Memperkuat daya saing Indonesia di bidang kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI melalui Pusat Pengembangan Talenta Digital BPSDM kembali membuka program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) di kampus UGM pada 2-3 Mei lalu. Program ini bertujuan mengembangkan talenta kecerdasan artifisial (AI) dengan berfokus pada penyelesaian tantangan nasional melalui pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Kegiatan ini diikuti mahasiswa dan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya (UB), serta Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Selain itu, program ini juga menjadi wadah kolaborasi antara peserta, akademisi, praktisi industri, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mengembangkan solusi AI yang aplikatif dan memberikan dampak nyata.
Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM, Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., menyampaikan bahwa pengembangan talenta AI dilakukan untuk membuka peluang kolaborasi hingga tingkat internasional. Ia mengungkapkan bahwa sejumlah pekerjaan dan proyek pengembangan AI saat ini telah berkembang ke berbagai wilayah, termasuk Timor-Leste dan Malaysia. “Kalau di Timor-Leste itu kita bersaingnya dengan perusahaan-perusahaan besar. Harganya kira-kira kita hanya sepertiga, bahkan seperempatnya, tetapi kita tetap mendapat banyak peluang kerja,” ujarnya dalam keterangan yang dikirim Kamis (4/6).
Lebih lanjut, Kuwat menyampaikan keberhasilan anak muda dari Indonesia dalam membangun kolaborasi tersebut menunjukkan daya saing talenta Indonesia yang terletak pada kualitas hasil yang ditawarkan. Ia secara khusus mengajak mahasiswa dan peserta program AITF untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang AI serta berkontribusi dalam membangun Indonesia melalui inovasi teknologi. “Saya kira, adanya program ini juga luar biasa membantu kami, terutama untuk meningkatkan kualitas dalam mengembangkan kemajuan teknologi, seperti kecerdasan artifisial. Jadi, kalau nanti ada yang punya kemampuan lebih dari ini, saya kira, kita bisa saling berkolaborasi untuk membangun Indonesia supaya lebih unggul dalam pengausaan AI,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi RI, Dr. Ir. Bonifasius Wahyu Pudjianto, M. Eng mengungkapkan program ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kompetensi teknis peserta di bidang kecerdasan artifisial, tetapi juga untuk membuka peluang pengembangan karir dan kewirausahaan mandiri berbasis teknologi. “Program ini bisa kita jadikan sebagai inspirasi untuk mengasah kemampuan dalam membangun usaha ataupun mengelola bisnis kedepannya. Bukan secara aspek technical saja, tetapi juga secara aturan atau kesepakatan yang berlaku,” ungkapnya.
Bonifasius turut menegaskan bahwa program workshop yang diselenggarakan ini diharapkan dapat memberikan dampak yang nyata, baik bagi peserta maupun masyarakat. Sehingga, kemajuan teknologi melalui pengembangan kecerdasan artifisial dapat dirasakan oleh berbagai pemangku kebijakan. “Kolaborasi yang dikembangkan dalam program ini bukan sekedar prototipe atau tugas saja. Saya harap produk yang dihasilkan nanti akan memberikan dampak nyata,”
Ia juga menyampaikan program ini bisa menjadi modal dan menambah pengalaman, terutama untuk mengelola kecurangan (fraud) ketika kelak sudah bekerja. “Karena, ketika sudah terjadi kecurangan, sulit mendapatkan investor. Jadi, tingkatkan integritas dalam membangun bisnis, supaya kepercayaan investor tetap terjaga,” tutupnya.
Penulis : Diyana Khairunnisa dan Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Magnific
