Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan, Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam mempertahankan dan mengembangkan kehidupan demokrasi. Sosiolog UGM UGM, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., mengatakan bahwa perjalanan demokrasi Indonesia selama hampir tiga dekade telah menghasilkan berbagai capaian pascaotoritarianisme. Namun, Arie mengakui, bangunan demokrasi yang dirancang sejak awal Reformasi tidak selalu mudah dijalankan di tengah perubahan situasi kebangsaan.
Menurut Arie, berbagai persoalan Republik perlu ditempatkan sebagai persoalan bersama. Forum akademik, sambungnya, menjadi salah satu ruang untuk menghimpun kembali gagasan-gagasan yang tersebar di berbagai kelompok masyarakat dan mendiskusikannya sebagai bagian dari upaya membaca masa depan Indonesia. “Sehari-hari kita berdiskusi tentang persoalan-persoalan Republik yang tentu menjadi perhatian kita bersama. Perlu kita ingat, kampus adalah benteng moral terakhir dalam menjaga marwah demokrasi. Kampus harus berani mengatakan mana yang benar dan tidak,” kata Arie dalam diskusi Panel Republik yang bertajuk Krisis, Transisi, dan Masa Depan Republik yang diselenggarakan di Auditorium Lantai 4 FISIPOL UGM, Jumat (14/8).
Kepala Laboratorium Indonesia 2045 (LAB 45), Jaleswari Pramodhawardani, M.Hum., menilai kondisi demokrasi Indonesia melalui gagasan tentang pembusukan politik. Meminjam pemikiran Francis Fukuyama, Jaleswari menggambarkan bahwa Indonesia hari ini sedang dalam kondisi pelemahan institusi yang berlangsung secara perlahan, sementara prosedur demokrasi tetap berjalan secara normal.
Ia mencontohkan, pemilu tetap diselenggarakan, pidato kenegaraan tetap dibacakan, dan berbagai prosedur demokrasi tetap berlangsung. Namun, bersamaan dengan itu, kemampuan Republik untuk melakukan koreksi terhadap dirinya sendiri justru mengalami pelemahan. “Republik ini tidak kekurangan program, ia kehilangan kemampuan mengoreksi dirinya sendiri,” ujar Jaleswari.
Tak lupa, ia juga kemudian menyimpulkan bahwa persoalan Indonesia saat ini bukanlah krisis pada satu sektor. Baginya, krisis ekonomi, relasi sipil militer, media, lingkungan, dan generasi mendatang saling berkelindan, sementara prosedur demokrasi tetap terlihat berjalan normal. “Ini pembusukan yang berjalan sistematis di lima organ, yakni ekonomi, sipil-militer, kondisi media sekarang, lingkungan, dan generasi yang akan datang tentu bakal mewarisi ini semuanya,” jelasnya.
Sementara itu, Dosen Departemen Sosiologi FISIPOL UGM, Dr. Andreas Budi Widyanta, S.Sos., M.A., mengatakan persoalan yang terjadi hari ini, lanjutnya, berkaitan dengan akumulasi kekuasaan dan konsentrasi sumber daya di tangan segelintir elite politik dan bisnis. Dampaknya jelas terlihat melalui ketimpangan ekonomi, politik, dan ekologis yang semakin berat ditanggung masyarakat. Untuk merespons hal ini, Andreas menunjukkan bahwa penting untuk membangun kekuatan counter-hegemony agar masyarakat memiliki kapasitas untuk mempertahankan Republik sebagai ruang bersama. “Republik ini dibangun oleh usaha bersama banyak orang,” kata Andreas.
Guru Besar Politik dan Pemerintahan UGM, Prof. Dr. Amalinda Savirani, S.IP., M.A., menilai kondisi demokrasi Indonesia saat ini tidak dapat dipahami semata-mata sebagai transisi dari sistem lama menuju sistem baru. Menurutnya, Indonesia saat ini tengah menghadapi polikrisis, yakni berbagai krisis yang berlangsung secara bersamaan. Situasi tersebut juga direspons melalui kebijakan-kebijakan populis yang dapat membuat masyarakat terbelah. “Contohnya MBG. Kalau saya kritik MBG, tetangga saya akan marah karena dia bekerja di MBG. Belum lagi kalo KDMP. Situasi inilah yang membuat kita sendiri terpecah,” papar Amalinda.
Di kondisi tersebut, Amalinda berpendapat bahwa masyarakat sipil memiliki peran penting. Ia melanjutkan, masyarakat sipil merupakan ruang untuk melakukan kontestasi, negosiasi, dan perjuangan dalam menghadapi berbagai persoalan. Namun, masyarakat sipil juga bukan entitas tunggal karena di dalamnya terdapat berbagai kepentingan dan kelompok yang saling berkompetisi. “Kita itu punya peran kunci. Karena itu, penting bagi kita untuk membangun koneksi antar kelompok,” tutupnya.
Penulis : Agito Sitepu
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Magnific
