Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada baru saja meluncurkan Pusat Pengembangan Bahasa untuk Kompetensi, Komunikasi, dan Bisnis pada Rabu (29/7) di gedung Teaching Industry Learning Center (TILC). Hal ini dimaksudkan untuk memastikan dan mempercepat agar lulusan vokasi dapat terserap ke pasar kerja internasional melalui penguasaan bahasa global dan budaya kerja.
Dekan Sekolah Vokasi UGM, Prof. Dr. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng., dalam pembukaannya menjelaskan bahwa ia menginginkan Sekolah Vokasi menciptakan dampak yang besar dan Gedung TILC dapat dikembangkan menjadi pusat bahasa, bukan sekadar kursus bahasa, tetapi juga untuk bahasa komunikasi profesional dan bisnis. “Dulu kursus bahasa Inggris difokuskan untuk dosen yang mau sekolah ke luar negeri. Sekarang eranya berbeda; bahasa ditujukan untuk komunikasi bisnis dan bekerja bagi mahasiswa,” jelasnya.
Ia pun berharap bahwa dengan kemampuan bahasa asing ini, para lulusan UGM dapat berdaya saing global dan mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan serta mendapatkan pekerjaan yang lebih luas. Terlebih dengan fakta bahwa banyak negara di luar yang membutuhkan sumber daya manusia, Indonesia memiliki hal tersebut. Ia memberikan contoh Taiwan dan Jepang yang saat ini membutuhkan puluhan ribu pekerja terampil. “ Keduanya menyukai tenaga kerja dari Indonesia karena tiga hal, yaitu patuh pada aturan, daya tahan (endurance) serta kerja samanya tinggi. Ini kekayaan yang luar biasa,” ujarnya.
Hal selaras diungkapkan oleh Dr. Ir. Wiryanta, S.T., M.T. selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Vokasi UGM. Wiryanta menegaskan bahwa banyak mitra dari luar negeri seperti Taiwan, Tiongkok, dan Jepang yang mencari pekerja di Indonesia. Oleh karena itu, penguasaan bahasa asing seperti Mandarin dan Jepang menjadi penting, selain bahasa Inggris. “Dengan kondisi seperti itu, salah satu aksi strategisnya adalah penguasaan bahasa ini harus kita dorong. Mudah-mudahan dengan semangat launching dari Pusat Bahasa untuk Kompetensi, Komunikasi, dan Bisnis di Sekolah Vokasi ini, menjadi langkah awal dan spirit kita untuk menggapai peluang bekerja di luar negeri,” harapnya.
Lebih lanjut, ia pun menjelaskan bahwa selama ini ada 3 kelemahan utama untuk mendapatkan peluang kerja di luar negeri. Ketiga hal tersebut adalah kelemahan dalam bahasa, gap kompetensi, dan permasalahan yang ada pada masyarakat sendiri.
Direktur Intact (International Talent Circulation) Base (Taiwan-Indonesia) Bangka Belitung, Supriyantono, B.A., M.B.A., memaparkan tentang program INTENSE (International Industrial Education Special Program) yang juga menjadi bagian dari kerja sama peluncuran Pusat Pengembangan Bahasa ini. Intactbase merupakan kantor perwakilan yang diberikan mandat oleh Ministry of Education Taiwan untuk mempromosikan Beasiswa INTENSE.
Program INTENSE ini menyiapkan para penerima beasiswanya secara profesional untuk bisa langsung bekerja di Taiwan dengan fokus pada bidang STEM, semikonduktor, dan finansial, dengan skema beasiswa full funding. Beasiswa ini didukung oleh 3 pilar di Taiwan, yaitu pemerintah, perusahaan, dan kampus. Pada tahun ini tercatat ada 46 mahasiswa dari UGM yang lulus dari program beasiswa INTENSE.
Selain mendapatkan biaya hidup, visa yang didapat pun merupakan visa tenaga profesional, serta ada 150 kampus di Taiwan yang dapat dipilih oleh para calon pendaftar dari semua jenjang pendidikan dari D3 sampai dengan S3. Dalam prosesnya, Intact Base juga menyediakan kelas bahasa Mandarin gratis sebagai penguatan kemampuan para pendaftar dan calon penerima beasiswa INTENSE. “Untuk persiapan, kami membuka Kelas Pengantar Bahasa Inggris dan Kelas Pengantar Bahasa Mandarin. Kalau kalian belajar bahasa Mandarin, otomatis saat interview peluang lulusnya lebih tinggi,” jelasnya.
Seperti diketahui, Sekolah Vokasi membuka Program Pelatihan Bahasa Inggris dan juga Bahasa Jepang. Kedua kurikulum program ini disesuaikan dengan kebutuhan industri yang terkini dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Tak hanya itu, Program Pelatihan Bahasa Jepang pun menawarkan pengalaman belajar yang lebih dari sekadar teori, tetapi juga bagaimana menggunakan bahasa Jepang tersebut sesuai dengan konteks profesional. Program yang ditawarkan yaitu persiapan kerja dan persiapan studi.
Penulis/Foto : Leony
Editor : Gusti Grehenson
