Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., meresmikan Gedung C Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM yang diperuntukkan sebagai Laboratorium Bahasa dan Pusat Pengembangan Riset Humaniora. Peresmian tersebut berlangsung bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia dan dihadiri oleh pimpinan universitas, jajaran pimpinan FIB UGM, guru besar, sivitas akademika, serta pimpinan PT Waskita Karya selaku kontraktor pembangunan gedung, Sabtu (17/8).
Gedung C FIB UGM diharapkan menjadi fasilitas yang mendukung pengembangan riset dan kegiatan akademik di bidang humaniora, meliputi sejarah, linguistik, sastra, arkeologi, antropologi, hingga kajian pariwisata. Keberadaan fasilitas baru tersebut juga menjadi bagian dari upaya FIB UGM memperkuat perannya dalam pengembangan keilmuan dan kebudayaan di lingkungan UGM.
Dalam sambutannya, Rektor UGM Ova Emilia menyampaikan bahwa keberadaan gedung baru perlu diiringi dengan pemanfaatan fasilitas secara optimal oleh sivitas akademika. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan, keamanan, dan kenyamanan lingkungan gedung, termasuk mempertahankan ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH). “RTH adalah aset bagi kelangsungan ekologi, kesehatan lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat sehingga tercipta ruang akademik yang sehat dan kondusif bagi proses pembelajaran,” tegasnya.
Sementara itu, Dekan FIB UGM, Prof. Dr. Setiadi, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa peresmian Gedung C tidak sekadar menandai selesainya pembangunan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan panjang FIB UGM yang tahun ini memasuki usia 80 tahun.
Menurutnya, pembangunan Gedung C merupakan bagian dari masterplan pembangunan kampus FIB UGM yang telah disusun sejak 2014. Pembangunan tersebut dilakukan secara bertahap sebagai upaya mewujudkan lingkungan kampus yang terintegrasi sekaligus memperkuat fasilitas pendukung kegiatan akademik.
“Pembangunan Gedung C sendiri merupakan bagian dari masterplan pembangunan kampus FIB UGM yang telah dibuat pada tahun 2014 hingga pada akhirnya satu per satu elemen penyusun kampus semakin terwujud,” tuturnya.
Setiadi turut menyampaikan laporan mengenai pembiayaan pembangunan gedung. Setelah mengalami adendum final pada 22 Juli 2026, berdasarkan keputusan Rektor UGM, nilai kontrak maksimal yang diizinkan untuk menyelesaikan pembangunan Gedung C mencapai Rp127,22 miliar. Nilai tersebut mencakup tambahan sekitar 12,5 persen atau Rp14 miliar untuk pengembangan sejumlah fasilitas penting yang diperlukan dalam mendukung operasional fakultas.
Ia menjelaskan, pendanaan pembangunan gedung berasal dari akumulasi anggaran atau sisa lebih pembiayaan anggaran (SILPA) yang dikelola sesuai dengan standar biaya UGM, serta dukungan dana hibah UGM sebesar Rp10 miliar.
Pembangunan Gedung C juga diarahkan untuk mendukung transformasi FIB UGM. Setiadi mengatakan, FIB tidak hanya ingin berfokus pada produksi riset, artikel, dan buku, tetapi juga mendorong sivitas akademika menghasilkan karya yang dapat memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat. “FIB UGM ingin bertransformasi, memberikan kesempatan kepada civitas akademika untuk menghasilkan banyak karya-karya yang lebih langsung bisa dinikmati oleh masyarakat seluruh Indonesia. Karena itu, di lantai tujuh misalnya, kami sediakan nanti ruang DKV, ada multimedia yang cukup representatif untuk mengembangkan kajian-kajian digital,” tambahnya.
Selain Laboratorium Bahasa dan Pusat Bahasa, Gedung C dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung, seperti selasar, ruang pameran, auditorium, co-working space, dan amphitheater. Fasilitas tersebut diharapkan dapat menunjang aktivitas pembelajaran, penelitian, kolaborasi, serta pengembangan karya sivitas akademika FIB UGM.
Peresmian Gedung C ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Rektor UGM. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata berupa Kayon Sekartaji, tokoh perempuan dalam mitologi Panji yang dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam pertunjukan wayang gedhog.
Kayon Sekartaji tersebut merepresentasikan sosok perempuan yang memiliki peran penting sebagai pasangan ksatria protagonis sekaligus simbol rahim peradaban yang melahirkan para pemimpin tanah Jawa dan Nusantara. Pemberian simbol tersebut diharapkan dapat menjadi nilai yang dijiwai oleh seluruh sivitas akademika UGM. Sebelumnya, rangkaian peresmian diawali dengan tarian penyambutan flashmob oleh sivitas akademika FIB UGM. Acara dilanjutkan dengan prosesi gunting pita oleh Rektor UGM, Dekan FIB UGM, dan pimpinan PT Waskita Karya, kemudian ditutup dengan tur Gedung C.
Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie dan Dok. FIB
