Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Swagayugama Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar pagelaran akbar bertajuk “Cakra Laksana” pada Sabtu (24/10) di Taman Budaya Yogyakarta. Pagelaran dua tahunan ini turut dihadiri oleh GBPH Prabukusumo dan GBPH Yudhaningrat yang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas sekaligus memperkenalkan seni pertunjukan Jawa kepada masyarakat.
Pimpinan Tim Produksi, Lulu Damayanti, mengatakan bahwa sebanyak 210 orang terlibat dalam penyelenggaraan pagelaran ini. Mereka terdiri atas tim produksi, para penampil, alumni, pelatih, serta pihak lain yang turut mendukung jalannya acara. “Sebanyak 210 orang terlibat dalam pagelaran ini, mulai dari tim produksi dan tim aksi, termasuk alumni, pelatih, serta pihak-pihak yang turut mendukung penyelenggaraannya,” ujar Lulu.
Ia menjelaskan pihaknya menghadirkan empat sajian utama, yakni tari Klana Alus Cengklek, Konser Karawitan “Teguh Jiwa”, Beksan Menak Wiragama, dan drama tari “Bahara Gatimaya”. Salah satu sajian tersebut mengangkat kisah perjuangan Pangeran Mangkubumi melalui seni pertunjukan.
Ketua UKM Swagayugama, Arnetta Rosana Putri, menyampaikan bahwa pagelaran ini tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga membawa pesan moral dan nilai budaya kepada penonton. “Kami menyajikan sebuah pementasan yang tidak hanya menampilkan keindahan visual. Kami berharap pesan moral dan makna budaya yang tersirat dalam pementasan ini dapat tersampaikan dengan baik serta meninggalkan kesan yang baik bagi para hadirin,” ujarnya.
Arnetta menambahkan bahwa persiapan Pagelaran Akbar Swagayugama 2026 berlandaskan semangat yang tercermin dalam Mars Kebanggaan. Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk terus berkarya sekaligus menjaga keberlangsungan seni dan budaya Jawa di lingkungan UGM.
Pembina UKM Swagayugama, Dr. Novi Siti Kussuji, M.Hum., menyampaikan bahwa pagelaran seni tradisional tidak hanya menghadirkan pertunjukan yang indah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya Jawa. Di balik setiap gerak tari, tabuhan gamelan, tembang, busana, dan tata panggung, terdapat proses panjang serta keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan budaya. “Kebudayaan tidak akan tetap hidup hanya karena kita mengakui masa lalu. Kebudayaan hidup ketika ada generasi yang bersedia mempelajarinya, mempraktikkannya, menafsirkannya kembali, dan mewariskannya,” tuturnya.
Menurut Novi, empat sajian dalam pagelaran tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional tetap relevan di tengah perubahan zaman. Swagayugama juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kepekaan, kedisiplinan, dan kebersamaan melalui seni tari dan karawitan. “Proses berkesenian mengajarkan mahasiswa bahwa sebuah pertunjukan lahir dari kolaborasi berbagai pihak yang menyatukan tenaga, pikiran, dan tujuan,” katanya.
Novi turut menyampaikan apresiasi kepada pengurus harian, panitia Pagelaran Akbar Swagayugama 2026, para penampil, penari, pengrawit, tim produksi, sponsor, mitra, serta seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan acara tersebut.
Ia berharap pagelaran ini tidak sekadar menjadi kenangan atas pertunjukan yang telah berlangsung, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk terus terlibat dalam pelestarian budaya Jawa. “Semoga di tengah derasnya perubahan zaman, masih ada generasi muda yang memilih untuk berdiri di panggung kebudayaan, menatap masa depan tanpa kehilangan akar, serta menjadi modern tanpa tercerabut dari tradisinya. Mari terus nguri-uri kebudayaan Jawa,” pungkasnya.
Direktur Kemahasiswaan UGM, Hempri Suyatna, menyampaikan jika pengembangan keterampilan nonteknis (soft skills) mahasiswa menjadi salah satu fokus pembinaan kemahasiswaan. Melalui program pengembangan soft skills, UGM mendorong mahasiswa mengembangkan berbagai keterampilan sejak semester pertama hingga menyelesaikan studi.
Hempri menjelaskan pengembangan tersebut diarahkan untuk membentuk mahasiswa yang bernalar, etis, relasional, adaptif, nyata, bermanfaat, dan inovatif. Karakter itu diharapkan dapat mendukung mahasiswa dalam menghasilkan karya, mengembangkan prestasi, dan menciptakan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.
Ia juga mendorong mahasiswa Swagayugama untuk terus mengembangkan seni dan budaya Jawa melalui berbagai inovasi. Menurutnya, pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan karya yang menjangkau masyarakat lebih luas, termasuk melalui digitalisasi dan komersialisasi. “Mahasiswa diharapkan tidak hanya melestarikan budaya Jawa, tetapi juga melahirkan inovasi-inovasi yang dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk agar lebih dikenal secara luas,” ujarnya.
Hempri menambahkan, pengembangan inovasi mahasiswa menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan globalisasi dan era digital. Ia berharap karya seni dan budaya mahasiswa UGM, khususnya UKM Swagayugama, dapat terus dikembangkan, didokumentasikan secara digital, serta diperkenalkan kepada publik agar semakin dikenal dan diapresiasi masyarakat.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. UKM Swagayugama
