Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mendorong berbagai perguruan tinggi tidak hanya memperbarui pengetahuan teknis dalam kurikulum, tetapi juga memastikan mahasiswa memiliki keterampilan yang tetap relevan di tengah perubahan dunia kerja. Hal ini menjadi fokus topik diskusi hari kedua dan ketiga workshop ELEVATE Higher Education (HE) Workshop 2: The Modern Curriculum & Graduate Readiness di Gedung Pusat UGM. Kegiatan yang berlangsung pada 28 – 30 September 2026 lalu ini mempertemukan perwakilan dari 11 perguruan tinggi di Indonesia untuk membahas transformasi kurikulum dan kesiapan lulusan menghadapi perubahan dunia kerja serta masyarakat.
Memasuki hari kedua, pembahasan diarahkan pada perancangan kurikulum yang mampu mengintegrasikan keterampilan teknis dengan keterampilan manusia. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah kerangka CDIO (Conceive-Design-Implement-
Direktur Sekolah Teknik Elektro dan Elektronika Singapore Polytechnic, Dr. Lim Joo Ghee, memperkenalkan lima manusia yang dinilai penting untuk dikembangkan mahasiswa, yaitu berpikir kritis, kreativitas dan inovasi, pembelajaran mandiri, kerja sama tim, serta komunikasi. Menurutnya, kelima keterampilan tersebut perlu berjalan bersama dengan pemahaman mengenai etika, tanggung jawab, dan literasi AI. “Literasi AI tidak hanya berarti memahami teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan untuk menggunakan AI, belajar bersama AI, serta mengembangkan kemampuan yang melampaui penggunaan teknologi tersebut,” tuturnya.
Dalam pengembangan kemampuan kerja sama tim, ia juga membagikan pengalaman dalam mengembangkan asesmen kerja tim melalui Comprehensive Assessment of Team Member Effectiveness (CATME). Dalam skema tersebut, mahasiswa melakukan penilaian terhadap diri sendiri dan anggota tim berdasarkan sejumlah dimensi kerja sama. Hasil asesmen kemudian digunakan untuk memantau perkembangan keterampilan kerja tim mahasiswa selama masa studi.
Pembahasan dilanjutkan oleh Dosen Politeknik Negeri Batam, Assoc. Prof. Muhammad Arifin, yang menggunakan silabus CDIO untuk memetakan tingkat kemahiran kompetensi lulusan. Arifin menjelaskan bahwa silabus CDIO bukan merupakan silabus mata kuliah atau Rencana Pembelajaran Semester (RPS), melainkan inventaris keterampilan yang dapat dipilih dan disesuaikan dengan kebutuhan program studi. Dalam mengetahui tingkat kompetensi yang dibutuhkan, ia menjelaskan bahwa Politeknik Negeri Batam mengembangkan Graduate Expected Proficiency Level Survey. “Survei tersebut melibatkan empat kelompok pemangku kepentingan, yaitu alumni senior, alumni junior, dosen, serta industri atau perusahaan,” ujarnya.
Tingkat kemahiran dalam survei dipetakan pada level 0 hingga 5, mulai dari tidak dibutuhkan, sekadar terekspos, mampu berpartisipasi, memahami dan menjelaskan, hingga mampu menerapkan serta melakukan inovasi dan memimpin. Ia menjelaskan bahwa tingkat kedalaman kompetensi juga perlu disesuaikan dengan jenjang pendidikan dan karakteristik program studi. “Silabus itu adalah skillset. Di CDIO itu sudah menyediakan skillset apa saja,” jelasnya.
Hasil pemetaan tersebut kemudian digunakan sebagai salah satu referensi dalam pengembangan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan pembaharuan kurikulum. Dari pengalaman Politeknik Negeri Batam, kebutuhan industri tidak hanya berada pada kompetensi teknis, tetapi juga keterampilan seperti etika, teamwork, dan komunikasi. “Keterampilan interpersonal tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam pembelajaran dan kurikulum sehingga seluruh mahasiswa memperoleh pengalaman untuk mengembangkannya. Salah satu pendekatan yang digunakan ialah pembelajaran berbasis proyek,” tuturnya.
