Pengembangan potensi produktivitas komoditas kakao di wilayah Dlingo, Bantul, masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada aspek kelembagaan dan pemasaran. Kondisi ini berdampak pada belum optimalnya nilai tambah yang diperoleh petani. Menjawab situasi tersebut, mahasiswa Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian (PKP), Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada melaksanakan program pendampingan melalui skema Merdeka Belajar Kampus Berdampak (MBKB) . Kegiatan ini dilaksanakan di Dusun Terong dengan melibatkan kelompok tani kakao setempat. Program difokuskan pada penguatan kapasitas sosial dan organisasi petani sebagai fondasi pengembangan kakao berkelanjutan.
Program pendampingan dipimpin oleh Salma Darajatun sebagai Person in Charge (PIC) bersama rekan tim mahasiswa lainnya yang terdiri dari Azarine Malika Zayyan, Aisya Alifarizki, dan Muhammad Rafi Gunadi. Pendampingan dirancang dengan pendekatan partisipatif agar petani terlibat aktif dalam setiap proses. Selain berfokus pada peningkatan produksi, kegiatan ini juga membidik penguatan sistem kelompok tani. “Kami ingin petani tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi memiliki kelembagaan yang kuat dan mampu mengambil keputusan secara mandiri,” ujar Salma dalam keterangan yang dikirim Rabu (22/4).
Dalam pelaksanaannya, tim mahasiswa menggandeng PT Cipta Inovasi Berkelanjutan (Ailesh) sebagai mitra strategis. Kolaborasi ini menghadirkan pendekatan yang mengintegrasikan inovasi, komunikasi, serta prinsip keberlanjutan. Ailesh turut mendukung proses pendampingan melalui edukasi dan penguatan praktik pemberdayaan masyarakat. “Sinergi ini memperkaya perspektif mahasiswa dan petani dalam mengelola komoditas kakao. Pendekatan kolaboratif tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem yang berkelanjutan di tingkat lokal,” ujarnya.

Pendampingan dilakukan melalui berbagai kegiatan partisipatif, salah satunya Focus Group Discussion (FGD). Melalui forum ini, petani bersama mahasiswa dan mitra mendiskusikan berbagai tantangan dan peluang pengembangan kakao. Proses ini menjadi ruang untuk menggali aspirasi sekaligus merumuskan solusi bersama. Petani dilibatkan sebagai subjek utama dalam proses perencanaan dan implementasi program. Hasil diskusi menjadi dasar pengembangan strategi penguatan kelembagaan dan pemasaran kakao.
Dari hasil FGD, teridentifikasi sejumlah tantangan yang dihadapi petani kakao di Dlingo. Permasalahan meliputi serangan hama dan penyakit tanaman, keterbatasan air, hingga kebutuhan bibit yang belum terpenuhi secara optimal. Selain itu, sistem pemasaran yang belum terorganisir membuat nilai jual kakao masih rendah. Kepercayaan petani terhadap sistem pemasaran kolektif juga masih perlu diperkuat. Kondisi ini menjadi perhatian utama dalam perumusan program pendampingan lanjutan.
Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Jasema, Sugiyono, menyampaikan optimismenya terhadap pengembangan kakao di wilayah tersebut. Ia menilai potensi kakao di Dlingo masih dapat ditingkatkan jika dikelola dengan baik. Pengalaman dari daerah lain menjadi referensi bagi petani untuk berkembang. Semangat petani untuk belajar dan beradaptasi juga terus meningkat. “Harapannya ke depan, hasil kakao di sini bisa meningkat hingga skala kuintal bahkan ton,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), Rohmat Hidayat, menekankan pentingnya peningkatan kualitas dan sistem pemasaran. Ia menilai persoalan utama tidak hanya terletak pada budidaya, tetapi juga pada nilai jual produk. Rohmat menegaskan upaya penguatan kelembagaan menjadi kunci untuk mendorong pemasaran kolektif yang lebih efektif. Dukungan dari BPP diharapkan mampu memperkuat program pendampingan yang telah berjalan. “Ke depan, perlu dibangun kelembagaan yang kuat dan terbuka agar petani mampu meningkatkan nilai jual kakao,” jelasnya.
Melalui program MBKB ini, mahasiswa UGM tidak hanya memberikan pendampingan awal, tetapi juga membuka peluang kolaborasi berkelanjutan. Sinergi antara mahasiswa, mitra, dan pemangku kepentingan diharapkan mampu memperkuat sistem pertanian lokal. Program ini menjadi contoh nyata peran perguruan tinggi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat berbasis potensi wilayah. Penguatan kapasitas dan kelembagaan menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing petani. Dengan upaya yang konsisten, kakao Dlingo diharapkan mampu berkembang sebagai komoditas unggulan yang berkelanjutan.
Reportase : Aisya Alifarizki
Penulis : Triya Andriyani
Foto : Dok.Tim
