
Jaka Widada menjelaskan upaya tersebut dapat dilakukan melalui kombinasi tiga strategi revolusioner yang mengintegrasikan kecerdasan alami dengan teknologi presisi. Salah satunya dengan merancang ulang arsitektur masa depan pertanian yang benar-benar berharmoni dengan kecerdasan ekosistem mikrobia. “Kita sedang bergerak menuju era di mana pupuk datang dari aktivitas biologis yang diaktifkan kembali melalui pemuliaan berbasis holobiont,” jelasnya.
Di era dimana pertanian dikelola dengan data genomik yang presisi. Intervensi mikrobiologi masa depan melibatkan penggabungan antara biologi molekuler mutakhir dan algoritma cerdas untuk menciptakan ekosistem yang tangguh terhadap perubahan iklim ekstrim. “Implementasi tersebut telah membuktikan bahwa teknologi tinggi melalui kecerdasan buatan dan rekayasa genomik membantu memulihkan kembali kecanggihan simbiosis purba yang sempat hilang akibat mekanisasi pertanian yang berlebihan.” ujarnya.
Untuk menutup pidatonya, Jaka Widada menawarkan sejumlah visi yang ia jadikan sebagai peta jalan berbasis sains untuk mengintegrasikan kesehatan tanah, pangan, dan manusia dalam satu kebijakan yang koheren. Beberapa pilar strategis dan langkah riil yang dapat diambil, seperti revolusi pemuliaan tanaman berbasis Holobiont, digitalisasi mikrobioma nasional dan prediksi AI, implementasi agronomi medis, regulasi atau indeks kesehatan mikrobioma, dan kedaulatan manufaktur lokal.
Jaka Widada menjelaskan bahwa tantangan terbesar pada saat ini adalah minimnya infrastruktur riset multi-omik yang memadai, keterbatasan kapasitas bioinformatika untuk mengolah maha-data (big data) mikrobioma, serta belum terintegrasinya hasil riset akademis ke dalam kebijakan ekologis dan industri. “Kita harus berinvestasi lebih berani pada teknologi sains hayati dan mencetak generasi peneliti yang fasih membaca ‘sandi’ alam, agar perpustakaan genomik kita tidak sekadar menjadi harta karun yang tak tersentuh, melainkan mesin penggerak solusi yang nyata,” tutupnya.
Penulis : Diyana Khairunnisa
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
