Guru Besar tidak hanya mengemban tugas menjalankan tridarma perguruan tinggi pada aspek akademik, riset dan pengabdian masyarakat serta menghasilkan karya publikasi. Lebih dari itu, para Guru Besar di lingkungan perguruan tinggi juga diminta untuk mampu merumuskan pemikiran strategis yang berkontribusi bagi mengatasi persoalan pada isu-isu lokal, nasional, hingga global. “Guru besar harus mampu merumuskan pemikiran strategis terhadap berbagai persoalan bangsa,” kata Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., dalam workshop The Academic Learning Training on Innovative Transformation for University Development and Empowerment, yang berlangsung di Balai Senat UGM, Rabu (29//4) lalu.
Lebih lanjut, Baiquni menekankan peran Guru Besar untuk mengawal peran dan kontribusi UGM sebagai universitas nasional dan universitas perjuangan memiliki nilai khas yang berakar pada Pancasila, kerakyatan, dan kebudayaan. “Nilai-nilai tersebut perlu terus diinternalisasikan oleh sivitas akademika dalam setiap kontribusi keilmuan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya Guru Besar untuk meneladani nilai dan sikap dari para tokoh-tokoh bangsa, seperti Sri Sultan Hamengkubuwono IX, serta akademisi UGM terdahulu yang telah memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa melalui ilmu pengetahuan dan pengabdian.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Jaringan, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., dalam sambutannya menegaskan bahwa peran guru besar sebagai academic leader sangat strategis dalam menghadapi tantangan global. Ia menilai dunia saat ini tengah menghadapi berbagai krisis yang saling berkaitan, mulai dari krisis iklim, energi, pangan, hingga disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan. “Universitas harus mampu melihat kondisi ini tidak hanya sebagai tantangan, tetapi juga sebagai wave of opportunities untuk melahirkan solusi inovatif,” ujarnya.
Ia mencontohkan berbagai upaya yang dapat dilakukan, seperti pengembangan precision agriculture, inovasi benih unggul, energi terbarukan, hingga penguatan hilirisasi industri berbasis sumber daya nasional. Dalam hal ini, pendekatan yang diusung adalah triple win, yaitu pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan inklusi sosial. Danang juga menekankan pentingnya peran guru besar sebagai penjaga nilai, integritas, dan arah moral perguruan tinggi, sekaligus mentor bagi generasi akademisi muda.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, M.P.P., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program “Altitude” yang telah memasuki tahap keempat. Program ini diintegrasikan dengan forum pemikiran Dewan Guru Besar untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan berbasis pengetahuan. Ia menyampaikan bahwa kegiatan menghadirkan sejumlah narasumber dari pemerintah, industri, dan akademisi, di antaranya perwakilan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Kementerian Perindustrian, serta praktisi industri.
Selain sesi diskusi, rangkaian kegiatan juga akan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke Kawasan Industri Kendal pada 6 Mei mendatang. Agenda ini bertujuan memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah daerah dalam mendorong implementasi riset dan inovasi.
Melalui kegiatan ini, UGM berharap para guru besar dapat membangun kesepahaman, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta menghasilkan gagasan strategis yang dapat diimplementasikan secara konkret. “Setiap guru besar diharapkan memiliki karya unggulan yang dapat disinergikan menjadi solusi berbasis riset untuk masyarakat luas,” tutup Baiquni.
Kegiatan workshop ini menjadi bagian dari komitmen UGM untuk terus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat inovasi, pengembangan ilmu pengetahuan, serta agen transformasi bagi pembangunan bangsa.
Penulis : Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
