Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada menggelar Veterinary and Pet Innovation Expo (Vetnovex) 2026 atau Pameran Inovasi Veteriner dan Hewan Peliharaan di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Sabtu (12/9). Kegiatan yang berlangsung pada 12-13 September ini, merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-80 Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM.
Ketua Panitia Dies Natalis ke-80 FKH UGM, Dr. drh. Dinar Arifianto, M.Sc., mengatakan Vetnovex 2026 menjadi ruang bagi FKH UGM untuk mempertemukan dunia usaha di bidang veteriner dengan akademisi, dokter hewan, pecinta hewan, serta generasi calon dokter hewan. “Kegiatan ini adalah mimpi dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada untuk mempertemukan antara dunia usaha di bidang veteriner, baik di bidang diagnostik, farmasi veteriner maupun di bidang kesehatan hewan yang lain. Kemudian juga mempertemukan para pecinta hewan,” jelasnya.
Ia menyebutkan Vetnovex 2026 menghadirkan 19 eksibitor dan 30 sponsor. Selain pameran, rangkaian kegiatan juga mencakup seminar, workshop, talkshow edukatif gratis, serta berbagai lomba yang ditujukan untuk mengenalkan bidang veteriner kepada masyarakat dan generasi muda.
Melalui penyelenggaraan Vetnovex 2026, kata Dinar, FKH UGM berupaya memperkuat perannya dalam membangun ekosistem veteriner yang menghubungkan pendidikan, penelitian, profesi, industri, dan masyarakat. “Penguatan ekosistem tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan inovasi sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan dan kesejahteraan hewan,” ujarnya.
Dekan FKH UGM, Prof. drh. Teguh Budipitojo, M.P., Phd., menekankan Vetnovex menegaskan bagian dari kolaborasi antara perguruan tinggi, profesi, dan industri dalam membangun masa depan dunia peternakan dan kedokteran hewan di Indonesia. “Perguruan tinggi membutuhkan profesi dan industri. Industri juga membutuhkan riset, inovasi dan sumber daya manusia yang berkualitas yang dilahirkan oleh perguruan tinggi. Oleh karena itu semuanya harus berkolaborasi untuk pada akhirnya tujuan kita bermuara pada perlindungan masyarakat, kesehatan dan kesejahteraan hewan serta kehidupan masa depan yang lebih baik,” tuturnya.
Dalam upaya memperkuat ekosistem tersebut, Teguh turut memperkenalkan Konsil Veteriner Indonesia (KVI) sebagai institusi baru dalam ekosistem veteriner Indonesia. KVI dipersiapkan sebagai badan regulator profesi veteriner yang secara bertahap akan menjalankan peran dalam pengaturan profesi, termasuk registrasi nasional, lisensi, serta aspek etik dan disiplin.“Ketika dunia peternakan berkembang semakin cepat, maka inovasi harus berjalan bersama dengan profesionalisme dan profesionalisme harus ditopang oleh tata kelola profesi yang kuat,” jelasnya.
Menurut Teguh, keberadaan KVI penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan perkembangan dunia veteriner berlangsung secara profesional. Ia menilai masa depan ekosistem veteriner perlu ditopang oleh pendidikan yang bermutu, profesi yang kuat, regulasi yang kredibel, industri yang inovatif, serta masyarakat yang semakin memahami pentingnya kesehatan hewan.
Teguh mengatakan, peringatan 80 tahun FKH UGM tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang fakultas, tetapi juga menjadi upaya untuk membangun gambaran mengenai dunia peternakan Indonesia di masa depan.“Ini bukan hanya sebagai upaya kita untuk mengenang perjalanan panjang Fakultas Kedokteran Hewan hingga yang ke-80 tahun ini, tetapi juga sebagai upaya kita untuk menegakkan seperti apa dunia peternakan Indonesia masa depan yang ingin kita bangun,” ujarnya.
Sementara Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., mendorong penguatan ekosistem veteriner melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, profesi, dan masyarakat. Upaya tersebut dinilai penting seiring semakin strategisnya peran bidang veteriner dalam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penyakit zoonosis, perubahan iklim, hingga meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesejahteraan hewan.“Dunia veteriner ini tidak hanya berkaitan dengan bagaimana kita melakukan treatment hewan kita di klinik saja, tetapi peran veteriner ini semakin lama semakin strategis,” ujar Danang.
Danang mengaitkan penguatan ekosistem veteriner dengan konsep One Health yang menempatkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan. Menurutnya, pendekatan tersebut semakin penting bagi Indonesia yang memiliki kondisi geografis tropis serta keanekaragaman hayati yang tinggi.
Ia menjelaskan, tantangan di bidang veteriner saat ini semakin kompleks. Selain penyakit zoonosis, perubahan iklim turut memengaruhi habitat satwa. Di sisi lain, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap animal welfare juga menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem veteriner di Indonesia.
Danang menekankan bahwa berbagai tantangan tersebut tidak dapat dihadapi oleh satu pihak saja. Perguruan tinggi, dunia industri, dan berbagai pemangku kepentingan perlu membangun kolaborasi agar pengembangan pendidikan, penelitian, dan inovasi dapat terhubung dengan kebutuhan di masyarakat.“Kita tidak bisa bekerja sendiri, di lab sendiri tanpa terhubung dengan dunia luar. Oleh karena itu, ini merupakan kesempatan yang baik sekali untuk membangun ekosistem,” katanya.
Ia juga menilai perkembangan industri veteriner dapat menjadi peluang bagi mahasiswa dan alumni FKH UGM untuk mengembangkan kewirausahaan di bidang kedokteran hewan. Menurutnya, kolaborasi dengan industri juga dapat memperluas ruang pembelajaran mahasiswa, tidak hanya melalui laboratorium dan rumah sakit hewan, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dengan dunia usaha.
Penulis/Foto : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
