Muhammad Rizky Perwira Zain, wisudawan dari Prodi Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM dinobatkan sebagai lulusan termuda pada Wisuda Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar Rabu (22/4) lalu di Grha Sabha Pramana. Ia berhasil menyelesaikan studi dengan usia yang terbilang sangat muda, yakni 22 tahun 2 bulan 8 hari. Padahal rata-rata usia lulusan Program Magister (S2) pada periode ini mencapai 29 tahun 6 bulan 15 hari.
Kiki, demikian akrab disapa, menceritakan tentang perjalanan studinya. Ia mengikuti program Block Elective sejak masih menempuh sarjana Kedokteran di UGM. Program tersebut memberinya ruang untuk menentukan arah pengembangan akademik, termasuk memilih jalur percepatan dengan mulai mengambil studi magister sejak semester akhir. Ia menuturkan bahwa program tersebut menggabungkan pendidikan sarjana Kedokteran dan magister Kesehatan Masyarakat dalam waktu beririsan. Keputusan tersebut sudah ia tekadkan sejak semester enam. Akan tetapi, ia menyebut bahwa keputusan ini bukanlah hal sederhana karena harus melalui diskusi panjang bersama dengan keluarga. Pasalnya, ia harus menunda pendidikan profesi dokter (koas) selama satu tahun. “Ini keputusan yang agak besar karena saya harus menunda waktu koas satu tahun untuk menjalani S2 dulu,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (28/4).
Selama menjalani percepatan studi, ia menghadapi berbagai macam tantangan, terutama dalam hal manajemen waktu dan beban akademik yang berlapis. Pada saat yang bersamaan, ia dituntut menyelesaikan skripsi S1 sekaligus mengikuti perkuliahan S2 yang berlangsung padat hampir setiap hari. Situasi ini membuat ritme belajarnya jauh lebih intens dibandingkan mahasiswa lainnya. Meskipun di tengah tuntutan akademik tersebut, ia juga tetap aktif dalam kegiatan organisasi Tim Bantuan Medis, yang turut menyita waktu dan energi. “Di semester itu saya harus menyelesaikan skripsi dan menjalani semester satu pada program magister yang cukup padat,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga menghadapi tantangan untuk beradaptasi dengan beradaptasi di lingkungan yang didominasi oleh mahasiswa senior. Perbedaan tersebut menuntutnya untuk mampu menempatkan diri, menjaga etika komunikasi, serta membangun kepercayaan dalam kerja kelompok, tanpa mengabaikan kontribusi yang ia miliki. Tekanan semakin meningkat ketika memasuki semester kedua, saat ia dituntut turun ke lapangan sekaligus menyusun rancangan awal tesis. Kondisi tersebut membuatnya sempat mengalami kelelahan. “Sempat mengalami burnout karena banyak kegiatan yang dihadapi, tapi ya enggak apa-apa, dijalani saja,” tuturnya.
Dalam tesis nya, Kiki mengangkat topik mengenai faktor yang berhubungan dengan keberhasilan berhenti merokok di Indonesia. Ia bercerita bahwa penelitiannya menggunakan data skala nasional dengan 14 variabel yang dianalisis dengan sumber global seperti World Health Organization (WHO). Sempat mengalami dilema dalam menentukan topik agar tetap realistis tetapi berdampak luas. Tetapi pada akhirnya ia bisa menyelesaikan tugas akhirnya dengan temuan menarik terkait perilaku merokok berdasar usia. “Yang muda banyak yang berupaya berhenti, tapi yang benar-benar berhasil justru yang lebih tua karena sudah terdorong penyakit,” jelasnya.
Motivasinya dalam menyelesaikan studi tidak lepas dari adanya dukungan keluarga yang menyertai serta kesadaran akan tanggung jawab profesinya di bidang kesehatan. Ia menekankan bahwa kesungguhan dalam belajar menjadi hal krusial, terutama dalam bidang kedokteran yang berkaitan langsung dengan keselamatan pasien. “Kalau kita tidak belajar dengan sungguh-sungguh, nanti kita bisa salah memberi diagnosis. Jadi memang harus benar-benar serius dalam belajar,” ujarnya.
Kiki menegaskan bahwa pencapaiannya lulus di usia muda bukanlah tujuan utama dalam perjalanan studinya. Ia menilai setiap orang memiliki ritme dan fase yang berbeda dalam pendidikan, sehingga usia kelulusan tidak bisa dijadikan tolok ukur tunggal keberhasilan. Menurutnya, hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat nyata bagi orang lain. Ia menekankan bahwa esensi pendidikan tidak terletak pada kecepatan, melainkan pada dampak yang dihasilkan. Karena pada akhirnya, bukan soal siapa paling cepat lulus, tapi bagaimana ilmu yang kita dapat bisa bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya.
Menutup penuturannya, Kiki berpesan kepada mahasiswa yang tengah berjuang menyelesaikan tugas akhir agar selalu menekankan konsistensi dalam usaha. Ia menyebut bahwa kunci utama bukan pada kecerdasan semata, melainkan pada ketekunan dan kedisiplinan dalam menjalani setiap tahapan. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menyeimbangkan usaha dengan doa agar proses studi dapat berjalan efektif. “Yang penting itu tekun, disiplin, telaten, dan sabar. Kita harus berikhtiar semaksimal mungkin, jangan lupa juga berdoa dan minta doa orang tua,” pungkas Kiki.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Rizky
