Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, Indonesia dirasa perlu memperkuat posisi diplomasi luar negerinya. Kerumitan tergambarkan pada maraknya konflik militer, teknologi, dan ekonomi yang terjadi dalam percaturan hubungan luar negeri di tingkat global sekarang ini. Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arif Havas Oegroseno, S.H., LL.M., mengatakan terdapat perubahan pola geopolitik global dari era perang dingin hingga menuju kompetisi teknologi dan ekonomi. “Jika dahulu persaingan didominasi ideologi, kini teknologi, energi, hingga rantai pasok global menjadi sorotan geopolitik baru. Sekarang semuanya bisa menjadi senjata. Teknologi jadi senjata, semikonduktor jadi senjata, energi jadi senjata,” kata Arif pada kuliah umum bertajuk “Diplomasi Indonesia dalam Peta Geopolitik Global” oleh Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Jumat (22/5). .
Arif menyoroti posisi Indonesia yang dinilai cukup strategis dalam isu energi dan mineral kritis. Menurutnya, Indonesia memiliki critical mineral seperti sumber daya nikel, bauksit, serta lainnya yang kini menjadi perhatian global di tengah transisi energi dunia. “Pemerintah kini tengah gencar melakukan kerja sama internasional dengan berbagai negara untuk memperkuat ketahanan di bidang critical risk,” ujarnya.
Menurutnya, sejak era kemerdekaan, Indonesia selalu menggunakan landasan kebijakan luar negeri dengan mengedepankan prinsip politik luar negeri bebas aktif membuat Indonesia tidak terikat pada blok kekuatan tertentu. Alhasil, Indonesia tetap bebas menjalin hubungan dengan berbagai negara tanpa harus menjadi bagian dari aliansi tertentu.
Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional. Menurutnya, mahasiswa memiliki peluang besar untuk membangun kekuatan diplomasi Indonesia melalui pengalaman global seperti pertukaran pelajar, double degree, hingga magang di luar negeri. “Kesempatan-kesempatan seperti double degree atau magang di luar negeri itu, meskipun kecil, juga bisa menjadi satu alat kontrol bagaimana orang Indonesia dipandang di luar negeri,” ujarnya.
Ia juga menyinggung berbagai dinamika geopolitik global seperti konflik perang Rusia-Ukraina hingga perang Iran. Menurutnya, posisi Indonesia dalam hubungan internasional masih perlu terus diperkuat agar suara Indonesia semakin diperhitungkan. “Pak Presiden sudah menyuarakan berbagai isu internasional, tetapi tentu kita bisa menilai sendiri seberapa kuat peran Indonesia didengar dunia. Karena itu kita perlu belajar bagaimana membangun kekuatan diplomasi agar lebih diperhitungkan bangsa lain,” katanya.
Penulis/Foto : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
