Tim peneliti UGM, BRIN dan IDI Gunungkidul serta RS Panti Rahayu Gunungkidul mendorong masyarakat Paliyan, Gunungkidul memanfaatkan sumber daya pangan lokal yang melimpah di wilayahnya sebagai upaya meningkatkan asupan gizi, khususnya bagi kelompok yang paling rentan, yaitu ibu hamil dan balita. Ibu hamil menjadi sasaran utama kegiatan ini karena pencegahan stunting harus dilakukan sejak awal siklus kehidupan. Kegiatan edukasi ini diselenggarakan sebagai upaya pencegahan stunting yang tidak hanya berfokus pada anak tetapi juga pada kesehatan dan status gizi ibu.
“Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan tumbuh kembang anak, sehingga dukungan terhadap kesehatan dan kecukupan gizi ibu hamil menjadi salah satu investasi terbaik untuk mencegah stunting di masa depan,” jelas Digna Niken Purwaningrum, S.Gz., MPH., Ph.D., selaku ketua program pengabdian dari FK-KMK UGM, Rabu (22/7).
Digna memaparkan bahwa program ini memanfaatkan dua komoditas yang dekat dengan kehidupan masyarakat Paliyan, yaitu tempe dan pisang. Tempe merupakan sumber protein nabati berkualitas tinggi yang kaya protein, zat besi, kalsium, seng, folat, vitamin B, serta senyawa bioaktif seperti isoflavon dan peptida bioaktif hasil fermentasi yang memiliki aktivitas antioksidan dan mendukung pertumbuhan. Sementara itu, pisang Utri menyediakan karbohidrat sebagai sumber energi, serat pangan, kalium, vitamin B6, vitamin C, serta senyawa fenolik yang berperan sebagai antioksidan.
Digna menuturkan, pihaknya melakukan serangkaian penelitian dan analisis kandungan gizi yang dilakukan oleh Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN, kedua bahan tersebut diformulasikan menjadi produk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang sesuai dengan kebutuhan gizi ibu hamil berisiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan anemia. “Kombinasi zat gizi makro, mikronutrien, dan senyawa bioaktif dari tempe dan pisang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan gizi ibu menyusui dan anak sebagai upaya pencegahan stunting melalui pola makan bergizi seimbang,” paparnya.
Memasuki tahun kedua pada 2026, program pengabdian ini diperluas sasarannya dengan menambah lima kalurahan baru yaitu Giring, Grogol, Mulusan, Pampang, dan Sodo. Fokus program juga berkembang dari ibu hamil menjadi ibu menyusui melalui edukasi mengenai gizi pasca persalinan, ASI eksklusif, dan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat. “Sepanjang 2025, kami berhasil mengembangkan PMT berbasis tempe dan pisang, melatih para kader, dan mendistribusikannya 24 kali kepada 51 ibu hamil di tujuh desa wilayah Puskesmas Paliyan,” ungkap Digna.
Untuk menandai dimulainya pelaksanaan tahun kedua, FK-KMK UGM bersama para mitra menyelenggarakan Kick-Off Meeting Program Pengabdian Masyarakat bertajuk “Penguatan dan Perluasan Program Gizi Berbasis Pangan Lokal: Pendekatan Peer Trainer dan Kader untuk Ibu Hamil dan Menyusui” pada 7 Mei 2026 di Balai Kapanewon Paliyan, Gunungkidul. Pada pertemuan ini, disepakati pula strategi implementasi yang akan dilakukan pada tahun ini sekaligus memperkuat komitmen lintas sektor dalam mendukung pencegahan stunting berbasis masyarakat.
Digna mengatakan bahwa salah satu inovasi utama yang dikembangkan untuk tahun kedua adalah pendekatan peer trainer. Model pembelajaran berbasis komunitas yang melibatkan kader dan ibu binaan tahun pertama sebagai pelatih bagi kader baru di wilayah perluasan. Pendekatan ini dinilai efektif karena pengetahuan disampaikan oleh sesama anggota komunitas yang memahami konteks lokal dan tantangan sehari-hari masyarakat. “Selain mempercepat transfer pengetahuan, pendekatan peer trainer juga memperkuat rasa kepemilikan masyarakat terhadap program sehingga mereka dapat menjalankan program secara mandiri, tutur Digna.
Bagi Digna keberlanjutan sebuah program akan lebih bermakna apabila dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di masyarakat dan dilakukan melalui kolaborasi yang kuat. Oleh karena itu, tim FK-KMK siap untuk terus bekerja sama dalam berbagai upaya peningkatan status gizi ibu hamil, ibu menyusui, balita, maupun kelompok rentan lainnya melalui inovasi-inovasi berbasis masyarakat.
Kedepannya, Digna berharap kegiatan ini dapat menjadi salah satu contoh bahwa pangan lokal yang tersedia di masyarakat memiliki potensi besar untuk mendukung upaya pencegahan stunting. Melalui pengolahan yang tepat, bahan pangan lokal dapat menjadi makanan yang lezat, bergizi, dan sesuai dengan kebutuhan ibu hamil, termasuk bagi mereka yang sering mengalami penurunan nafsu makan selama kehamilan. Ia juga berharap inovasi ini dapat dimanfaatkan sebagai menu PMT, direplikasi oleh kader di wilayah lain, bahkan membuka peluang untuk mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat. “Saya berharap kolaborasi yang baik ini dapat terus berlanjut dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat di masa mendatang,” harapnya.
Reportase : Nofathana Saputra dan Muhammad Ilham Gibran/FK-KMK
Penulis : Jesi
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok.Tim Pengabdian FK-KMK dan magnific
