Di tengah dunia kerja yang semakin kompetitif dan penuh dengan tekanan, organisasi mulai dituntut untuk mencapai target kinerja tinggi tanpa mengacuhkan kesejahteraan para pekerjanya. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan karyawan tetap merasa bahagia, berkembang, dan produktif di saat banyaknya tuntutan pekerjaan.
Hasil Riset Guru Besar Departemen Manajemen, bersama tim Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM Prof. Dra. Reni Rosari, M.B.A., menyebutkan bekerja berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan. Hasil dari penelitiannya yang melibatkan lebih dari 400 karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia. menunjukkan individu memiliki kecenderungan workaholic justru dapat merasakan tingkat kebahagiaan kerja yang lebih tinggi ketika mereka mengalami thriving at work, artinya, selama pekerjaan tersebut memiliki kesempatan untuk berkembang di lingkungan yang positif, kerja keras dapat menjadi sumber makna dan kepuasan. “Bekerja keras tidak selalu identik dengan penderitaan. Dalam konteks budaya kolektivitas seperti Indonesia, kerja keras bisa menjadi sumber makna, selama ada rasa berkembang dan dukungan dari pemimpin yang inklusif,” paparnya, Jumat (5/6).
Melalui riset yang berjudul “Inclusive Leadership and Workplace Happiness: Thriving as Mediator and Workaholism as Moderator in Indonesia”, ia mengkaji peran kepemimpinan inklusif dalam menciptakan kebahagiaan kerja di tengah budaya kerja yang cenderung menuntut dedikasi tinggi.
Reni mengungkapkan realitas organisasi di Indonesia memiliki karakteristik yang unik. Struktur organisasi yang hirarkis, target kerja yang tinggi, serta budaya kerja yang keras kerap dipandang sebagai bentuk loyalitas. Hal ini membuat kepemimpinan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk pengalaman kerja karyawan. “Dalam konteks seperti ini, kepemimpinan bukan hanya soal mencapai hasil, tetapi juga tentang bagaimana manusia diperlukan dalam proses mencapai hasil tersebut. Di sinilah, konsep inclusive leadership menjadi penting,” jelasnya dalam Program Research Series bertajuk Kepemimpinan Inklusif dan Kebahagiaan di Tempat Kerja.
Reni menjelaskan bahwa konsep inclusive leadership merupakan gaya kepemimpinan yang terbuka, adil, mudah diakses, dan secara aktif melibatkan karyawan dalam proses kerja. Menurutnya, pimpinan yang inklusif bukan sekadar baik, tetapi juga menciptakan rasa aman secara psikologis, di mana setiap individu merasa dihargai dan didengar. “Menariknya, kepemimpinan inklusif tidak langsung membuat karyawan bahagia. Ada mekanisme psikologis penting, yaitu thriving work,” ungkapnya.
Thriving merupakan kondisi ketika individu tidak hanya produktif, tetapi juga merasa terus berkembang dan mengalami pertumbuhan dalam pekerjaannya. Reni menjelaskan, salah satu temuan menarik dalam penelitiannya berkaitan dengan fenomena workaholism, yaitu kecenderungan bekerja secara berlebihan. Dalam banyak penelitian, workaholism umumnya dikaitkan dengan stres, kelelahan, dan burnout dalam bekerja. Namun, di Indonesia, workaholism tidak selalu berkonotasi negatif. “Budaya kolektivitas membuat kerja keras sering dianggap sebagai bentuk dedikasi, loyalitas, bahkan nilai moral,” ujarnya.
Reni juga menyebutkan bahwa bekerja berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan. Hasil dari penelitian menunjukkan individu memiliki kecenderungan workaholic justru dapat merasakan tingkat kebahagiaan kerja yang lebih tinggi ketika mereka mengalami thriving at work, artinya, selama pekerjaan tersebut memiliki kesempatan untuk berkembang di lingkungan yang positif, kerja keras dapat menjadi sumber makna dan kepuasan. “Bekerja keras tidak selalu identik dengan penderitaan. Dalam konteks budaya kolektivitas seperti Indonesia, kerja keras bisa menjadi sumber makna, selama ada rasa berkembang dan dukungan dari pemimpin yang inklusif,” paparnya.
Lebih lanjut, Reni mengatakan pemimpin organisasi memiliki peran yang cukup krusial. Kehadiran pemimpin penting untuk memastikan bahwa ada keadilan, dukungan, dan ruang untuk bertumbuh di balik tuntutan yang tinggi. Ia berharap temuan dari penelitiannya tersebut dapat memberikan implikasi penting bagi organisasi.
Namun upaya untuk meningkatkan kebahagiaan kerja tidak cukup dilakukan melalui penyediaan fasilitas atau insentif semata. Organisasi perlu membangun kualitas relasi yang sehat antara pemimpin dan karyawan. Bagi individu, penelitian ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan di tempat kerja tidak selalu berarti bekerja lebih sedikit, tetapi kebahagiaan dapat muncul ketika pekerjaan dapat memberikan kesempatan untuk belajar, berkembang, dan menemukan makna dalam setiap kontribusi yang diberikan. “Pada akhirnya, inclusive leadership mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi juga mendalam. Ketika manusia diberi ruang untuk bertumbuh, bahkan kerja keras sekalipun bisa menjadi sumber kebahagiaan,” tutupnya.
Kontributor : Najwa dan Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB UGM
Penulis : Diyana Khairunnisa
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Magnific
