Penelitian yang diterbitkan di NeoBiota edisi September 2023 menganalisis lebih dari 900 laporan penyakit baru pada 284 spesies pohon di 88 negara dan menghitung bagaimana penyakit menular baru terakumulasi secara geografis dan pada inang yang berbeda. Sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan agar masyarakat setidaknya mengonsumsi lebih dari 400 gram buah dan sayur per hari. Buah dan sayur yang dikonsumsi sebagai bagian dari makanan sehat yang rendah lemak, gula, dan garam dapat membantu mencegah berat badan berlebih dan mengurangi risiko obesitas yang menjadi faktor risiko berbagai penyakit tidak menular.
Prof. Ani Widiastuti, S.P., M.P., Ph.D., dosen dari Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, menekankan pentingnya kolaborasi internasional untuk menghadapi kompleksitas penyakit tanaman saat ini terutama pada wilayah tropis. Kompleksitas penyakit pada tanaman menjadi penting terutama pada sayuran yang termasuk dalam komoditas hortikultura penyumbang inflasi. “Perubahan iklim menjadi kendala besar dalam produktivitas tanaman yang memicu adaptasi patogen atau hama atau biasa disebut sebagai emerging plant diseases,” kata Ani kepada wartawan, Selasa (21/7).
Menurutnya, perguruan tinggi perlu melakukan kolaborasi internasional dalam penanggulangan penyakit yang menyerang pada tanaman terutama pada tanaman holtikultura dan tanaman pangan. Pasalnya tanaman ini menjadi sumber pangan di tengah ancaman krisis pangan dan dampak perubahan iklim.
Ia menyebutkan, belum lama ini Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada bersama World Vegetable Center (WorldVeg) menyelenggarakan Advanced Training in Plant Health: From Field Surveillance to Molecular Technologies pada 22–27 Juni 2026 lalu di Yogyakarta. Pelatihan diikuti oleh 18 orang peneliti dan praktisi terutama dari perusahaan benih terkemuka dari berbagai negara yaitu Perancis, Afrika Selatan, India, Sri Lanka, Papua Nugini dan Indonesia. Selama enam hari, peserta dari berbagai institusi mengikuti rangkaian sesi intensif yang memadukan teori dengan praktik lapangan, dibimbing langsung oleh pakar internasional dan akademisi UGM. “Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inisiasi untuk memperlebar kerjasama dengan berbagai industri dalam menyelesaikan masalah dan mendapatkan tanaman yang sehat,” kata Ani.
Ani menyampaikan bahwa pelatihan ini dilatarbelakangi dengan masalah-masalah yang ada di lapangan yang di bawa ke laboratorium untuk diagnosis lebih detail sampai melihat sisi molekulernya. Pada hari pertama, pelatihan berfokus pada diagnostik penyakit tanaman. Dr. Lourena Maxwell dan Dr. Ram Khadka dari World vegetable center memaparkan alur diagnostik hama, jamur, bakteri, dan virus, mulai dari observasi lapangan hingga konfirmasi laboratorium. Dilanjutkan dengan pemaparan dari ahli bioteknologi tanaman dari Fakultas Pertanian UGM, Dr. M. Iqbal Maulana terkait peran nematoda parasit dalam sistem produksi sayuran dilanjutkan dengan praktikum identifikasi nematoda melalui ekstraksi DNA dan teknik PCR. “Kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan dan mempelajari secara langsung gejala penyakit pada cabai, tomat, dan sayuran di PIAT UGM,” ujar Ani.
Hari kedua mengangkat tema Insect Pest Diagnostics & Resistance Screening. Para peneliti seperti Dr. Stephen Othim, Dr. Sopana Yule, keduanya dari WorldVeg dan Dr. Prayogo Probo Asmoro dari Fakultas Pertanian membimbing peserta mengenali hama utama sayuran seperti kutu kebul, thrips, dan aphid, serta teknik identifikasi di laboratorium. Sesi dilanjutkan dengan praktik inokulasi penyakit bakteri dan jamur pada buah cabai, hingga protokol standar dan persiapan anthracnose assay pada cabai, bersama Ms. Jo Chang, Mr. Wallace Chen dan Prof. Ani Widiastuti.
Pada hari ketiga, tim memperkenalkan metode deteksi molekuler virus sayuran melalui PCR, qPCR, hingga teknologi CRISPR kepada para peserta. Kemudian dilanjutkan dengan praktikum laboratorium yang dipandu oleh Dr. Owen Cheng, Dr. Ady Bayu Prakoso, dan Widhi Dyah Sawitri, Ph.D. Mereka mengajarkan teknik pemurnian RNA dan DNA dari tanaman terinfeksi serta persiapan isolat virus murni. Ditambah dengan panduan inokulasi potyvirus pada tomat dan pengamatan perkembangan gejala penyakitnya. Kegiatan hari ketiga ditutup dengan demo penggunaan perangkat lunak aplikasi bioinformatika seperti Geneious.
Hari keempat menekankan Breeding & Marker-Assisted Selection (MAS). Dr. Derek Barchenger (WorldVeg) menjelaskan peran diagnostik dalam pemuliaan tanaman, strategi MAS, serta studi kasus resistensi penyakit pada cabai. Derek menekankan terdapat tantangan adaptasi lapangan dengan strategi implementasi pipeline seleksi.
Selanjutnya di hari kelima berfokus pada kesehatan benih dan strategi pengelolaan hama terpadu. Topik ini dipaparkan oleh Dr. Ram Khadka, Dr. Lourena Maxwell dan Prof. Ani Widiastuti. Mereka menekankan bahwa mendeteksi patogen yang terbawa benih serta penerapan uji kesehatan benih merupakan aspek penting dalam penjaminan mutu produksi benih hortikultura.Kemudian dilanjutkan dengan sesi IPM yang memperkenalkan agen hayati seperti Trichoderma, Bacillus, Beauveria, dan Metarhizium, dengan diskusi terbuka mengenai paket IPM lintas komoditas.
Pada hari terakhir, peserta mengunjungi lahan Bapak Pulung Widi Handoko, S.P., petani cabai yang juga alumni Departemen Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian UGM, di wilayah Magelang, untuk menyaksikan penerapan IPM secara nyata dan berdiskusi langsung mengenai tantangan hama serta solusi berbasis agen hayati.
Di kegiatan penutupan pelatihan, Dr. Lourena Maxwell menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin selama pelatihan. Ia juga mengucapkan rasa terima kasih kepada tim UGM atas sambutan hangat sejak hari pertama. “Kita berharap akan kolaborasi ini g terus berlanjut, serta menyampaikan apresiasi kepada tim mahasiswa, dan peneliti yang berperan dalam kesuksesan kegiatan ini,” pungkasnya.
Penulis : Jesi
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Faperta UGM
