Universitas Gadjah Mada mendorong penguatan ketahanan ekonomi daerah melalui pengembangan ekosistem Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur yang diperkenalkan dalam Wonosobo Economic Forum 2026 pada 14 Juni silam. Forum yang mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, organisasi profesi, hingga UMKM tersebut menjadi ruang diskusi untuk merumuskan strategi pembangunan ekonomi berbasis potensi lokal. Melalui kegiatan ini, UGM menawarkan pendekatan kolaboratif yang menghubungkan berbagai pemangku kepentingan dalam satu ekosistem pemberdayaan masyarakat. Beragam isu strategis dibahas, mulai dari penguatan UMKM, peningkatan daya saing produk lokal, hingga pengembangan ekonomi berkelanjutan. Kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara lebih inklusif dan berkelanjutan.
Mewakili Bupati Wonosobo, Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo, Drs. One Andang Wardoyo, M.M., menyampaikan bahwa pembangunan ekonomi daerah membutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat. Menurutnya, Wonosobo memiliki potensi besar di sektor pertanian, pariwisata, dan UMKM yang perlu terus diperkuat melalui inovasi dan peningkatan kapasitas pelaku usaha. Ia menilai forum seperti ini penting untuk mempertemukan berbagai gagasan dan pengalaman dari berbagai pihak. Selain menjadi ruang diskusi, forum juga diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang dapat diimplementasikan secara nyata. “Kami berharap forum ini dapat melahirkan langkah-langkah konkret yang mampu memperkuat ketahanan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Salah satu narasumber utama dalam forum ini adalah Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D., dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM sekaligus penggagas konsep G2R Tetrapreneur. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa penguatan ekonomi daerah tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga perlu memperkuat ekosistem yang mendukung pertumbuhan usaha secara berkelanjutan. Menurutnya, banyak pelaku UMKM memiliki produk yang baik, tetapi masih menghadapi kendala dalam pengelolaan usaha dan pengembangan pasar. Karena itu, diperlukan pendekatan yang mampu menghubungkan berbagai aktor pembangunan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. “Yang perlu didorong bukan sekadar UMKM naik kelas, tetapi bagaimana mereka dapat tumbuh secara bertahap dan berkelanjutan sesuai kapasitasnya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Rika menjelaskan bahwa G2R Tetrapreneur dikembangkan sebagai model pemberdayaan yang mengintegrasikan empat unsur utama, yakni rantai bisnis, rantai pasok, kualitas sumber daya manusia, dan dukungan kelembagaan. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan ekonomi dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki daerah masing-masing. Melalui model tersebut, UMKM tidak berjalan sendiri, melainkan didukung oleh berbagai pihak yang memiliki peran berbeda namun saling terhubung. Ia menilai keberhasilan pembangunan ekonomi tidak dapat dicapai hanya melalui intervensi satu sektor saja. “Ketika seluruh unsur dalam ekosistem bergerak bersama, maka ketahanan ekonomi akan tumbuh lebih kuat dan manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rika juga memaparkan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) G2R Tetrapreneur sebagai instrumen untuk memperkuat pengembangan usaha berbasis masyarakat. Standar ini dirancang untuk membantu pelaku usaha mengidentifikasi posisi dan kebutuhan pengembangan usahanya secara lebih terukur. Kehadiran standar tersebut diharapkan dapat menjadi panduan bagi pemerintah daerah maupun pendamping UMKM dalam menyusun program yang lebih tepat sasaran. Selain meningkatkan kualitas usaha, pendekatan ini juga mendukung penguatan ekonomi lokal yang berlandaskan nilai gotong royong. “SNI G2R Tetrapreneur memberikan kerangka yang lebih jelas agar pengembangan UMKM dapat dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan,” katanya.
Rika turut menyoroti peluang penguatan ekonomi daerah melalui program-program strategis pemerintah yang melibatkan produk lokal. Menurutnya, kebutuhan pangan, jasa, maupun produk olahan yang terus meningkat dapat menjadi kesempatan bagi UMKM untuk memperluas pasar. Namun peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan jika pelaku usaha memiliki kapasitas produksi, kualitas produk, dan tata kelola yang memadai. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi pelaku usaha perlu berjalan beriringan dengan pembukaan akses pasar yang lebih luas. “Potensi ekonomi lokal akan berkembang lebih cepat ketika masyarakat mampu menangkap peluang dan didukung oleh ekosistem yang sehat,” tuturnya.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Wonosobo, Dwi Sukatman, S.Bns., menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam memperkuat daya saing daerah. Menurutnya, dunia usaha membutuhkan kepastian arah kebijakan sekaligus dukungan ekosistem yang mampu mendorong pertumbuhan investasi dan pengembangan usaha. Ia menyebut keberadaan forum seperti Wonosobo Economic Forum penting untuk mempertemukan berbagai kepentingan dalam satu ruang dialog yang konstruktif. Sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas dinilai dapat mempercepat lahirnya berbagai inovasi ekonomi. “Kemajuan ekonomi daerah hanya dapat dicapai apabila seluruh pihak bergerak bersama dan saling menguatkan sesuai perannya masing-masing,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan UMKM Agradaya, Asri Sarawati, membagikan pengalaman dalam mengembangkan produk rempah dan hasil olahan masyarakat agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Ia menjelaskan bahwa tantangan utama yang masih dihadapi pelaku UMKM adalah menjaga konsistensi kualitas produk, memenuhi standar pasar, dan memperluas akses pemasaran. Menurutnya, pendampingan yang berkelanjutan sangat diperlukan agar pelaku usaha mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang. Ia juga menilai kolaborasi dengan perguruan tinggi dan pemerintah memberikan banyak manfaat bagi pengembangan usaha masyarakat. “Yang paling kami butuhkan adalah pendampingan yang berkelanjutan agar UMKM mampu berkembang dan memiliki daya saing yang lebih kuat,” harapnya.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta yang berasal dari kalangan pengusaha muda, organisasi profesi, akademisi, dan pelaku UMKM. Sejumlah peserta menyoroti strategi pengembangan usaha, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta peluang ekspansi pasar bagi UMKM lokal. Pembahasan juga mencakup tantangan peningkatan skala usaha agar mampu tumbuh secara berkelanjutan tanpa kehilangan karakter dan kekuatan lokalnya. Berbagai masukan yang muncul selama forum menjadi bahan refleksi bersama dalam merumuskan strategi pembangunan ekonomi daerah yang lebih inklusif. Melalui forum ini, para pemangku kepentingan berharap lahir kolaborasi yang semakin kuat untuk mendorong ketahanan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Wonosobo.
Penulis: Triya Andriyani
