Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 di sejumlah lokasi ujian, Sabtu (25/4). Kegiatan ini diawali dari Balairung UGM sebelum dilanjutkan ke dua titik lokasi ujian di lingkungan kampus. Dalam peninjauan tersebut, pimpinan universitas melihat secara langsung pelaksanaan ujian di ruang berbasis komputer. Pemantauan mencakup kesiapan perangkat, sistem pengawasan, serta kondisi peserta selama mengikuti ujian. Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan seluruh proses UTBK berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan untuk mencegah kecurangan dan praktik joki.
Pelaksanaan UTBK SNBT 2026 di UGM berlangsung pada 21–25 April dan 27 April 2026 dengan jumlah peserta mencapai 15.502 orang. Ujian diselenggarakan dalam dua sesi per hari dengan kapasitas 1.452 peserta per sesi. Sebanyak 14 lokasi dan 44 ruang ujian disiapkan untuk mendukung pelaksanaan di berbagai unit dan fakultas. Rerata tingkat kehadiran peserta tercatat mencapai 97,97 persen selama ujian berlangsung. Secara umum, pelaksanaan UTBK di UGM berjalan tertib dengan dukungan kesiapan sarana dan prasarana yang memadai.
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Ph.D., menyampaikan bahwa pelaksanaan UTBK tahun ini menunjukkan perbaikan dari tahun-tahun sebelumnya. Berbagai upaya mitigasi terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi kendala selama ujian berlangsung. Salah satu perhatian utama adalah pencegahan kecurangan, termasuk praktik perjokian yang sempat menjadi perhatian publik. UGM memperketat pemeriksaan sebelum peserta memasuki ruang ujian serta memastikan barang bawaan tidak berada di dekat peserta selama ujian berlangsung. “Dengan perkembangan teknologi saat ini, potensi kecurangan bisa semakin beragam, sehingga pengawasan kami lakukan lebih ketat sejak sebelum ujian dimulai,” ujarnya.
Ova menambahkan bahwa perbaikan sistem pelaksanaan terus dilakukan sebagai bagian dari evaluasi berkelanjutan. Berbagai pengalaman dari pelaksanaan sebelumnya menjadi dasar dalam menyusun strategi yang lebih baik. UGM juga memastikan setiap tahapan ujian berjalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kualitas seleksi nasional yang kredibel. “Kami melihat pelaksanaan tahun ini semakin baik karena berbagai upaya perbaikan terus dilakukan secara konsisten,” imbuhnya.

Sejalan dengan itu, Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA, menegaskan bahwa daya tampung mahasiswa baru melalui jalur SNBT di UGM tahun ini berkisar 2.800 kursi atau sekitar 30 persen dari total kapasitas penerimaan. Ia menyebut jumlah tersebut relatif stabil dari tahun ke tahun dan tidak mengalami lonjakan signifikan. Informasi yang beredar mengenai peningkatan jumlah penerimaan dalam jumlah besar dinilai tidak benar. “UGM tidak pernah menaikkan jumlah penerimaan secara drastis seperti yang beredar, angka tersebut tidak benar dan perlu diluruskan,” tegas Wening.
Ia juga menekankan pentingnya membangun integritas dalam proses pendidikan sejak awal. Upaya pencegahan kecurangan perlu diimbangi dengan kesadaran bersama dari seluruh pihak. Menurutnya, praktik kecurangan yang terorganisasi masih menjadi tantangan dalam sistem seleksi secara nasional. Karena itu, komitmen untuk menjunjung kejujuran harus terus diperkuat. “Yang paling penting adalah membangun kesadaran bahwa pendidikan harus dijalankan dengan jujur sejak awal,” tuturnya.
Direktur Direktorat Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. dr. Gandes Retno Rahayu, M.Med.Ed., Ph.D, menjelaskan bahwa pelaksanaan UTBK berbasis komputer menuntut kesiapan sistem yang optimal. Dua aspek utama yang menjadi perhatian adalah stabilitas sistem dan konektivitas jaringan selama ujian berlangsung. UGM memastikan sistem yang digunakan telah diperbarui untuk meminimalkan potensi celah yang dapat dimanfaatkan untuk kecurangan. “Kami memastikan sistem yang digunakan lebih aman dan terkendali sehingga dapat mendukung pelaksanaan ujian yang lebih baik,” ujar Gandes
Ia menambahkan bahwa kesiapan infrastruktur juga didukung oleh sistem server dan jaringan yang telah melalui berbagai tahapan pengujian. Sistem dirancang dengan mekanisme cadangan untuk menjaga keberlangsungan layanan apabila terjadi gangguan. Selain itu, koordinasi dengan panitia pusat terus dilakukan untuk memastikan kelancaran pelaksanaan ujian. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen UGM dalam menjaga kualitas pelaksanaan UTBK. “Stabilitas sistem dan konektivitas menjadi kunci agar ujian dapat berlangsung tanpa hambatan,” imbuhnya.
Selain itu, UGM juga memastikan pelaksanaan UTBK berjalan inklusif bagi seluruh peserta. Gandes menyampaikan bahwa peserta disabilitas pada tahun ini difasilitasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Untuk pelaksanaan di UGM, peserta yang difasilitasi terdiri dari disabilitas tuli dan disabilitas fisik, sementara peserta disabilitas netra difasilitasi secara terpusat di perguruan tinggi lain sesuai kebijakan panitia pusat. Penempatan ini dilakukan untuk memastikan dukungan yang diberikan dapat berjalan lebih optimal. “Kami memastikan setiap peserta mendapatkan dukungan sesuai kebutuhannya agar dapat mengikuti ujian dengan baik,” pungkasnya.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Firsto
