Universitas Gadjah Mada melalui Biro Transformasi Digital (BTD) menerima kunjungan studi tiru Kementerian PPN/Bappenas, Jumat (4/9), untuk berbagi pembelajaran mengenai pemanfaatan teknologi digital, Artificial Intelligence (AI), pengelolaan data, serta pengembangan dashboard. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Bappenas memperoleh referensi bagi pengembangan Makro Intelligence Hub (MIH) dan dashboard internal Kedeputian Perencanaan Makro Pembangunan. Sesi diskusi yang berlangsung di Gedung Pusat UGM tersebut menghadirkan Kepala BTD UGM, Dr. Mardhani Riasetiawan, SE Ak., M.T., sebagai narasumber.
Dalam diskusi, Mardhani menjelaskan bahwa pengembangan teknologi digital di UGM diarahkan tidak berhenti pada penyajian data dalam bentuk angka, tetapi menghasilkan informasi yang mampu memberikan pemahaman lebih mendalam bagi pengguna. Pendekatan tersebut antara lain diterapkan dengan mengembangkan dashboard yang dapat mengolah berbagai sumber data menjadi analitik dan narasi, sehingga pengguna tidak sekadar mengetahui capaian, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai makna di balik data. “Kita akan mencoba sebanyak mungkin mengubah dari dashboard yang sifatnya itu by number berubah menjadi insight atau data analitik,” ujar Mardhani.
Menurut Mardhani, pengembangan AI juga tidak dapat dilepaskan dari kualitas data dan proses bisnis yang menopangnya. Karena itu, UGM mendorong pengelolaan data dari berbagai sumber secara terstruktur, dengan tetap mempertahankan karakteristik masing-masing unit dan memastikan data yang digunakan telah melalui proses yang dapat dipertanggungjawabkan. Pendekatan tersebut membuat transformasi digital tidak hanya menghasilkan sistem baru, tetapi turut mendorong perubahan cara organisasi mengelola proses dan pengetahuannya.
Mardhani juga memaparkan pendekatan UGM dalam membangun dashboard yang lebih spesifik sesuai kebutuhan pengguna. Alih-alih menghadirkan satu dashboard yang memuat seluruh informasi, data dapat disajikan berdasarkan kebutuhan unit atau pimpinan sehingga analisis menjadi lebih tajam dan relevan. Salah satu penerapannya adalah pemetaan pengetahuan dan aktivitas penelitian yang memungkinkan UGM melihat keterhubungan antarpeneliti, potensi kesenjangan keilmuan, hingga risiko hilangnya pengetahuan ketika tenaga ahli senior tidak lagi aktif. “Dashboard-nya itu tidak satu dashboard everything on there, tapi spesifik,” katanya.

Pendekatan serupa diterapkan dalam pengelolaan proses penelitian dan kajian, yang tidak hanya mendokumentasikan hasil akhir, tetapi juga merekam perjalanan pengetahuan sejak ide, pembentukan tim, proposal, logbook, pengembangan, hingga hasil. Menurut Mardhani, dokumentasi proses tersebut penting untuk membangun ekosistem pengetahuan yang dapat ditelusuri sekaligus mengurangi persoalan silo data antarunit. “Jadi yang diadministrasi atau direkam di sistem itu prosesnya, bukan hasil akhirnya,” ungkapnya.
Mardhani menekankan bahwa kebutuhan terhadap AI sebaiknya muncul dari persoalan nyata yang dihadapi organisasi, bukan sebaliknya. Pengalaman UGM menunjukkan bahwa pendekatan tersebut membuat teknologi lebih mudah diterima karena manfaatnya dapat dilihat melalui contoh dan kebutuhan konkret, sebelum kemudian dikembangkan lebih jauh.
Dari sisi Bappenas, Sekretaris Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Ewin Sofian Winata, ST., MEM., menyampaikan bahwa pembelajaran dari UGM relevan dengan kebutuhan Bappenas untuk memperkuat kemampuan dalam membaca dampak kebijakan dan berbagai keluaran kajian secara lebih terstruktur. Ia melihat pendekatan analitik yang dikembangkan UGM dapat membantu menghubungkan data, proses, hingga dampak sehingga berbagai keluaran unit kerja tidak berhenti sebagai dokumentasi. Ewin juga menilai pengalaman UGM memberikan perspektif penting bagi pengembangan MIH dan dashboard di lingkungan Bappenas. “Kalau kita tidak punya mekanisme untuk memfilter seperti itu, mungkin kita bisa lihat proses nanti usulan output dari direktorat itu memang penting dan perlu untuk dijalankan di tahun depan atau enggak,” ujarnya.
Diskusi kemudian mengarah pada peluang kolaborasi lanjutan antara Bappenas dan UGM, khususnya dalam mengembangkan solusi yang dapat diuji melalui kebutuhan nyata dan disempurnakan secara bertahap. Ewin menyampaikan ketertarikannya untuk mengadopsi sejumlah pendekatan UGM, sementara Mardhani membuka ruang bagi komunikasi dan pengembangan bersama karena setiap unit memiliki tantangan transformasi digital yang berbeda. Bagi UGM, proses tersebut sekaligus menjadi bagian dari pembelajaran berkelanjutan dalam menghadapi kebutuhan transformasi digital yang terus berkembang. “Kami open, Pak. Karena kami juga menjalankan proses ini juga sebagian dari proses kita belajar juga,” pungkas Mardhani.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Dok. BTD
