Hamparan selada hijau yang segar tampak kontras dengan tumpukan folder yang berjejer rapi di meja kerjanya dulu di kantor Humas UGM. Bagi Arta Wahana, pensiunan tenaga kependidikan UGM, masa purnabaktinya bukanlah waktu untuk berhenti produktif. Pada jemarinya yang luwes dan cekatan, bercocok tanam selada bukan sekadar pengisi waktu luang, melainkan cara baru untuk terus bergerak menjaga kebugaran.
Arta menjelaskan bahwa kebun seluas 650 meter persegi ini mengubah ritme kehidupannya dari yang berangkat pagi pulang petang, kini berangkat lebih pagi dan pulang sebelum siang. Padahal sewaktu bekerja menjadi staf Perpustakaan Pascasarjana di Kampus UGM, hampir 3 kali seminggu ia terbiasa lembur hingga pukul 7 malam. Lalu saat dipindah di Humas Universitas, ia selalu berangkat pagi pulang petang. “Ternyata, ketika di kebun sekarang ini, sebelum subuh pun saya harus sudah berangkat, karena ditunggu orang mengambil selada. Tapi di sini jam kerja lebih pendek, pukul 10 sudah selesai. Bahkan kalau panen, pukul 9 sudah selesai,” kelakarnya, Selasa (28/4).
Arta merupakan pensiunan tenaga kependidikan Humas UGM tahun 2024. Ia mengabdi di UGM sejak tahun 1989. Sebelum di Humas UGM, ia pernah ditugaskan di Perpustakaan Pascasarjana hingga tahun 2010. “Saya bertugas sejak tahun 1989, lalu pensiun pada awal 2024. Sebelumnya, saya bertugas di Perpustakaan Pascasarjana. Di sana, saya mendata peminjaman, membantu mencarikan buku, dan menomori buku. Lalu ketika perpustakaan digabung, saya dimutasi ke Humas UGM untuk membantu menyiapkan press conference, mengambil video, dan lain-lain,”kekangnya.
Sembari memindahkan selada ke meja peremajaan, Arta menjelaskan bahwa kedua kebunnya yang berada di wilayah Pakem dan Plosokuning menggunakan sistem hidroponik. Hal ini berkat ilmu dan jejaring yang dimiliki oleh anak keduanya yang merupakan lulusan dari jurusan pertanian. “Anak sedang menekuni bidang pertanian, belajar bersama temannya untuk menanam selada. Saya dukung melalui tenaga membantu setiap hari. Menantu yang meracik nutrisi, anak yang memasarkan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Arta membeberkan alasan lain memilih untuk terjun di dunia perkebunan setelah pensiun. “Sewaktu kecil, saya juga pernah di sawah sehingga tahu sedikit mengenai menumbuhkan tanaman. Lebih daripada itu, rasanya lebih ayem, pagi-pagi melihat yang segar berupa tanaman hijau-hijau. Olahraga dan olah batin juga, karena di kebun bisa berkeringat sekaligus banyak berdoa meminta kesuburan,” tuturnya.
Dalam bercocok tanam selada, Arta mengisahkan bahwa pada mulanya, ia menjumpai beberapa kendala. Mulai dari beberapa selada yang tidak bisa tumbuh besar, layu, bahkan banyak yang mati. “Pernah waktu awal dulu seladanya sering mati. Setelah ditelusuri, ternyata karena vitaminnya kurang. Juga faktor airnya panas karena waktu itu menyimpannya di dalam drum, kalau sekarang airnya dari sumur. Kemudian dibersihkan salurannya barangkali mampet oleh lumut serta dicek untuk nutrisinya,” ucapnya.
Keberhasilan dalam mengatasi kendala teknis tersebut pada akhirnya berbuah hasil dengan meningkatnya produktivitas kebun. Untuk menjaga keberlangsungan pasokan, Arta menerapkan sistem rotasi tanam delapan meja produksi. Dengan masa tanam rata-rata 40 hari, ia mengatur jadwal sedemikian rupa sehingga proses panen dapat dilakukan bergiliran. “Sekarang rata-rata bisa panen 20-30 kg setiap hari. Terdapat 8 meja dengan tiap meja panennya bisa sampai 5 hari sekali,” jelasnya.
Arta menerangkan saat ini harga selada hidroponik tergolong tinggi berkisar Rp20.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Dengan volume penjualan mencapai 20-30 kg, ia mampu mengantongi omset harian rata-rata sekitar 400 ribu rupiah hingga 750 ribu. Meskipun demikian, ia mengaku kondisi pasar sering fluktuatif. “Harga sangat bergantung pada stok selada tanah. Kalau musim panas, selada dari kopeng panen raya sehingga harganya bisa murah, hanya 6000 rupiah. berpengaruh pada harga selada hidroponik. Bersyukur, ya, konsumsi selada hidroponik masih tinggi. Banyak juga suka yang hidroponik,” jelasnya.
Mengakhiri perbincangan, Arta menyelipkan pesan bagi rekan-rekan sesama purnabakti untuk tetap aktif dan memanfaatkan aset yang dimiliki. “Mari rekan-rekan pensiunan, kalau mempunyai waktu dan lahan, baik besar maupun sedikit kita bercocok tanam. Dikonsumsi sendiri juga bisa. Selanjutnya belajar untuk menghasilkan income,” pungkasnya.
Penulis : Aldi Firmansyah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Jesi
