Kementerian Kesehatan RI mulai meningkatkan kewaspadaan di pintu-pintu masuk Indonesia menyusul dugaan wabah pes (plague) di Irkutsk, Siberia, Rusia. Kasus ini bermula dari kematian seorang pekerja laboratorium yang disinyalir erat kaitannya dengan paparan bakteri penyebab pes, Y. pestis. Adapun kasus tersebut sebelumnya memunculkan kekhawatiran akan munculnya dugaan wabah pes. Meski begitu, otoritas Rusia menyebut bahwa kematian tersebut disebabkan oleh pneumonia yang belum dapat dipastikan penyebabnya.
Menanggapi hal ini, Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK) UGM, Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., Sp.MK(K)., mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi berita yang beredar agar tidak menimbulkan kepanikan yang tidak diperlukan. “Hingga saat ini belum jelas apa yang terjadi di Rusia, apakah merupakan penyakit pes ataukah bentuk penyakit yang lainnya. Sehingga tidak dapat berspekulasi untuk penyebaran dan mekanisme penularannya di Indonesia,” pungkas Tri, Senin (12/10).
Meski begitu, dijelaskan oleh Tri, kewaspadaan akan penyakit pes tetap diperlukan mengingat bakteri Y. pestis masih ditemukan pada hewan pengerat liar yang dapat menjadi perantara penyebaran penyakit tersebut. “Dengan demikian, selalu ada potensi untuk muncul penyakit pes pada manusia setiap saat, meskipun sudah puluhan tahun tidak ditemukan laporan penyakit pes pada manusia di Indonesia,” jelasnya.
Soal penyakit pes, ia menerangkan bahwa penyakit tersebut merupakan penyakit infeksi yang terutama ditularkan melalui gigitan pinjal yang terinfeksi, khususnya pinjal pada tikus. Lebih lanjut, Tri mengungkapkan bahwa penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau jaringan hewan yang terinfeksi, serta melalui droplet yang mengandung bakteri.
Tri menambahkan, terdapat beberapa bentuk manifestasi penyakit pes. Salah satu yang paling serius ialah pneumonic plague atau pes pneumonik, yakni infeksi yang menyerang jaringan paru-paru. “Jenis ini dapat menular dari hewan ke manusia maupun antarmanusia melalui droplet,” sambungnya.
Demi mengantisipasi kemungkinan kemunculan penyakit pes, Tri menggarisbawahi akan pentingnya penguatan surveilans secara berkesinambungan terhadap keberadaan bakteri Y. pestis pada vektor, terutama tikus. Selain itu, ia juga memberi saran agar pengendalian populasi tikus juga perlu menjadi perhatian karena hewan pengerat tersebut merupakan bagian dari lingkungan yang dekat dengan kehidupan manusia.
Menurut pandangan Tri, kesiapan sistem pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan dalam mengenali penyakit pes juga perlu diperkuat. Hal ini penting mengingat penyakit tersebut sudah lama tidak ditemukan pada manusia di Indonesia, sehingga kemampuan mengenali gejala dan memberikan penanganan yang tepat menjadi krusial. “Terapi antibiotik yang cepat dan tepat menjadi kunci dari penanganan penyakit ini,” tutup Tri.
Penulis : Agito Sitepu
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Magnific
