Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada ikut mendukung penyediaan akses air bersih berkelanjutan bagi masyarakat Padukuhan Gemawang, Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, melalui program HK WASH Infra (Water, Sanitation, and Hygiene Infrastructure). Program ini merupakan bagian dari inisiatif “Nandur Tuk Banyu” ini dilaksanakan melalui kolaborasi antara Yayasan Kinarya Anak Bangsa, PT Hutama Karya (Persero), dan tim teknis UGM sebagai upaya mendukung akses air bersih sekaligus konservasi sumber daya air.
Program HK WASH Infra secara resmi diserahterimakan kepada masyarakat Padukuhan Gemawang oleh Kepala Unit Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Hutama Karya (Persero), Dianita Saraswati. Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Sleman Harda Kiswaya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman Junaidi, perwakilan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Serayu Opak Progo, Pemerintah Kapanewon Mlati, Pemerintah Kalurahan Sinduadi, serta Founder Yayasan Kinarya Anak Bangsa Rosita Yuwanasari Suwardi Wibawa.
Dalam program ini, UGM melalui Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi berperan memberikan dukungan teknis mulai dari tahap perencanaan hingga pendampingan pelaksanaan. Sistem yang dikembangkan mencakup Instalasi Pemanen Air Hujan (IPAH) Gama Rain Filter yang dikombinasikan dengan teknologi Reverse Osmosis (RO), sinar ultraviolet (UV), serta pengelolaan sumber mata air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat setempat.
Tim teknis UGM yang terlibat dalam program ini terdiri atas Prof. Agus Maryono, Pratama Tirza Surya Sembada, M.Sc., Hendra Agus Herlambang, serta mahasiswa yang tergabung dalam Teaching Factory (TeFa) Water Resources and Rainwater Harvesting melalui skema Project Based Learning, yaitu Sandhy, Wichak, dan Aji.
Pratama Tirza Surya Sembada, M.Sc., Asisten Laboratorium dan Bengkel Kerja Hidrolika dan Lingkungan Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM, menjelaskan bahwa program ini berangkat dari hasil kajian mengenai kondisi sumber daya air di kawasan Gemawang. “Selama ini masyarakat memanfaatkan sumber mata air yang berada di Sungai Code untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, saat musim kemarau panjang, debit air cenderung menurun sehingga berdampak pada ketersediaan air bagi warga,” kata Tirza, Selasa (23/6).
Dikatakan Tirza, dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa air yang selama ini dikelola masyarakat telah terindikasi mengandung besi (Fe). Kondisi tersebut mendorong perlunya pengenalan sumber air alternatif yang memiliki kualitas baik dan tersedia secara berkelanjutan.“Secara perlahan, masyarakat diberi edukasi sumber air alternatif yang memiliki kualitas baik untuk mencukupi kebutuhan air sehari-hari mereka, yaitu dengan air hujan,” katanya.
Selain mendorong ketersediaan air bersih ketika memanen air hujan di wilayah dengan penduduk yang padat, tim UGM juga mengajak untuk mengurangi run off sehingga banjir dapat dimitigasi. Menurut Tirza, pemilihan teknologi IPAH Gama Rain Filter didasarkan pada pertimbangan ilmiah bahwa air hujan pada dasarnya memiliki kualitas yang baik apabila media penangkapnya, seperti atap bangunan, berada dalam kondisi bersih. Oleh karena itu, sistem IPAH Gama Rain Filter dilengkapi tiga tahapan filtrasi utama, yaitu penyaring daun, penyaring debu kasar, dan penyaring debu halus untuk memastikan kualitas air yang dihasilkan memenuhi standar air bersih. Dalam pengembangannya, sistem tersebut kemudian dikombinasikan dengan teknologi Reverse Osmosis (RO) dan sinar ultraviolet (UV) untuk menghilangkan bakteri serta partikel-partikel berukuran sangat kecil yang belum tersaring pada proses filtrasi awal.
“Air hujan sudah memiliki kualitas air yang bersih jika media tangkapnya, seperti atap, bersih. Oleh sebab itu, IPAH Gama Rain Filter dilengkapi tiga filtrasi utama, yaitu saringan penghalau daun, saringan debu kasar, dan saringan debu halus yang mampu membersihkan air hujan sehingga masuk dalam baku mutu air bersih hingga air minum,” jelas Tirza.
Tirza menuturkan bahwa optimalisasi pemanenan air hujan merupakan salah satu strategi penting untuk menciptakan ketersediaan sumber daya air yang berkelanjutan. Selain itu, program konservasi yang dijalankan melalui Nandur Tuk Banyu juga mencakup pembangunan sumur resapan, biopori, jogangan air, serta penanaman vegetasi konservasi guna menjaga keseimbangan siklus hidrologi.“Program nandur tuk banyu selaras dengan program SDGs no 6 yaitu Penyediaan Akses Air Bersih. Mengoptimalkan potensi air hujan dapat menjadi salah satu upaya dalam menciptakan ketersediaan sumber daya air yang berkelanjutan,” kata Tirza.
Sebagai pelopor Gerakan Memanen Hujan Indonesia (GMHI), UGM memandang program seperti HK WASH Infra sebagai bentuk implementasi nyata inovasi berbasis ilmu pengetahuan yang dapat menjawab tantangan pengelolaan sumber daya air di tingkat masyarakat.“Ke depan, tidak ada lagi daerah yang ketika musim penghujan mengalami banjir, tetapi ketika kemarau butuh bantuan air,” tambah Tirza.
Founder Yayasan Kinarya Anak Bangsa, Rosita Yuwanasari Suwardi Wibawa, mengatakan bahwa program ini membawa semangat inisiatif “Nandur Tuk Banyu” yang terdaftar sebagai SDGs Action #51577. Menurutnya, program tersebut tidak hanya berfokus pada penyediaan akses air bersih, tetapi juga pada upaya konservasi lingkungan melalui perlindungan dan pemeliharaan sumber mata air serta penanaman pohon di kawasan hulu dan hilir.
Sementara itu, Kepala Unit TJSL PT Hutama Karya (Persero), Dianita Saraswati, menegaskan bahwa program HK WASH Infra merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menghadirkan infrastruktur yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Bupati Sleman Harda Kiswaya mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara dunia pendidikan, sektor industri, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadirkan solusi atas kebutuhan dasar warga. “Program ini sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Sleman dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui penyediaan infrastruktur dasar yang memadai,” ujarnya.
Melalui kolaborasi multipihak tersebut, program HK WASH Infra di Padukuhan Gemawang menjadi contoh penerapan inovasi berbasis ilmu pengetahuan untuk mendukung akses air bersih, konservasi lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Yayasan Kinarya Anak Bangsa
