Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, FIB UGM, Prof. Dr. Pujiharto, S.S., M.Hum., dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Sastra Pascamodern di Balai Senat, Gedung Pusat UGM, pada Selasa (14/2). Dalam Pidatonya yang bertajuk Sastra Indonesia Pascamodern, Pujiharto memaparkan pergeseran fundamental dalam lanskap kesusastraan Indonesia, khususnya transisi dari era modernisme menuju era pascamodern. Ia menegaskan bahwa memahami sastra pascamodern bukan sekadar melihat urutan waktu, melainkan memahami perubahan puitika. “Sastra pascamodern Indonesia mengangkat tema-tema ontologis. Puitika epistemologis mencirikan novel modernis, sedangkan puitika ontologis mencirikan novel pascamodernis,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Pujiharto menjelaskan bahwa karya fiksi dapat dikatakan bersifat ontologis apabila di dalamnya dikemukakan strategi-strategi formal keberadaan dunia secara implisit. “Isu-isu keberadaan dunia-dunia fiksional dan penduduknya, serta merefleksikan pluralitas dan diversitas dunia-dunia dikemukakan secara implisit dalam strategi formal merupakan ciri dominan dari karya fiksi bersifat ontologis,” paparnya.
Dalam praktiknya, Ketua Asosiasi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia Cendekia (PROBSI) ini membedah novel Telegram (1973) dan novel Pabrik (1967) karya Putu Wijaya. Dalam novel Telegram, ia menyoroti alur cerita yang bergerak dari dunia nyata dalam karya, ke dunia angan yang terjadi beberapa kali. “Terjadinya skandal ontologis yang mengakibatkan teks berkedip antara dunia nyata dalam novel dengan dunia nyata yang sesungguhnya. Demikian seterusnya peristiwa dalam novel ini bergerak bolak-balik dari peristiwa epistemologis ke ontologis dan sebaliknya hingga akhir cerita,” jelasnya.
Tidak berhenti pada analisis karya, Pujiharto mengaitkan pluralitas ontologis dalam sastra dengan kondisi masyarakat kini yang acapkali menggunakan kecerdasan artifisial (AI) yang berimplikasi pada hiperrealitas atau ketiadaan asal-usul yang jelas. Menurutnya, pluralitas ontologis kini makin anarkis seiring dengan penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari. “Penggunaan AI telah memunculkan dunia-dunia yang saling bertabrakan antara satu dengan yang lain sehingga kita kesulitan mengidentifikasi yang mana benar dan mana yang artifisial,” tuturnya.
Melalui dekonstruksi dan pemahaman puitika ini, Pujiharto berharap agar masyarakat modern kini lebih siap menghadapi ketidakpastian fakta di masa depan. “Perubahan yang terjadi memerlukan kesiapan kita semua untuk menghadapinya, apalagi kampus yang selama ini dipandang sebagai garda depan perubahan,” pungkasnya.
Penulis : Aldi Firmansyah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
