Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkuat peluang kolaborasi dengan Pemerintah Chile dalam bidang riset, pengembangan, dan inovasi pertanian melalui pertemuan yang berlangsung di MM FEB UGM Kampus Jakarta, Sabtu (29/8) silam. Pertemuan tersebut dihadiri Wakil Menteri Pertanian Chile H.E. Francesco Venezian, Duta Besar Chile untuk Indonesia H.E. Mario Ignacio Artaza, serta sejumlah pejabat dan perwakilan sektor pertanian dan agroindustri Chile.
Dalam pertemuan tersebut, UGM mengenalkan arah pengembangan riset yang terintegrasi dengan pelaksanaan tridharma dan diarahkan untuk menghasilkan dampak sosial yang lebih luas. Salah satu fokus yang dikedepankan adalah kedaulatan pangan melalui pengembangan inovasi pertanian, mulai dari varietas tanaman, sumber daya genetik, teknologi budidaya, hingga penguatan ekosistem pertanian dan hilirisasi. “UGM terus mendorong riset yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui inovasi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan,” ujar Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pegembangan Usaha dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc dalam keterangan yang dikirim Kamis (3/8).
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Gamagora 7, varietas padi unggul yang dikembangkan UGM dan mampu beradaptasi pada lahan sawah maupun lahan tadah hujan atau lahan kering. Varietas ini memiliki potensi produktivitas tinggi, tahan terhadap wereng batang cokelat dan penyakit tertentu, serta relatif adaptif terhadap kondisi dengan keterbatasan air. Gamagora 7 juga menjadi bagian dari ekosistem ekonomi sirkular UGM yang mengintegrasikan pengelolaan limbah organik, produksi kompos, pemanfaatan maggot sebagai pakan, hingga pengembangan produksi benih dan padi bersama kelompok petani.
Selain Gamagora 7, UGM turut mengembangkan Gama Humat, inovasi pemanfaatan lignit berkalori rendah untuk menghasilkan asam humat yang dapat dimanfaatkan sebagai penstabil tanah, pengatur pH, dan peningkat kesuburan. Hasil uji lapangan menunjukkan penggunaan Gama Humat berpotensi mengurangi penggunaan pupuk kimia NPK/urea hingga 50 persen dengan tetap mempertahankan hasil tanaman.
Pada komoditas kedelai, Danang turut mempresentasikan Smart Agricultural Enterprise (SAE) Soybean sebagai sistem produksi terintegrasi yang mencakup penyediaan benih berkualitas, pendampingan petani, penguatan rantai pasok, hingga pengolahan dan akses pasar. Tim peneliti UGM juga telah menghasilkan benih kedelai yang memenuhi standar sertifikasi di Daerah Istimewa Yogyakarta. “Pengembangan ini menunjukkan pendekatan UGM yang menghubungkan riset hulu dengan kebutuhan produksi dan penguatan kemandirian pangan di tingkat masyarakat,” tuturnya.
Di sektor hortikultura, Gama Melon yang dikembangkan melalui inovasi pemuliaan tanaman dan telah menghasilkan sejumlah varietas hibrida F1 dengan tingkat kemanisan hingga 19 Brix juga turut dikenalkan. Pengembangan Gama Melon diarahkan tidak hanya pada produksi benih, tetapi juga membangun ekosistem hortikultura yang mencakup pemupukan, pertanian presisi, penanganan pascapanen, produksi skala besar, pengembangan greenhouse, pemasaran, serta riset dan pengembangan. Inovasi ini sekaligus diarahkan untuk memperkuat sektor benih hortikultura nasional dan membuka peluang pengembangan buah premium lokal sebagai alternatif terhadap varietas impor.
Kolaborasi juga dapat diperluas pada subsektor peternakan melalui pengembangan Sapi Gama dan Gama Umami. Sapi Gama merupakan hasil persilangan Wagyu, Brahman, dan Belgian Blue yang dikembangkan UGM bersama mitra, sementara Gama Umami merupakan varietas rumput pakan unggul hasil pengembangan peneliti UGM melalui radiasi sinar gamma. Gama Umami memiliki produktivitas tinggi, dapat dipanen beberapa kali dalam setahun, mengandung protein kasar 12–14 persen, serta memiliki toleransi terhadap kondisi kekeringan maupun genangan.
Berbagai inovasi tersebut menjadi modal bagi UGM untuk membuka ruang kerja sama dengan Chile, khususnya dalam pengembangan sistem pertanian dan pangan yang berkelanjutan. Kehadiran perwakilan pemerintah, sektor diplomatik, serta pelaku usaha pertanian dan peternakan Chile membuka peluang pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang lebih luas, termasuk pada aspek riset, teknologi, produksi, serta pengembangan agroindustri. “Kolaborasi internasional menjadi penting untuk mempertemukan kekuatan riset dan inovasi dengan pengalaman serta kebutuhan masing-masing negara, sehingga dapat menghasilkan solusi yang memberikan manfaat lebih luas,” kata Danang.
Pertemuan UGM dan Chile juga sejalan dengan upaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan ketahanan pangan, perubahan iklim, dan transformasi sektor agroindustri. Melalui penguatan jejaring internasional, UGM berupaya memastikan hasil riset dan inovasi dapat terus dikembangkan, dimanfaatkan, serta memberi nilai tambah bagi masyarakat dan sektor produktif. Pengembangan kolaborasi dengan Chile diharapkan menjadi langkah awal bagi kerja sama yang lebih konkret dalam riset pertanian, pengembangan teknologi, dan penguatan sistem pangan berkelanjutan.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Dok. Biro Manajemen Strategis
