Di usianya yang baru menginjak 22 tahun 1 bulan 20 hari, Safiera Anindya Syaafiyana berhasil menyelesaikan studi Magister Kehutanan di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada . Dalam Wisuda Program Pascasarjana Periode I Tahun Akademik 2026/2027 yang berlangsung pada 28–29 Oktober lalu, Safiera tercatat sebagai lulusan termuda program magister UGM. Adapun pencapaian tersebut diraih Safiera lewat program fast track yang memungkinkannya mulai menempuh pendidikan magister saat masih menjalani semester tujuh di jenjang sarjana. Padahal Rerata usia 2.145 lulusan Program Magister periode ini adalah 29 tahun 6 bulan 15 hari.
Safiera bercerita, mulanya, keinginannya menjadi akademisi dan peneliti menjadi salah satu alasan mengapa ia mantap mengikuti program fast track. Baginya, pendidikan magister merupakan salah satu langkah untuk mengembangkan minatnya di bidang akademik. Adapun kesempatan mengikuti program tersebut kian menarik karena Fakultas Kehutanan UGM saat itu baru pertama kali membuka program fast track bagi mahasiswanya. “ Menurutku, pendidikan yang lebih tinggi dari S1 menjadi salah satu bekal untuk menekuni cita-cita itu. Jadi, ketika ada kesempatan mengikuti fast track, ya aku merasa program itu sejalan dengan tujuanku,” ujar Safiera, Kamis (5/11).
Berkesempatan untuk menyelesaikan pendidikan lebih cepat, Safiera mengaku perjalanan fast track tidak selalu berjalan mulus. Sebagai mahasiswa angkatan pertama program tersebut di Fakultas Kehutanan UGM, ia menghadapi sejumlah kendala akademik dan administratif yang belum sepenuhnya terintegrasi. Salah satunya ialah benturan jadwal perkuliahan sarjana dan magister. “Karena masih angkatan pertama banget, ada banyak hal-hal yang tidak terpikirkan yang malah terjadi terjadi pada saat itu. Salah satunya aku pernah ada kendala di tabrakan mata kuliah S1 sama S2,” tuturnya.
Di tengah kesibukannya menyelesaikan dua jenjang pendidikan sekaligus, Safiera juga berupaya mewujudkan keinginannya untuk mengikuti program pertukaran mahasiswa. Saat masih menempuh semester tujuh sarjana sekaligus mengikuti awal perkuliahan magister, ia sempat mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Singapura, tepatnya di National University of Singapore (NUS) selama satu semester. Tak hanya itu, memasuki semester 3 Magister, ia juga sempat mengikuti program magang di salah satu perusahaan kebun karet. “Jujur aku emang suka banget sih belajar. Kesempatan-kesempatan kayak gitu aku pikir cuma bisa aku dapat ketika jadi mahasiswa. Jadi salah satunya itu aku pengen memanfaatkan waktuku selama kuliah sebaik-baiknya,” jelasnya.
Meski dilanda jadwal yang padat, Safiera mengaku tak ingin ambil pusing. Ia memilih mengatasinya dengan mengatur waktu dan menyusun skala prioritas agar kerja-kerja akademiknya dapat lebih efisien. Sedari awal perkuliahan magister, ia mulai membiasakan diri membuat daftar kegiatan mingguan serta membagi waktu untuk menyelesaikan tugas kuliah dan tesis. “Aku biasanya bikin to-do list mingguan. Dari situ, aku atur apa yang harus dikerjakan setiap hari dan kapan waktunya fokus ke tesis, kuliah, atau tugas lain. Jadi, semuanya bisa lebih terencana,” ungkapnya.
Di balik upayanya mengatur waktu, Safiera juga mengaku mendapat dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Ia bersyukur orang tuanya mampu menaruh rasa percaya kepada dirinya untuk mengambil kesempatan mengikuti program fast track, kendati sempat khawatir apakah ia sanggup menjalani dua jenjang pendidikan sekaligus. Selain itu, dukungan juga datang dari dosen pembimbingnya, Prof. Dr. Ir. Ronggo Sadono, yang mendampingi Safiera sejak penyusunan skripsi hingga tesis.
Safiera menuturkan, dukungan dari Prof. Ronggo turut membantunya melewati berbagai tantangan selama menjalani studi. Ia merasa sangat terbantu oleh keleluasaan yang diberikan dalam proses bimbingan, termasuk ketika harus mengikuti program pertukaran mahasiswa di Singapura maupun menjalani magang. “Bahkan ketika aku sedang ada kegiatan di luar kampus, beliau tetap membantu supaya proses studi dan penyusunan tugas akhirku bisa berjalan,” tuturnya.
Setelah merampungkan studi magister dengan tesis yang bertajuk “Pengembangan Kriteria dan Indikator Keberlanjutan Pengelolaan Hutan Adat: Studi Kasus Orang Rimba Jambi”, kini Safiera bekerja di Royal Lestari Utama, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan karet.
Menutup ceritanya, Safiera berpesan kepada para mahasiswa yang masih menempuh studi agar tidak menyia-nyiakan berbagai kesempatan yang hadir selama masa perkuliahan. Baginya, masa menjadi mahasiswa merupakan waktu yang berharga untuk mencoba banyak hal, mengembangkan diri, dan memperluas pengalaman. Tak lupa, ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak terlalu terpaku pada pandangan orang lain yang dapat menghambat langkah mereka dalam mencoba sesuatu. “Menurutku, manfaatkanlah kesempatan yang ada selama masih menjadi mahasiswa. Waktu itu nggak bisa diulang lagi. Jangan terlalu fokus sama suara-suara yang bikin kita ragu, tapi tetap terbuka untuk belajar dan mencoba hal baru,” tutupnya.
Penulis : Agito Sitepu
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Safiera
