Timbunan sisa makanan di Asrama Putri Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul, dapat mencapai sekitar 30-40 kilogram setiap harinya, dengan nasi dan sayur menjadi jenis makanan yang paling banyak tersisa di tumpukan sisa tersebut. Melihat fenomena ini, santri dan pengelola pondok menyusun langkah bersama untuk mengurangi jumlah makanan yang tersisa sekaligus mengolah sisa yang masih dihasilkan melalui program “Santri Lawan Food Waste”. Proses tersebut didampingi tiga mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada.
Kadek Darmawan, Stella Stritamar Amabi, dan Karimatul Khalidah mendampingi kegiatan tersebut sebagai bagian dari Mata Kuliah Pemberdayaan Masyarakat dan Networking. Tahap pertama yang mereka lakukan ialah observasi dan wawancara untuk memahami keseharian santri serta pengelolaan makanan di asrama. Kemudian, dari temuan awal tersebut, bersama santri dan unsur pengelola pondok, yaitu pengurus asrama, pengelola dapur, dan pengelola pondok limbah, mereka mengenali penyebab makanan tersisa dan menentukan langkah yang sesuai dengan kondisi serta sumber daya yang tersedia di pondok.
Kadek menjelaskan bahwa proses pendampingan membantu mahasiswa memahami persoalan sisa makanan dari pengalaman sehari-hari santri dan pengelola pondok. Dari diskusi yang telah dilakukan, mereka menemukan beberapa faktor yang memengaruhi makanan tersisa, antara lain rasa dan selera, kebiasaan mengonsumsi makanan ringan, suasana hati, porsi yang diambil, dan keterbatasan waktu makan. “Kami belajar bersama santri dan pengelola pondok untuk memahami berbagai faktor yang menyebabkan makanan tersisa. Usulan kegiatan muncul dari pengalaman dan kebutuhan mereka, sedangkan kami membantu membuka ruang diskusi agar setiap pihak dapat menyampaikan pandangan dan masukan,” ujar Kadek dalam keterangan yang dikirim Kamis (18/6).
Dari rangkaian diskusi tersebut, santri dan pengelola pondok memilih empat kegiatan utama, yaitu edukasi tentang pengambilan porsi dan kebiasaan menghabiskan makanan, penyediaan kotak saran menu, pengaktifan kembali budidaya maggot Black Soldier Fly, serta pengembangan lomba kebersihan kamar yang memasukkan aspek pengurangan sisa makanan.
Dari empat kegiatan yang dipilih, tiga telah dijalankan. Pesan tentang pengambilan porsi sesuai kebutuhan, manfaat mengonsumsi makanan bergizi, dan pentingnya menghabiskan makanan disampaikan dalam kegiatan pembinaan santri setiap Jumat malam setelah salat Isya. Materinya dihubungkan dengan nilai yang telah hidup di lingkungan pesantren, seperti sikap tidak berlebih-lebihan atau israf, rasa syukur, dan tanggung jawab dalam memanfaatkan makanan secara bijaksana.
Kotak saran menu juga telah disediakan sebagai saluran komunikasi antara santri dan pengelola dapur. Melalui kotak tersebut, santri dapat menyampaikan masukan mengenai rasa, variasi, porsi, dan menu yang disajikan. Masukan yang terkumpul selanjutnya dapat menjadi bahan pembahasan bagi pengurus dan pengelola dapur. Sementara itu, pengelola pondok limbah mulai mengaktifkan kembali budidaya maggot setelah sekitar empat bulan tidak berjalan. Maggot tersebut dimanfaatkan untuk mengolah sisa makanan yang masih dihasilkan.
Kegiatan berikutnya, yaitu pengembangan lomba kebersihan kamar, masih dalam tahap persiapan untuk dimasukkan ke dalam agenda pondok yang berlangsung dua kali setahun. Dalam rancangan tersebut, upaya setiap kamar dalam mengurangi dan menangani sisa makanan menjadi salah satu aspek penilaian. Kamar dengan hasil terbaik memperoleh penghargaan, sedangkan kamar yang menghasilkan sisa makanan paling banyak mengikuti pembinaan edukatif kelompok, seperti menyampaikan kultum, membuat poster, mengampanyekan kebiasaan menghabiskan sayur, atau membantu kegiatan di dapur.
Dosen Tutor Mata Kuliah Pemberdayaan Masyarakat dan Networking, Yunita Fitrianti, S.Ant., M.Sc., mendampingi mahasiswa sejak tahap pendekatan kepada santri dan pengelola pondok hingga pelaksanaan awal kegiatan. Ia mengungkapkan bahwa pembelajaran terpenting bagi mahasiswa adalah belajar menempatkan santri dan pengelola pondok sebagai subjek yang memahami persoalannya sendiri, bukan sekadar sasaran kegiatan. Mahasiswa belajar mendengarkan lebih dulu, mengenali sumber daya dan nilai yang sudah hidup di pesantren, lalu membantu menumbuhkan inisiatif dari dalam. “Dengan cara itu, program yang lahir bukan milik mahasiswa, melainkan milik pondok, sehingga lebih mungkin untuk dilanjutkan,” ujar Yunita.
Keterlibatan santri dan pengelola pondok pun menjadi bagian penting agar kegiatan tersebut dapat diteruskan setelah masa pendampingan mahasiswa berakhir. Pengelola pondok memberikan tanggapan positif terkait kegiatan ini. “Kami menyambut baik pelaksanaan program ini karena memberikan ruang bagi santri untuk belajar sekaligus berpartisipasi dalam upaya mengurangi sisa makanan di lingkungan pondok. Pondok berharap inisiatif ini dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan sebagai bagian dari pendidikan karakter, sehingga nilai-nilai tanggung jawab, kepedulian sosial, dan kepedulian lingkungan dapat tertanam secara berkelanjutan pada diri santri,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad, KH. Ahmad Murod, S.Ag.
Bagi mahasiswa, pendampingan tersebut menjadi pengalaman untuk mendengarkan kebutuhan santri dan pengelola pondok, mengenali sumber daya yang telah tersedia, serta mendukung pelaksanaan kegiatan tanpa mengambil alih proses pengambilan keputusan. Melalui keterlibatan santri dan pengelola pondok, “Santri Lawan Food Waste” mendukung upaya mengurangi sisa makanan dari sumbernya dan membangun kebiasaan konsumsi yang lebih bertanggung jawab, sejalan dengan SDGs nomor 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Kontributor : Kadek Darmawan
Penulis : Leony
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok.Tim dan Magnific
