Sebanyak 7 bakal calon anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UGM untuk periode 2026–2031 dari unsur tenaga kependidikan (tendik) mengikuti dialog curah gagasan yang digelar di ruang auditorium Fakultas Filsafat, Senin (20/4). Kegiatan ini menjadi bagian dari tahapan akhir pemilihan yang menghadirkan tujuh calon serta tiga panelis. Forum ini memberi ruang bagi para calon untuk memaparkan program sekaligus diuji melalui pertanyaan panelis. Isu yang mengemuka mencakup kesejahteraan, jenjang karier, hingga transformasi digital di lingkungan kampus.
Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia dan Keuangan UGM, Prof. Dr. Supriyadi, M.Sc, menegaskan bahwa perwakilan tenaga kependidikan di MWA memiliki posisi strategis dalam arah kebijakan universitas. Ia menyebutkan bahwa seluruh tenaga kependidikan memiliki hak yang sama untuk memilih wakilnya. Menurutnya, proses ini menjadi momentum penting untuk menyalurkan aspirasi secara kolektif. Wakil Rektor juga mendorong partisipasi aktif dalam pemilihan agar menghasilkan representasi terbaik. “Kami berharap yang terpilih mampu membawa gagasan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh tenaga kependidikan,” tegasnya.
Dalam sesi pemaparan, para calon menyoroti isu kesejahteraan sebagai perhatian utama tenaga kependidikan. Nurwanto menekankan pentingnya kesehatan finansial, sosial, dan akademik sebagai fondasi penguatan peran tendik. Ia menilai komunikasi antar unsur di kampus masih perlu diperbaiki agar lebih harmonis. Selain itu, akses informasi pengembangan diri dinilai belum merata. “Kami ingin tenaga kependidikan punya ruang berkembang dan merasa menjadi bagian penting dari universitas,” ia berujar.
Sementara itu, Wisnu Budi, S.E., menyoroti pentingnya kepastian jenjang karier dan sistem kerja yang lebih manusiawi. Ia melihat masih ada ketimpangan antara kinerja dan peningkatan jabatan yang diterima tenaga kependidikan. Ia juga mendorong digitalisasi berbasis kebutuhan agar sistem tidak menambah beban administratif. Selain itu, ia mengangkat pentingnya peran tendik dalam mendukung kontribusi kampus bagi masyarakat. “Sistem harus memudahkan kerja dan memberi ruang berkembang, bukan justru memperumit,” ia menjelaskan.
Pentatok Kuncoro Sri Setiyoaji, S.T., M.Sc menekankan penguatan kapasitas melalui studi lanjut dan pelatihan berkelanjutan. Ia juga mendorong terciptanya lingkungan kerja yang aman, nyaman, dan produktif. Menurutnya, fasilitas kerja yang baik akan berdampak langsung pada kinerja. Ia juga melihat peran tendik sangat penting dalam mendukung tridarma perguruan tinggi. “Kami ingin setiap tenaga kependidikan diposisikan sebagai aset strategis dalam pengembangan universitas,” ujarnya.
Gagasan inovatif disampaikan Debby Citra Dewi, S.IK melalui platform ‘UGM TIM’ sebagai ruang talenta digital. Platform ini dirancang untuk menghubungkan kebutuhan unit dengan kompetensi tenaga kependidikan lintas unit. Ia menilai skema ini dapat meningkatkan eksposur, efisiensi, serta pengembangan karier. Selain itu, sistem ini juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas. “Potensi tenaga kependidikan bisa dipetakan dan dimanfaatkan secara lebih optimal melalui platform ini,” tutur Debby.
Nur Bakti Susilo, S.E mengangkat pentingnya kesejahteraan jangka panjang, termasuk imbalan pascakerja. Ia menekankan perlunya regulasi yang jelas agar akses pengembangan dan kesejahteraan lebih terjamin. Selain itu, ia mendorong optimalisasi aset dan penguatan sistem berbasis data. Menurutnya, tata kelola berbasis data akan mempermudah evaluasi dan pengambilan keputusan. “Kebijakan harus jelas dan bisa diakses agar benar-benar dirasakan manfaatnya,” ia menjelaskan.
Fitri Yuniarti, S.H., M.Kn menyoroti pentingnya kebijakan yang inklusif dan berkelanjutan. Ia menilai aspirasi tenaga kependidikan perlu masuk dalam arah kebijakan universitas. Profesionalisme menjadi dasar dalam mendorong kemandirian institusi. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antar elemen kampus. “Aspirasi tenaga kependidikan harus menjadi bagian dari kebijakan, bukan sekadar didengar,” pesannya.
Sementara itu, Ika Wulandari Widyaningrum, S.Pd., MBA mengangkat konsep employee wellbeing sebagai kunci produktivitas. Ia menilai kesejahteraan mental dan fisik berpengaruh langsung terhadap kualitas layanan. Lingkungan kerja yang suportif dan fleksibel dinilai menjadi kebutuhan saat ini. Ia juga melihat potensi besar dari sistem digital dan generasi muda di UGM. “Wellbeing perlu menjadi bagian dari strategi peningkatan kinerja secara menyeluruh,” tegasnya.
Dalam sesi diskusi, ketiga panelis menyoroti sejumlah isu strategis yang dihadapi tenaga kependidikan di UGM. Pembahasan mencakup kebutuhan akan sistem kerja yang lebih adaptif terhadap beban kerja, termasuk tantangan yang dihadapi tenaga kependidikan perempuan dalam menyeimbangkan peran profesional dan domestik. Selain itu, muncul pula perhatian terhadap pentingnya mekanisme yang efektif dalam menjaring aspirasi tenaga kependidikan yang tersebar di berbagai unit dan wilayah. Panelis juga mengangkat keterbatasan kewenangan anggota MWA, sehingga diperlukan strategi komunikasi, penguatan data, serta kolaborasi dengan organisasi internal untuk memperjuangkan aspirasi. Isu lain yang mengemuka meliputi transparansi jenjang karier berbasis merit system, optimalisasi transformasi digital, hingga penguatan tata kelola dan akuntabilitas universitas.
Melalui forum ini, berbagai gagasan strategis berhasil dihimpun sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan anggota MWA unsur tenaga kependidikan. Isu kesejahteraan, karier, hingga tata kelola menjadi perhatian utama yang mencerminkan kebutuhan nyata di lapangan. Diskusi juga menunjukkan pentingnya peran tendik dalam pengambilan kebijakan di tingkat universitas. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong partisipasi aktif dalam proses pemilihan.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Firsto