Direktur Politeknik Gajah Tunggal, Dr. Ita Mariza, memaparkan model pembelajaran ketat yang mewajibkan mahasiswa menyelesaikan permasalahan teknis langsung dari pabrik perusahaan sponsor. Berbeda dengan institusi negeri, ia menjelaskan bahwa politeknik berbasis sponsor industri menerapkan pendanaan penuh dari perusahaan, sehingga seluruh proyek kurikulum dirancang untuk menjawab tantangan industri secara langsung. “Mahasiswa dibiasakan bekerja dengan kedisiplinan tinggi melalui jam perkuliahan yang menyerupai jam kerja profesional, yakni pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, serta kewajiban menyusun kertas kerja tiap semester,” ujarnya.
Ia menuturkan bahwa progresi kurikulum disusun secara bertahap, yakni semester pertama dan kedua berfokus pada identifikasi masalah nonteknis, semester ketiga dan keempat pada rekayasa teknik, serta semester kelima dan keenam pada pemecahan masalah lini produksi. Dalam proses ini, pimpinan pabrik setingkat deputi hingga kepala pabrik diterjunkan langsung sebagai mentor mahasiswa.
Selain penguasaan teknis, aspek perilaku dan kedisiplinan mendapat porsi penilaian sebesar 15 persen dalam struktur evaluasi. Ia juga menegaskan bahwa kerangka kerja CDIO tidak hanya terbatas pada bidang teknik, tetapi juga efektif diterapkan pada disiplin ilmu non-teknik seperti pendidikan, administrasi bisnis, dan ilmu sosial untuk menyelesaikan masalah partisipasi maupun manajemen. “CDIO bisa juga diimplementasikan di education, business administration, hingga social science. Prosesnya sama, menguraikan masalahnya apa, dirancang, diterapkan, lalu dievaluasi ketercapaiannya,” jelasnya.
Melalui sesi hari kedua ini, peserta diajak untuk merefleksikan kembali kurikulum pada program studi masing-masing. Peserta juga didorong mengidentifikasi keterampilan yang paling penting bagi lulusan, melihat keterampilan yang telah diajarkan, kemudian menentukan keterampilan yang masih perlu ditambahkan dan cara meningkatkan pengembangannya. Tidak hanya membahas keterampilan yang dibutuhkan di era AI, tetapi juga membahas bagaimana keterampilan dipetakan, diajarkan, dan diukur melalui kurikulum.
Dosen Fakultas Hukum UGM, I Made Andi Arsana, Ph.D., menekankan bahwa penguasaan teknis semata tidak menjamin kesiapan lulusan di dunia nyata. Ia mencontohkan mahasiswa teknik geodesi yang terampil menghitung koordinat, menggunakan dan menghasilkan peta. Akan tetapi ketika dihadapkan pada persoalan riil seperti penentuan batas wilayah laut di Indonesia, mereka dituntut untuk menguasai kompleksitas hukum, etika komunikasi, hingga pengelolaan ketidakpastian. “Oleh karena itu, dalam kerangka CDIO 3.0, pendidikan teknik tidak lagi berfokus pada ilmu keteknikan murni, melainkan wajib mengintegrasi pemahaman terhadap aspek manusia dan sosial,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya keterampilan non teknis seperti kerja sama tim, komunikasi, berpikir sistem, etika, dan kolaborasi lintas disiplin. Ia menegaskan bahwa kesiapan akademik berbeda dengan kesiapan institusi. Untuk menghasilkan lulusan yang benar-benar siap kerja, dibutuhkan sinergi antara kurikulum yang baik, kesiapan dosen, dan kesiapan sistem institusi secara menyeluruh. “Setiap perguruan tinggi pun didorong untuk terus mengevaluasi apa yang harus mampu dilakukan lulusan, di mana mereka mempraktikkannya, bagaimana mengukur ketercapaian kompetensinya, serta sejauh mana institusi siap memfasilitasi proses tersebut,” tuturnya.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
