Madu terus menunjukkan potensinya sebagai komoditas unggulan yang mampu memenuhi kebutuhan domestik sekaligus menembus pasar global. Dengan kekayaan hutan tropis yang dimiliki Indonesia, ketersediaan madu sebagai sumber nektar alami menjadi modal besar dalam pengembangan industri madu nasional yang berkelanjutan dan bernilai tinggi. Diketahui, setidaknya ada 300 jenis madu yang dihasilkan oleh lebih dari 20.000 spesies lebah madu yang ada di dunia. Jenis madu itu umumnya ditentukan berdasarkan jenis nektar atau sari bunga yang dihisap lebah madu.
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM bidang fitoterapi, Prof. Dr.rer.nat. apt. Nanang Fakhrudin, M.Si., mengatakan madu diketahui memiliki kandungan senyawa antibakteri, antioksidan, antiinflamasi, serta berperan dalam proses penyembuhan luka. “Manfaat tersebut dipengaruhi oleh komposisi fenolik, enzim, kadar gula, serta karakter fisikokimia madu,” kata Nanang dalam keterangan yang dikirim ke wartawan, Senin (11/5).
Menurutnya, madu semakin banyak diminati sebagai pemanis alami yang rendah kalori dan kaya nutrisi. Kesadaran masyarakat Indonesia terkait hal ini turut mendorong pertumbuhan usaha madu. Namun demikian, masih banyak pelaku usaha yang belum memiliki pemahaman komprehensif mengenai parameter mutu madu yang baik, seperti kadar air, aktivitas enzim diastase, kandungan hidroksimetilfurfural (HMF), serta profil gula. “Pemahaman pelaku usaha terhadap standar internasional seperti Codex Alimentarius maupun Standar Nasional Indonesia (SNI) juga masih terbatas,” katanya.
Nanang menjelaskan terdapat beberapa permasalahan utama yang dihadapi pelaku usaha madu di tanah air saat ini. Diantaranya rendahnya literasi terkait standar mutu madu dan parameter fisikokimia yang penting, minimnya pemahaman mengenai metode ilmiah untuk mendeteksi madu palsu atau adulterasi, serta terbatasnya akses terhadap pengujian laboratorium yang valid dan independen. “Tanpa pemahaman yang memadai, pelaku usaha akan kesulitan menjaga kualitas produknya dan bersaing di pasar yang semakin kompetitif,” ujarnya.
Bagi Nanang, maraknya praktik adulterasi madu berupa panen dini hingga penambahan bahan seperti sirup gula tebu dan sirup jagung tinggi fruktosa menjadi masalah penting. Selain merugikan secara ekonomi, praktik ini juga menurunkan kepercayaan konsumen terhadap produk madu. Bahkan, pemalsuan asal-usul madu kerap terjadi, dimana madu dari jenis tertentu diklaim sebagai madu hutan atau madu klanceng untuk meningkatkan nilai jual. Padahal berbagai metode ilmiah sebenarnya telah dikembangkan untuk mendeteksi keaslian madu, seperti isotopic ratio mass spectrometry (IRMS), nuclear magnetic resonance (NMR), kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC), hingga analisis spektro inframerah. “Metode-metode tersebut belum banyak dipahami oleh pelaku usaha madu di tingkat lokal karena keterbatasan akses dan literasi,” ujarnya.
Menanggapi keadaan tersebut, Nanang menekankan pentingnya pendekatan literasi yang mempertimbangkan keragaman latar belakang masyarakat, termasuk petani dan pelaku usaha madu. Edukasi tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada praktik sederhana yang dapat diterapkan secara langsung di lapangan. “Peningkatan literasi sains harus disesuaikan dengan konteks masyarakat. Pendekatannya tidak bisa seragam, tetapi perlu mempertimbangkan kebutuhan dan keterikatan mereka terhadap aktivitas produksi,” tekannya.
Nanang berharap melalui penguatan literasi dan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, serta pelaku usaha, masyarakat tidak hanya mampu mengidentifikasi madu palsu, tetapi juga meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Dengan demikian, madu Indonesia dapat memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar global sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Menurutnya, penguatan sektor madu tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga pada peningkatan literasi masyarakat, khususnya dalam memahami kualitas dan keaslian produk madu. “Pendekatan berbasis riset aplikatif dinilai menjadi kunci dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi oleh konsumen dan pelaku usaha madu di tingkat lokal,”imbuhnya.
Penulis: Jesi
Editor: Gusti Grehenson
Foto: Dok. Fakultas Farmasi
