Ada yang unik di pelataran hutan pinus Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Jumat (17/7) sore. Puluhan anak muda duduk lesehan di atas tikar atau kain selendang. Mereka khidmat membaca buku yang dipegang masing-masing. Barangkali situasi ini jamak kita temukan di ruang perpustakaan. Namun kali ini, mereka memilih membaca buku di bawah rindang pohon pinus.
Kegiatan baca buku bareng ini menjadi bagian dari acara membaca secara senyap (silent reading) bertajuk “Hening” (Healing Through Nature and Reading) yang diinisiasi pengelola GIK yang berkolaborasi dengan dibukumoerah.id, @bacabarengjogja, dan brilliantbookscorner. Momen ini, peserta tidak hanya berkesempatan diajak menikmati waktu membaca di ruang terbuka, tetapi juga menghadirkan sesi berbagi hasil bacaan serta meditasi ringan.
Kegiatan silent reading bertajuk Hening ini dinilai sebagai upaya positif untuk menumbuhkan budaya membaca di tengah masyarakat. Salah seorang peserta asal Bandung, Irhamna, mengaku terkesan dengan iklim literasi di Yogyakarta sejak melanjutkan studinya di kota tersebut. Menurutnya, berbagai kegiatan literasi yang rutin digelar di banyak tempat menjadi salah satu alasan Yogyakarta layak menyandang predikat sebagai Kota Pelajar. “Wajar kalau Yogyakarta disebut Kota Pelajar. Kegiatan seperti ini ramai dan mudah kita temui,” ujar mahasiswa Magister Sejarah FIB UGM tersebut.
Meski baru pertama kali mengikuti kegiatan membaca bersama di ruang terbuka, Irhamna menilai konsep tersebut mampu menghadirkan pengalaman yang berbeda sekaligus mendorong masyarakat memandang membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan dan penting. “Membaca itu tidak bisa dipaksakan karena harus tumbuh dari diri sendiri. Harapannya, ketika masyarakat melihat kegiatan seperti ini di ruang publik, mereka akan semakin sadar bahwa membaca merupakan kebiasaan yang penting,” tutupnya
Marketing Communication GIK UGM, Cham Husein, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan pemanfaatan ruang terbuka di kawasan paling selatan GIK UGM, tepatnya di Hutan Pinus A. Menurutnya, kegiatan silent reading dipilih sebagai respons terhadap semakin berkembangnya komunitas literasi di Yogyakarta yang mulai rutin mengadakan kegiatan serupa untuk menumbuhkan minat baca masyarakat. “Kami melihat sudah banyak komunitas di Yogyakarta yang menyelenggarakan kegiatan silent reading sebagai upaya membangun semangat literasi. Karena itu, kami ingin mewadahi kegiatan tersebut melalui acara Hening yang diselenggarakan di Hutan Pinus GIK UGM,” ujar Cham.
Cham menambahkan, kegiatan tersebut tidak hanya menyediakan ruang bagi masyarakat untuk menikmati pengalaman membaca di alam terbuka, tetapi juga menjadi wadah untuk membangun jejaring antarsesama pembaca. Selain itu, sesi meditasi ringan turut dihadirkan sebagai sarana untuk menemukan ketenangan bagi peserta setelah menjalani rutinitas pekerjaan di hari-hari sibuk sebelumnya. “Kami berencana menyelenggarakan acara ini secara rutin setiap bulan, antara hari Jumat, Sabtu, atau Minggu. Harapannya, Hening bisa menjadi ruang bagi masyarakat untuk melepas penat setelah menjalani hari-hari yang padat dengan pekerjaan,” ujarnya.
Tak lupa, Cham juga mengatakan bahwa penyelenggaraan perdana Hening akan menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan kegiatan selanjutnya. GIK UGM, kata dia, membuka ruang bagi peserta untuk memberikan masukan mengenai konsep maupun rangkaian acara yang dapat ditambahkan, seperti lokakarya, diskusi, atau kegiatan literasi lainnya. “Kami terbuka terhadap berbagai masukan dari teman-teman mengenai konsep kegiatan berikutnya. Harapannya, Hening dapat terus bertumbuh menjadi wadah yang menarik bagi masyarakat,” harap Cham.
Di sisi lain, inisiator komunitas @bacabarengjogja, Aditya Hernawan, mengatakan bahwa kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kebiasaan membaca di tengah masyarakat. Menurutnya, kegiatan silent reading dirancang agar lebih santai dan inklusif sehingga siapa pun dapat mulai membangun kebiasaan membaca tanpa dibatasi oleh jenis bacaan. “Kegiatan ini adalah gerbang awal untuk memulai kebiasaan baru, yaitu membaca. Karena itu, saya sampaikan sejak awal bahwa peserta bebas membaca apa saja, mulai dari koran, komik, hingga buku lainnya. Yang terpenting adalah mulai membaca,” kata pria yang akrab disapa Adit tersebut.
Adit menambahkan, kegiatan ini juga ditujukan bagi masyarakat yang baru ingin memulai kebiasaan membaca. Setelah kebiasaan tersebut terbentuk, sambung Adit, peserta dapat bergabung dengan komunitas literasi lain yang memiliki kegiatan membaca dan diskusi dengan pembahasan yang lebih mendalam. “Kalau nanti kebiasaan membacanya sudah terbentuk dan ingin mengikuti kegiatan yang lebih serius, silahkan bergabung dengan komunitas-komunitas literasi lainnya,” tuturnya.
Penulis : Agito Sitepu
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Salwa
