Martin Anggiat Tampubolon, lulusan Pascasarjana dari Program Studi Magister Manajemen (Kampus Jakarta), Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM tak pernah menyangka bahwa dirinya akan menjadi lulusan tercepat dengan masa studi 1 tahun 1 bulan 22 hari. Padahal masa studi rata-rata untuk 821 lulusan magister pada wisuda program pascasarjana, Rabu (22/7), di Grha Sabha Oranab Pramana adalah 2 tahun 0 bulan.
Martin mengaku jika dirinya tak pernah terbesit di dalam pikirannya akan mendapatkan predikat tersebut. Selama ini, yang ia lakukan hanya berusaha untuk disiplin terhadap studi dan menjaga konsistensi selama berkuliah. Selain itu, Martin juga turut bersyukur mendapatkan lingkungan yang suportif, mulai dari instansi tempat ia bekerja, keluarga, hingga dosen pembimbing. “Selain itu karena memiliki tanggung jawab sebagai Pegawai yang diberikan kesempatan Tugas Belajar dari Instansi tempat saya bekerja, serta dukungan penuh dari keluarga membuat saya perlu menjalankan amanah ini dengan sebaik mungkin dan berusaha menyelesaikan masa studi dengan tepat waktu,” tutur Martin, Senin (27/7).
Selama masa studi, Martin mengungkapkan jika dirinya mengalami beberapa tantangan yang ternyata juga menjadi sesuatu yang paling berkesan baginya. Dikatakan Martin, tantangan terbesarnya saat berkuliah di MM UGM adalah menjaga konsistensi dan menyeimbangkan antara pengerjaan tesis serta immersion atau sebuah metode pembelajaran di pascasarjana yang menempatkan mahasiswa di lingkungan nyata. Dengan membuat target-target realistis setiap minggunya dan selalu terbuka dalam menerima kritik dari dosen pembimbing dan teman seperjuangan, Martin berhasil untuk menyelesaikan penelitiannya secara maksimal.
Kendati demikian, di lain sisi, tantangan yang dialami oleh Martin juga merupakan salah satu pengalaman berkesan saat berkuliah di MM UGM. Baginya, budaya akademik di UGM sangat mendukung mahasiswanya dalam berpikir kritis, tetapi tetap rendah hati dan berkelanjutan. Lalu, diskusi di dalam kelas juga menghadirkan mahasiswa dari berbagai macam latar belakang dan profesi yang menanamkan pemikiran baru kepada Martin tentang melihat suatu permasalahan yang tidak hanya berdasar pada sudut pandangnya, tetapi orang lain. “Perbedaan perspektif tersebut membuat saya belajar melihat suatu permasalahan secara lebih luas dan tidak hanya dari sudut pandang pekerjaan saya sendiri,” lanjutnya.
Di samping itu, Martin juga memiliki lingkungan teman belajar yang sangat suportif. Teman-teman seperjuangannya di UGM Kampus Jakarta, seringkali melakukan diskusi, kolaborasi, dan menguatkan satu sama lain sehingga perjalanan Martin selama berkuliah di Kampus Jakarta terasa lebih mudah. “Kebersamaan dengan teman-teman satu angkatan juga menjadi pengalaman yang sangat berharga. Kami saling mendukung, berdiskusi, dan menguatkan satu sama lain hingga akhirnya dapat menyelesaikan studi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Martin memaparkan tesis penelitiannya yang mengambil fokus HRO (Human Resources & Organizations) bertajuk “Pengaruh Kepemimpinan Etis terhadap Perilaku Kerja Inovatif dengan Keterikatan Kerja sebagai Pemediasi” dengan latar belakang pekerjaannya di bidang organisasi menjadi alasan utamanya memilih fokus dan topik tersebut.
Bagi Martin, suatu organisasi berkemampuan untuk mewujudkan sustainability di dalamnya dengan strategi yang tepat serta SDM yang mumpuni. SDM harus mampu untuk berinovasi secara terus menerus melalui Perilaku Kerja Inovatif yang dikelola oleh organisasi. Martin mengungkapkan jika perilaku tersebut sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan yang dirasakan oleh para SDM dan kemampuan untuk mendukung penciptaan iklim inovatif yang nantinya berpengaruh kepada perilaku masing-masing SDM.
Melalui beberapa tahapan, Martin mendapatkan hasil yang menunjukkan jika suatu kepemimpinan yang etis berkemampuan untuk meningkatkan perilaku kerja inovatif pegawai. Dengan demikian, seorang pemimpin yang mampu menunjukkan integritas, keadilan, dan kepedulian terhadap pegawai akan membuat pegawai terlibat lebih jauh di dalam pekerjaannya dan terdorong untuk menghasilkan inovasi. “Artinya, ketika pemimpin mampu menunjukkan integritas, keadilan, dan kepedulian terhadap pegawai, maka pegawai akan lebih terlibat dalam pekerjaannya dan terdorong untuk menghasilkan ide-ide inovatif,” paparnya.
Martin mengaku sangat ingin untuk mengimplementasikan ilmu yang didapat selama kuliah untuk mendukung kemajuan organisasi dan pengembangan SDM yang nantinya akan berdampak kepada kepuasan masyarakat. Ia berharap penelitiannya tidak hanya menjadi bagian akademiknya, tetapi juga referensi dalam pembuatan suatu kebijakan. “Saya juga berharap hasil penelitian yang saya lakukan tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat menjadi salah satu referensi dalam merancang kebijakan maupun program pengembangan kepemimpinan dan peningkatan keterikatan pegawai di sektor publik,” kata Martin.
Menutup pemaparannya, Martin menuturkan jika hal yang berharga bukan hanya ilmu, tetapi juga cara berpikir yang mengajarkannya untuk melihat hal secara komprehensif, mengambil keputusan berdasarkan data, dan menghubungkan teorinya dengan dunia nyata. Kemampuan berpikir kritis yang ia asah semasa studi dan berkolaborasi dengan banyak pihak merupakan dua hal yang sangat ia rasakan manfaatnya selama berkuliah di UGM. “Bagi saya, menyelesaikan studi tercepat bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah memastikan setiap proses pembelajaran benar-benar membentuk cara berpikir, karakter, dan kemampuan untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi organisasi dan masyarakat. Gelar adalah akhir dari sebuah perjalanan akademik, tetapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus berkarya,” pungkasnya.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Martin
