Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Gennadievich Tolchenov, berkunjung ke Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Russian House pada Rabu (7/10) di Gedung Pusat UGM. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari pembahasan peluang penguatan kerja sama di bidang pendidikan dan riset antara UGM dan institusi pendidikan di Rusia. Dalam pertemuan tersebut, Sergei membahas beberapa agenda utama, yaitu rencana pembukaan Russian Studies di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, penguatan riset energi nuklir, serta pengembangan riset bersama di bidang tropis dan kawasan polar.
Terkait rencana pembukaan Russian Studies di FIB UGM, Sergei menyampaikan bahwa pengembangan kajian bahasa dan budaya Rusia dapat membuka peluang akademik yang lebih luas, baik bagi mahasiswa Indonesia maupun untuk kerja sama pendidikan lintas negara. Menurutnya, pengembangan pembelajaran bahasa Rusia juga dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkuat hubungan akademik antara Indonesia dan Rusia.
Head of Education Russian House, Valeria Sharova, menambahkan bahwa Russian House saat ini telah menjalankan pengajaran bahasa Rusia dan berupaya memperluas akses pembelajarannya. Upaya tersebut juga mencakup pengembangan kapasitas pengajar melalui kesempatan mempelajari bahasa Rusia sebagai bahasa asing bagi mahasiswa internasional. “Ini merupakan program yang sangat, sangat intensif. Kami berencana untuk melanjutkan pekerjaan ini, mungkin di masa mendatang,” ujar Valeria.
Selain pengembangan Russian Studies, pertemuan juga membahas kesempatan bagi warga negara Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di Rusia melalui Russian Government Scholarship dan Rosatom Scholarship. Kedua skema tersebut dinilai dapat menjadi peluang bagi mahasiswa dan akademisi UGM untuk memperoleh pengalaman pendidikan sekaligus memperluas kerja sama akademik dengan institusi di Rusia.
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., turut mengusulkan pengembangan program double degree bagi mahasiswa UGM dengan universitas mitra di Rusia. Program tersebut diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada mahasiswa terpilih untuk mengikuti pendidikan di kedua institusi sebagai bagian dari pengalaman akademiknya. “Kami sebenarnya tertarik dengan double degree. Terkadang kami menggabungkannya dengan program untuk mahasiswa sarjana. Kami mencoba memilih kandidat terbaik, kemudian mempersiapkan mereka untuk mengikuti double degree di Rusia dan melanjutkan studi di Rusia,” ujar Ova Emilia.
Menanggapi usulan tersebut, Sergei menyampaikan bahwa program double degree dapat dikembangkan melalui kesepakatan antara UGM dan universitas mitra di Rusia. Kerja sama antarinstitusi tersebut nantinya dapat menjadi dasar untuk menentukan mitra yang sesuai serta mengatur bentuk dukungan yang diperlukan dalam pelaksanaan program.
Peluang Riset Tropis dan Polar
Pembahasan berikutnya berfokus pada peluang pengembangan riset bersama di bidang tropis dan kawasan polar. Sergei menyampaikan bahwa kerja sama penelitian tersebut dapat mencakup berbagai aspek, termasuk kajian mengenai kawasan utara dan pengembangan Northern Maritime Route yang menghubungkan kawasan Asia-Pasifik dan Eropa melalui jalur utara. “Hal ini tidak hanya berkaitan dengan pendidikan tinggi. Ada dimensi yang praktis dan dinamis karena sekarang kami mulai semakin banyak membahas Northern Maritime Route. Kapal dapat berlayar dari Asia-Pasifik menuju Eropa tidak hanya melalui Samudra Hindia, tetapi juga melalui Samudra Utara. Jalur ini lebih pendek dan juga lebih efisien,” ujar Sergei.
Menurutnya, pengembangan bidang tersebut juga membuka peluang keterlibatan perusahaan dan ilmuwan Indonesia dalam kegiatan penelitian dan kerja sama internasional. “Proyek ini juga ingin mengundang lebih banyak perusahaan dari Indonesia dan lebih banyak ilmuwan dari Indonesia untuk bekerja sama dalam bidang ini,” katanya.
Penguatan SDM di Bidang Nuklir
Sementara itu, dalam diskusi bersama Program Studi Teknik Nuklir UGM, Sergei turut membahas peluang kerja sama pengembangan sumber daya manusia di bidang energi nuklir. Ia menyampaikan bahwa pengembangan energi nuklir di Indonesia membutuhkan tenaga ahli dari berbagai bidang, mulai dari ilmuwan, insinyur, teknisi, hingga tenaga terampil yang mendukung pembangunan dan pengoperasian pembangkit listrik tenaga nuklir.
Menurut Sergei, kebutuhan tersebut perlu dipersiapkan sejak awal karena pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir membutuhkan proses panjang serta kesiapan sumber daya manusia yang matang. “Dalam hal ini, Indonesia tidak hanya membutuhkan ilmuwan, tetapi juga insinyur, pekerja, teknisi, dan sebagainya. Karena pembangkit listrik tenaga nuklir bukan sesuatu yang mudah, tetapi juga bukan sesuatu yang dapat dilakukan dengan cepat. Kita punya waktu, tetapi kita harus jujur mengenai hal tersebut,” ujar Sergei.
Melalui kunjungan tersebut, UGM dan pihak Rusia membahas sejumlah peluang yang dapat dikembangkan lebih lanjut, mulai dari penguatan kajian Russian Studies, akses pendidikan melalui program beasiswa, hingga pengembangan riset bersama di bidang tropis, polar, dan energi nuklir. Pembahasan tersebut menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi bentuk kerja sama yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan akademik dan penelitian kedua pihak.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
