Wacana mengenai penutupan program studi yang tidak relevan dengan industri turut menyita perhatian sastrawan dan Sosiolog Okky Madasari. Pakar bahasa dan sastra itu menilai, wacana ini berpotensi mengancam kemampuan berpikir kritis dan fondasi sosial budaya generasi. Sebaliknya, budaya, bahasa, dan sastra justru harus diberikan ruang lebih untuk berekspresi, sehingga setiap perubahan sosial masyarakat dapat direkam dengan baik sebagai dinamika yang mendukung supremasi budaya Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Okky Madasari dalam Bincang Budaya Cultural Festival 15 yang diselenggarakan oleh UGM Residence di Grha Sabha Pramana bertepatan pada momen Hari Buruh pada Jumat (1/5) lalu.
Diskusi dengan tajuk “Bahasa dan Sastra sebagai Diplomasi Budaya” dibuka dengan pandangan Okky terkait kabar penutupan program studi seperti Sastra, Sejarah, dan Antropologi. Alumnus Sarjana Hubungan Internasional UGM tersebut menilai bahwa program studi yang disebutkan justru sangat relevan dengan yang dibutuhkan oleh industri. Baginya, bahasa dan budaya memiliki potensi besar dalam menggerakkan roda perekonomian negara. Ia mengambil contoh konkret seperti budaya K-Pop, popularitas lagu Jawa, hingga lagu Timur Indonesia yang kini tengah naik daun.“Korea memiliki bargaining position sehingga banyak kajian dan program studi yang mempelajarinya, di UGM juga ada. K-Pop adalah salah satu contoh bagaimana distribusi dan promosi budaya berhasil menjadi penyokong utama ekonomi negara”imbuhnya.
Dari sini, sastra dan bahasa berperan penting dalam diplomasi yang menentukan posisi Indonesia di mata dunia. Produk budaya Indonesia sudah seharusnya memiliki potensi mengingatkan posisi strategis negara Indonesia dalam jalur perdagangan dunia. Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, Okky menyampaikan produk budaya Indonesia berpotensi mendorong perekonomian negara. Akan tetapi, pertanyaannya ada pada bagaimana produk budaya Indonesia diperkenalkan lebih luas.
Pada sesi tanya jawab, berbagai pertanyaan dilontarkan oleh mahasiswa dari beragam latar belakang. Salah satu pertanyaan yang mencuat adalah degradasi penggunaan bahasa baku di media sosial. Okky sendiri percaya bahwa bahasa tidak seharusnya dibakukan sebab jenis penggunaan bahasa dapat menjadi penanda dinamika sosial. Bagi Okky, bahasa tidak seharusnya diatur, melainkan penggunanya yang mengikuti tren hasil perkembangan teknologi.
“Bahasa di media sosial itu menggambarkan cara generasi hari ini berkomunikasi. KBBI harus terus merekam kosakata baru, terus memperbarui bahasa, termasuk istilah-istilah yang diciptakan di media sosial. Kebaruan itulah yang menjadi bagian dari kekayaan bahasa,” ujarnya.
Lebih lanjut, Okky turut menyampaikan bahwa bahasa sudah seharusnya dinamis dan dapat digunakan sesuai konteks. Bahasa Indonesia yang baku akan terasa aneh jika dipakai bukan sesuai dengan konteks. Keberadaan polisi bahasa justru akan menjauhkan informasi dari realitas. Para pengguna yang seharusnya menyesuaikan diri, bagaimana bahasa yang dipakai untuk menulis esai, cerpen, puisi, termasuk bahasa daerah untuk percakapan sehari-hari. “Kalau di media sosial, bahasa tidak harus baik dan benar. Setiap bahasa bisa dipakai di berbagai situasi dan kondisi, tergantung pada konteksnya,” tutup Okky.
Penulis : Ika Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Wikipedia dan Dok.UGM Residence
