Kemasan tidak hanya melindungi produk dari kerusakan dan kontaminasi, tetapi juga membentuk kesan pertama konsumen. Karena itu, kemasan perlu disesuaikan dengan jenis produk, daya tahan, dan sasaran pasar. Label pada kemasan perlu memuat informasi sesuai ketentuan, sedangkan merek berfungsi sebagai identitas dan pembeda produk dari pesaing.
Hal itu mengemuka dalam workshop UMKM Class Series ke-39 yang diselenggarakan Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPKM) UGM bersama Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kabupaten Gunungkidul. Pelatihan ini membekali pelaku usaha dengan pengetahuan tentang pengemasan, pelabelan, penguatan merek, dan pemasaran digital. Sebanyak 30 peserta pelaku UMKM di berbagai kapanewon di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengikuti kegiatan ini.
Dosen Fakultas Peternakan UGM, Dr. Ir. Endy Triyannanto, S.Pt., M.Eng., IPM., ASEAN Eng., mengatakan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu memperhatikan soal pengemasan, pelabelan, dan pembangunan merek produk. Ia menjelaskan indikator kinerja utama (Key Performance Indicator atau KPI) untuk mengevaluasi kualitas kemasan, merek, dan label produk. “Pengukuran ini membantu pelaku usaha mengetahui kekurangan produk serta menentukan perbaikan yang diperlukan agar mampu bersaing di pasar,” ujarnya, Senin (12/10).
Selanjutnya, praktisi digital marketing dan konsultan, Yuanita Adhelia Prawestry, S.Pt., mengajak pelaku UMKM memanfaatkan media sosial dan platform jual beli daring untuk memperluas jangkauan konsumen. Tidak sekedar selesai mendaftar, pelaku UMKM juga mempelajari pengelolaan toko melalui Shopee Seller Centre, mulai dari pendaftaran, pengunggahan produk, hingga pemantauan kinerja toko. “Kita harus mempelajari strategi pemasaran tersebut perlu disertai tujuan usaha yang jelas, keunggulan produk yang membedakannya dari pesaing, serta evaluasi berkala terhadap hasil pemasaran,” paparnya.
Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kabupaten Gunungkidul, Supartana, S.T., M.T., menyoroti potensi UMKM lokal untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, peningkatan kualitas kemasan, merek, dan label tetap diperlukan agar produk lokal semakin mampu bersaing. “UMKM di Gunungkidul memiliki potensi untuk berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas. Karena itu, peningkatan kualitas kemasan, merek, dan label produk perlu menjadi perhatian agar produk lokal semakin menarik dan mampu bersaing” ujar Supartana.
Ia juga menyampaikan dukungan pemerintah daerah terhadap produk lokal melalui gerakan “Grebeg Pasar dan Gema Srikandi”, termasuk dengan mendorong aparatur sipil negara (ASN) membeli produk UMKM setempat.
Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat DPkM UGM, Dr. Djoko Santosa, mengapresiasi kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dalam mendukung pengembangan UMKM. Pembinaan pelaku usaha di Gunungkidul selama ini dilakukan melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat, termasuk penerjunan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi, memperluas jaringan pemasaran, dan membangun kemandirian usaha.
“Kolaborasi antara UGM dan pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam mendukung pengembangan UMKM. Melalui pendampingan dan program pengabdian kepada masyarakat, kami berharap pelaku UMKM dapat meningkatkan kapasitas produksi, memperluas jaringan pemasaran, dan semakin mandiri dalam mengembangkan usahanya,” ujar Djoko (9/10).
Melalui UMKM Class Series ke-39, DPKM UGM bersama Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berharap dapat terus mendampingi pelaku UMKM dalam meningkatkan kualitas produk dan strategi pemasaran. Upaya ini diharapkan mendorong UMKM lokal semakin mandiri, meningkatkan daya saing, serta memperluas jangkauan pasar hingga tingkat regional dan nasional.
Penulis : Adinda Putri Rahma
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. DPkM
