Perasaan penuh haru diungkapkan oleh Yesita Vera Saraswati setelah dinobatkan menjadi wisudawan termuda untuk Program Doktor pada wisuda pascasarjana periode IV. Ia tak menyangka perjalanannya selama 3 tahun 9 bulan 10 hari terbayarkan dengan meraih IPK 3,99. Berhasil menyelesaikan Program Studi Doktor Ilmu Peternakan dengan predikat Cumlaude di usia 27 tahun 10 bulan 8 hari. Ia dinobatkan sebagai lulusan termuda pada wisuda program pascasarjana UGM pada Rabu (23/7) lalu di Grha Sabha Pramana. Padahal rerata usia 90 lulusan Program Doktor termasuk satu warga negara asing, serta 19 lulusan periode sebelumnya.adalah 42 tahun 6 bulan 16 hari.
Perjalanan yang ditempuh oleh gadis asal Klaten ini untuk meraih gelar Doktor tidaklah mudah. Ia mengaku selama menyelesaikan studinya, banyak menghabiskan emosi, energi, dan tenaga sehingga perjuangan tersebut tidaklah mudah. “Rasanya luar biasa. Ada perasaan lega ketika segala sesuatu yang dulunya terasa sangat berat akhirnya terbayar setelah lulus,” ungkapnya, Selasa (28/7).
Perempuan yang akrab disapa Sita ini mengungkapkan jika selama ia melakukan penelitian disertasi yang harus dilakukan di lapangan, ia juga meng-handle sekitar 70-80 mahasiswa S1 dan S2 yang dikelola sejak awal ia masuk tim sampai sekarang. “Dinamikanya tidak hanya pada diri saya sendiri, tetapi bagaimana saya melakukan manajerial tim dari berbagai laboratorium, sementara di sisi lain saya juga harus tetap menyusun disertasi untuk keperluan studi pribadi saya,” terangnya.
Program doktor yang Sita jalani ini merupakan program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Sebelumnya, tidak terlintas dalam pikiran Sita untuk melanjutkan studi melalui program ini, sebab pada waktu itu masih masa pandemi. “Sebenarnya saya tidak kepikiran sebelumnya karena waktu itu masih masa Covid. Akhirnya saya melanjutkan S2 dan S3 melalui program PMDSU di Fakultas Peternakan UGM,” jelasnya.
Menuntaskan studinya dengan disertasi yang berjudul “Studi Karakteristik Eksterior dan Genetik Ayam Lokal dan Persilangannya”, fokus penelitian ini adalah mengenai pembentukan ayam lokal Galur Baru.
Dalam riset ini, Sita dan tim melihat potensi genetik dari ayam-ayam lokal di Indonesia yang saat ini ada segmen pasar tersendiri yang bisa dimanfaatkan. Karena menjadi salah satu sumber protein hewani dibandingkan dengan daging lain, sehingga kedepannya mampu membantu program pemerintah dalam menyokong kebutuhan protein hewani di Indonesia. “Jadi kami berusaha untuk melakukan perbaikan mutu genetik ayam lokal melalui persilangan dan seleksi sampai saat ini sudah mencapai generasi kelima,” jelasnya. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat dilakukan hilirisasi untuk dikomersialisasikan di masyarakat.
Sita mengaku penelitian tersebut bukanlah suatu hal yang mudah. Data penelitian yang sangat banyak serta berbagai trial and error yang terjadi merupakan kesulitan yang harus dihadapi selama masa penelitian. Ia mengungkapkan bahwa proses pengambilan datanya juga cukup panjang. Sita dan tim harus mengawinkan dan menyilangkan ayam, memeliharanya sampai umur sekitar 32 minggu, lalu mengawinkannya kembali untuk generasi selanjutnya. Proses dari telur hingga ayam dewasa ini dilakukan sampai generasi kedua untuk kebutuhan datanya. Selain itu, tantangan lainnya adalah manajerial tim dari berbagai minat lain, seperti daging, telur, susu, dan nutrisi yang turut diambil datanya. “Jadi saya bisa belajar bagaimana memanajemen waktu sekaligus orang-orang yang bergabung di dalam tim, sembari juga tetap menjalin relasi dan mencari pendanaan dan sebagainya,” ungkap Sita.
Selama menempuh studi doktor ini, Sita tak hanya menjalankan kuliah saja. Banyak penelitian dan kegiatan sosial, seperti organisasi di kampus, turut dijalankan secara bersamaan. Dari menghasilkan publikasi dan hak cipta dalam bentuk poster hingga mengikuti kegiatan kesenian seperti karawitan dilakukan oleh Sita selama ia menjadi mahasiswa pascasarjana. “Bagi saya, di samping studi, kita harus tetap menjalin relasi sosial yang baik dengan orang lain dan menyeimbangkan kesenangan agar hidup tetap seimbang,” ungkapnya.
Untuk rencana kedepan, Sita berkeinginan menjadi akademisi atau dosen. Ia mengungkapkan bahwa keinginan ini telah muncul sejak SMA. Sebab, di lingkungan kampung halamannya banyak anak kecil dan ia senang mengumpulkan dan mengajak mereka untuk belajar bersama. Dari situ lah keinginannya untuk menjadi pengajar tumbuh. Ia berharap setelah mendapat gelar doktor ini, ia dapat menjadi pribadi yang lebih baik, mampu menjaga integritas dan loyalitas saat mendaftar menjadi dosen, serta terus memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. “Bagi saya, pembelajaran tidak akan pernah putus meskipun sudah menyelesaikan jenjang S3,” pungkasnya.
Penulis : Fatihah Salwa Rasyid
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Yesita
