Roxaline Sih Tanwinilang dinobatkan sebagai lulusan termuda dalam penghelatan wisuda program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM pada Rabu (19/8) di Grha Sabha Pramana. Wisudawan dari Program Studi Biologi, Fakultas Biologi, berhasil menyelesaikan studi sarjananya pada usia 19 tahun 9 bulan 20 hari. Sementara usia rata-rata 3.193 lulusan program sarjana adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari, dengan lulusan termuda diraih oleh Saudara
Gadis yang kerap disapa Wilang ini mengaku terkejut saat namanya diumumkan oleh Rektor UGM Prof Ova Emilia sebagai lulusan termuda. Sejak usia Sekolah Dasar, Wilang mengaku terbiasa berada di antara peserta didik dengan usia yang lebih tua karena dirinya memulai pendidikan SD pada usia relatif muda. “Saya masuk SD usianya belum genap lima tahun. Saya juga menyelesaikan kelas 4 dan 5 dalam satu tahun berdasarkan rekomendasi guru,” katanya, Senin (31/8).
Perjalanan itu membuat Wilang beberapa kali tercatat sebagai peserta didik termuda. Sebelum menjadi wisudawan termuda UGM, ia juga pernah mendapat predikat sebagai Gadjah Mada Muda (Gamada) termuda. Menurutnya, pencapaian tersebut lebih merupakan konsekuensi dari perjalanan pendidikan yang dimulai sejak usia muda daripada sesuatu yang sengaja dikejar.
Meski demikian, usia yang lebih muda dibandingkan mahasiswa pada umumnya tidak menjadi hambatan berarti selama menempuh pendidikan di UGM. Wilang menuturkan sesekali mendapat candaan dari teman-temannya mengenai usianya, tetapi tidak pernah merasa diremehkan dalam lingkungan akademik. “Teman-teman saya selalu panggil saya orang termuda di dunia, tapi itu cuma percandaan,” kenangnya.
Tantangan terkait usia justru lebih sering ia temui ketika hendak mengikuti berbagai aktivitas di luar kegiatan akademik selama di bangku SD dan SMP hingga SMA. Beberapa program memiliki persyaratan usia minimum sehingga belum dapat diikutinya ketika masih terlalu muda. Salah satunya ketika Wilang ingin mendaftar beasiswa sekolah menengah atas di luar negeri saat masih berusia 12 tahun, tetapi kesempatan tersebut mensyaratkan peserta berusia minimal 15 tahun. Meski begitu, kesempatan expose internasional tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya selama kuliah di UGM. Pada semester lima hingga enam, Wilang mengikuti program pertukaran pelajar selama satu tahunk di Faculty of Agriculture, Yamagata University, Jepang.
Pengalaman tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses pengerjaan penelitian skripsinya. Selama berada di Jepang, Wilang melakukan penelitian di sebuah laboratorium bernama Laboratory of Forest Products dengan mengkaji tanaman Phellodendron amurense Rupr., atau yang dikenal sebagai Amur cork tree. Tanaman tersebut telah digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok dan Jepang, khususnya bagian kulit batangnya yang dikenal sebagai Cortex Phellodendri.
Penelitian Wilang kemudian dituangkan dalam skripsi berjudul “Profil Metabolit Sekunder dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Batang dan Daun Phellodendron amurense Rupr.” Penelitian tersebut berfokus pada identifikasi metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak kulit batang dan daun serta pengujian aktivitas antioksidannya.
Dalam penelitian tersebut, ekstraksi dilakukan menggunakan metanol dan etil asetat. Profil metabolit sekunder dianalisis menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS), sedangkan aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat dari kulit batang memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi dibandingkan ekstrak lainnya.
Wilang juga menemukan sejumlah senyawa metabolit sekunder pada bagian daun dan kulit batang P. amurense. Meskipun demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi tanaman tersebut sebagai sumber antioksidan masih relatif rendah apabila dibandingkan dengan vitamin C maupun beberapa tumbuhan lain yang telah diketahui memiliki aktivitas antioksidan.
“Ditemukan beberapa senyawa metabolit sekunder yang mengandung potensi sebagai antioksidan. Tetapi, tumbuhan ini belum efektif digunakan sebagai sumber senyawa antioksidan,” jelasnya.
Menariknya, proses penelitian tersebut telah diselesaikan Wilang ketika berada di Jepang. Setelah kembali ke Indonesia, ia baru melanjutkan proses penulisan skripsi. Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri karena pada saat kepulangannya, sebagian besar teman satu angkatannya telah mulai sibuk dengan penelitian dan pengerjaan skripsi masing-masing.
Untuk menyelesaikan tahap akhir studinya, Wilang banyak berkomunikasi dengan teman-teman satu angkatan yang telah mendampinginya sejak semester pertama. Ia juga menemukan lingkungan pertemanan baru ketika menjadi asisten praktikum pada semester tujuh. Interaksi tersebut membuatnya banyak mendapatkan dukungan dalam mengerjakan tugas akademik, berdiskusi, hingga mempersiapkan ujian.
Selain dukungan dari teman, Wilang mengapresiasi dukungan dari dosen, pimpinan, serta tenaga kependidikan Fakultas Biologi UGM. Dukungan tersebut terutama ia rasakan dalam berbagai urusan akademik selama mengikuti pertukaran pelajar, termasuk proses konversi SKS. “Saya sangat menghargai dukungan dari dosen dan tenaga kependidikan Fakultas Biologi. Dari berangkat, selama di Jepang, sampai pulang, semuanya didukung,” tuturnya.
Bagi Wilang, pengalaman berkuliah di UGM tidak hanya memberikan bekal akademik, tetapi juga membuka kesempatan untuk mengenal lingkungan dan pengalaman di luar kampus. Ia berencana melanjutkan perjalanan akademiknya dan menekuni bidang akademik pada masa mendatang.
Menurutnya, mahasiswa perlu lebih aktif mencari berbagai kesempatan yang tersedia selama berkuliah. Sebagai institusi besar, UGM memiliki banyak program, beasiswa, pertukaran pelajar, maupun kegiatan lainnya yang tidak selalu secara langsung ditawarkan kepada setiap mahasiswa. “Emang kita harus lebih aktif. UGM sangat mendukung kalau kita mau menjadikan UGM sebagai salah satu langkah menuju keberhasilan,” ujarnya.
Wilang juga berpesan agar mahasiswa membangun relasi yang baik dengan orang-orang di sekitarnya. Menurutnya, sikap ramah dan terbuka dapat membantu mahasiswa membangun jejaring sekaligus menemukan berbagai peluang baru.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Wilang
