Eksploitasi hutan secara berlebihan dan tidak terkendali dalam beberapa dekade terakhir telah menyebabkan kerusakan sumber daya hutan yang berdampak terhadap kelangsungan hidup manusia dan juga makhluk hidup lainnya. Ditengah gelombang El Nino yang menyebabkan kemarau panjang ini, berbagai persoalan kehutanan akibat pembalakan hutan yang berlebihan, pembukaan kawasan untuk pertanian dan perkebunan, hingga pembukaan lahan dengan cara pembakaran telah menyebabkan bencana kebakaran hutan dan lahan yang kini terjadi di sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan. Adapun kerusakan tersebut tidak hanya mengurangi tutupan hutan, tetapi juga dapat mempengaruhi fungsi ekologis hutan, termasuk keanekaragaman hayati, penyimpanan karbon, hingga penyediaan air.
Guru Besar Purna Tugas Bidang Silvikultur Fakultas Kehutanan UGM, Prof. Dr. Ir. Suryo Hardiwinoto, M.Agr.Sc., menilai bahwa kerusakan sumber daya hutan yang terjadi beberapa waktu belakangan berkaitan dengan pola pemanfaatan hutan yang lebih menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek tanpa mempertimbangkan manfaatnya bagi generasi di masa depan. Menurutnya, pemulihan kembali hutan yang telah mengalami kerusakan membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Untuk memperbaiki kondisi hutan yang telah mengalami degradasi diperlukan ilmu dan teknologi guna membangun hutan yang menjadi salah satu faktor kunci bagi keberhasilan pengelolaan sumberdaya hutan secara lestari di Indonesia,” kata Suryo saat menjadi pembicara utama dalam seminar nasional bertajuk “Peran Silvikultur dalam Rehabilitasi dan Peningkatan Produktivitas Hutan” di Auditorium Fakultas Kehutanan UGM, Jumat (2/10).
Menurut Suryo, sistem silvikultur menjadi salah satu ilmu penting dan relevan untuk meregenerasi sumber daya hutan sekaligus meningkatkan produktivitas hutan. Suryo menjelaskan bahwa silvikultur tidak hanya berkutat dengan kegiatan menanam pohon. Ilmu tersebut, dikatakan oleh Suryo, merupakan paduan antara ilmu pengetahuan, seni, dan teknologi dalam membangun sumber daya hutan sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan ekologi secara seimbang. “Silvikultur berfungsi membangun dan memelihara tegakan hutan sehingga komposisi, struktur dan pertumbuhannya sesuai dengan tujuan pengelolaan yang telah ditetapkan,” paparnya.
Melihat potensialitas pada sumber daya hutan, Suryo menyebut bahwa hutan tidak semata hanya menghasilkan kayu, tetapi juga berbagai produk dan jasa nonkayu, seperti pangan, energi terbarukan, serapan karbon, penyeimbang tata air, serta jasa lingkungan lainnya. Dengan begini, ia menilai bahwa pengelolaan hutan mesti mempertimbangkan berbagai manfaat yang dapat diberikan hutan dalam jangka panjang. “Ini (silvikultur) perlu terus dikembangkan baik dalam konteks nasional maupun global agar mampu menjawab kebutuhan pengelolaan hutan yang semakin kompleks,” sarannya.
Lebih lanjut, dalam penerapannya, silvikultur berlangsung melalui suatu rangkaian pengelolaan tegakan hutan yang mencakup penanaman, pemeliharaan, pemanenan, hingga penanaman kembali. Suryo menilai, rangkaian tersebut menjadi prinsip penting dalam sistem silvikultur untuk memastikan keberlanjutan tegakan sesudah pemanfaatan hasil hutan dilakukan.
Tak lupa, ia juga menjelaskan bahwa sistem silvikultur tidak berhenti hanya pada kegiatan pemanenan hasil hutan. Setelah kayu dipanen, tegakan perlu dibangun kembali melalui penanaman agar fungsi dan produktivitas hutan dapat dipertahankan. “Kegiatan menanam, memelihara, memanen, dan menanam kembali menjadi rangkaian yang saling berkaitan dalam pengelolaan hutan,” ujarnya.
Lebih jauh, Suryo juga memaparkan tentang penerapan silvikultur dalam meningkatkan produktivitas hutan melalui pengelolaan tanaman Jati dan Pinus di Jawa. Dalam penjelasannya, ia menuturkan bahwa pengembangan hutan tanaman dengan kedua jenis tersebut telah dilakukan sejak masa pemerintahan kolonial Belanda dengan menerapkan sistem hutan tanaman yang mengatur komposisi jenis, jarak tanam, kerapatan, hingga penggunaan bibit unggul. “Penelitian dan pengembangan silvikultur Pinus dan Jati terus dilakukan, khususnya yang terkait dengan manipulasi lingkungan tempat tumbuh dan pengendalian hama-penyakit terpadu,” ujarnya.
Ke depan, Suryo menilai bahwa silvikultur mempunyai peran penting dalam mewujudkan tegakan hutan yang produktif dan lestari dengan tetap terus memperhatikan keseimbangan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Baginya, pengelolaan hutan tidak boleh semata-mata diarahkan untuk menghasilkan produk kayu dan nonkayu saja, tetapi juga pangan, pakan, obat-obatan, energi terbarukan, penyerapan karbon, pengawetan keanekaragaman hayati, hingga jasa lingkungan seperti penyeimbang tata air dan ekowisata. “Dari sini, sektor kehutanan mempunyai peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mewujudkan kemandirian ekonomi, dan meningkatkan daya saing bangsa di kancah internasional,” tutupnya.
Di sesi pleno kegiatan seminar menghadirkan empat pembicara dari sudut pandang dan pengalaman yang berbeda memaparkan strategi nyata penerapan silvikultur di lapangan oleh Ir. Sri Handayaningsih, M.Sc., selaku Direktur Teknik Konservasi Tanah dan Reklamasi Hutan, Ditjen PDASRH, Kementerian Kehutanan RI menyampaikan pentingnya silvikultur lanskap dalam pengelolaan DAS guna mengendalikan erosi dan mendukung Food-Energy-Water Nexus. Sementara itu, Dr. Ir. Digna Jatiningsih, M.T., IPU dari perwakilan PT Kaltim Methanol Industri membagikan pengalaman pemulihan lahan kritis seluas ha di Bontang melalui penanaman vegetasi pionir hingga pengayaan spesies lokal Kalimantan.
Sesi dilanjutkan dengan pemaparan dari Direktur Operasi Perum Perhutani Ir. Wawan Triwibowo, S.Hut., M.H., IPU mengenai optimasi penjarangan Jati Plus Perhutani (JPP) serta pengembangan Pinus Bocor Getah (PBG) dalam merespons dinamika KHDPK di Jawa.
Ketua Komda Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) untuk wilayah Sumatera Selatan dan Lampung, Iwan Setiawan, S.Hut., M.Si., menekankan pemanfaatan modernisasi tree breeding, mesin Nursery Quality Control (NQC), serta teknologi LiDAR untuk efisiensi pengelolaan hutan produksi skala luas. Menurutnya, ilmu silvikultur dapat diaplikasikan sebagai dasar pengelolaan hutan dengan fungsi kawasan yang berbeda.
Penulis : Agito Sitepu
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Magnific dan Dok. Panitia Seminar
