Alam adalah titipan untuk generasi penerus selanjutnya. Hendaknya ia selalu dirawat dan dilestarikan. Namun bumi sebagai tempat tinggal ini sudah mengalami kemerosotan lingkungan hidup yang tentu saja berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi, dan bahkan budaya. Sejak revolusi industri penggunaan energi fosil menjadi masif hingga hari ini. Pemanasan global, merupakan hutang moral dan ekonomi yang besar. “Sekitar 50 persen karbon yang saat ini beredar di atmosfer justru disumbangkan hanya dalam 30 tahun terakhir. Dalam kurun waktu tersebut manusia telah merusak lingkungan secara luar biasa,” kata Guru Besar bidang Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng, Ph.D., IPU., pada pidato Valedictory Lecture di Auditorium SGLC FT UGM, Jumat (10/7).
Dalam kuliah umum jelang purna tugas ini, Sudaryono menyampaikan pidato yang berjudul ‘Pertanggungjawaban Aksiologi Ilmu-Ilmu Teknik di Hadapan Peradaban Manusia dan Semesta’, ia mengingatkan bahwa ancaman kerusakan bumi dan atmosfer ini bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga menyangkut masa depan kemanusiaan. Ia menyebutkan bahwa pada 2050, apabila tidak ada tindakan nyata, manusia hanya akan dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama pahit. “Bertarung memperebutkan makanan dengan sesama atau meninggalkan negaranya demi bertahan hidup,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tidak ada pilihan lain selain berubah. Menurutnya, Fakultas Teknik memiliki peluang untuk berubah kembali menjadi lebih tangguh. Persoalan-persoalan pembelajaran, sebutnya, harus terus dibenahi. “Ilmu teknik memiliki sifatnya yang preskriptif ya, maka dia harus bisa mempertanggungjawabkan aksiologi yang itu mempertanggungjawabkan pemanfaatannya di tingkat masyarakat,” ujarnya.
Lebih jauh ia menjelaskan, wilayah ilmu pengetahuan dibangun dengan metode epistemologi dan nilainya ditujukan pada aksiologi. Menurutnya, ilmu teknik memiliki kodrat sifat bawaan preskriptif yang bertujuan membuat perubahan. Kendati demikian, ia menyebutkan keilmuan teknik juga memiliki kontribusi pada ruang dan waktu yang diyakini adanya paradoks. Menurutnya, di satu sisi ilmu ini memberdayakan lingkungan, tetapi juga memiliki sisi melemahkan. Melirik dimensi positifnya, ilmu teknik telah berkontribusi pada tabungan peradaban terlebih sejak revolusi industri. Di balik itu, tekan Sudaryono, keilmuan ini sekaligus menimbun hutang terhadap krisis peradaban.
Dekan Fakultas Teknik (FT) UGM, Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., menyampaikan kegiatan kuliah umum jelang purna tugas ini menjadi pembuka untuk mengapresiasi tiap insan, dosen, dan akademik teknik. Menurutnya, semua pihak mempunyai kontribusi membesarkan fakultas. Ia berharap agar kontribusi yang diberikan semua civitas mendapat penghargaan yang layak sebagaimana kegiatan ini.
Selo menyatakan kurang lebih sudah mengenal sosok Sudaryono selama 13 tahun lebih. Ia mengaku dalam perjalanan banyak mendapat pelajaran hingga bimbingan berharga. Menurutnya, satu catatan yang diingat-ingat ialah pesan bahwa pengurus fakultas harus mampu untuk merangkul semua pihak. “Satu ungkapan yang saya terapkan yaitu, diilengke, dielokke, dan dieman. Itu menjadi semangat yang yang saya betul-betul terapkan di Fakultas Teknik,” ujarnya.
Testimoni hadir dari salah satu rekan Sudaryono, yakni Prof. Ir. Bambang Hari Wibisono, MUP., M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa purna tugas yang terlintas bukanlah akhir dari pekerjaan melainkan kesempatan merenungkan jejak yang ditinggalkan Sudaryono. Menurutnya, sosoknya bukan hanya senior melainkan juga panutan. Ia menyebutkan kepenulisan akademiknya menunjukkan konsistensi luar biasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Bambang menyebutkan dedikasi Sudaryono telah melakukan penelitian dengan pendekatan grounded research ataupun fenomenologi dalam waktu yang sudah cukup lama.
Di balik itu, Bambang menyebutkan hal yang ia ingat dari sosok Sudaryono adalah substansinya memahami manusia. Meluaskan sudut pandang dari pengalaman, memahami makna di balik fenomena, hingga mengungkapkan interaksi manusia. Ia mengapresiasi metode yang digunakan Sudaryono mengajarkan kepada banyak generasi akademisi bahwa penelitian yang baik selalu berangkat dari kepekaan terhadap realitas. “Warisan yang terbesar yang saya kira dihasilkan oleh Sudaryono bukan hanya karya-karya yang terdokumentasi, tetapi juga manusia-manusia yang terinspirasi dan dibentuk oleh dedikasi beliau,” ungkapnya.
Penulis/Foto : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
