Menjelang pengabdian masyarakat pertengahan Juni mendatang, tim KKN-PPM UGM unit Pelita Nusantara menggelar workshop edukasi pelatihan pembuatan ecoprint ini berlangsung di Desa Sidoarum, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta, Minggu (24/5). Kegiatan ini diikuti oleh 18 anggota Tim Pelita Nusantara dari lintas subunit dengan menggandeng narasumber dari Asosiasi Eco-Printer Indonesia (AEPI) Yogyakarta.
Kegiatan ini fokus pada pemberian materi singkat mengenai penggunaan bahan ramah lingkungan seperti daun untuk fashion. Pelatihan ini menggunakan teknik cetak pada media seperti kain atau kulit kayu dengan memanfaatkan pewarna alami dari tumbuhan untuk menciptakan pola dan warna unik pada media tersebut. Dalam workshop ini, media yang digunakan adalah kain 1,5 meter dengan bahan pewarna dari daun dan bunga.
Annisa Attaya Zahra, anggota Tim Pelita Nusantara dari Program Studi Sosiologi angkatan 2023, memaparkan pelatihan pembuatan ecoprint nantinya akan menyasar komunitas PKK sebagai bentuk pemberdayaan perempuan di Desa Bukit Raya, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. “Di Desa Bukit Raya ada banyak komunitas ibu-ibu, salah satunya komunitas PKK. Akhirnya aku berpikir, apa yang bisa dibuat oleh komunitas ibu-ibu yang tetap memiliki nilai jual, akhirnya memilih ecoprint,” ungkap Annisa, Senin (8/6).
Selain untuk pemberdayaan perempuan, ia memilih ecoprint untuk menghasilkan model baru di dunia mode fashion ramah lingkungan (slow fashion). Ia menjelaskan bahwa hasil ecoprint tidak sekadar kain busana melainkan juga ramah alam. “Jadi ini bukan sekadar kain untuk fashion, tetapi salah satu upaya menjaga lingkungan karena banyak pakaian yang sangat mencemari lingkungan. Salah satu upaya menanggulanginya adalah slow fashion. Salah satu produknya itu ecoprint,” ujarnya.
Koordinator Mahasiswa Tingkat Unit Tim Pelita Nusantara, Christian Perdana Putra Malau, mengungkapkan bahwa keterlibatan anggota lintas subunit pada workshop bertujuan untuk memperkenalkan ecoprint secara lebih luas. Menurutnya, hal ini berpotensi dikembangkan baik di lokasi KKN maupun di tempat tinggal masing-masing anggota. “Harapannya ecoprint tidak hanya dikenal di subunit Bukit Raya saja. Lalu mungkin nanti saat teman-teman kembali ke kota masing-masing, ecoprint ini bisa dikenalkan juga karena pembuatannya sendiri tidak ribet dan hasilnya estetik,” ungkap Christian.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa hasil dari pelatihan ini nantinya akan dijahit di rompi tim. Menurutnya, gerakan ini merupakan terobosan baru sebagai bentuk kampanye slow fashion dari Tim Pelita Nusantara.
Lokakarya dipimpin pelatihan oleh Rahmi Ananta Widya Kristianti, atau yang akrab disapa Ami. Ia merupakan alumnus Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1999 yang kini menjadi pengurus Asosiasi Eco-Printer Indonesia (AEPI) Yogyakarta. Sejak tahun 2020, Ami mempelajari dan mulai menggeluti ecoprint. Menurutnya, metode ini merupakan salah satu terobosan bagus bagi dunia fashion karena menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan.
Ami merasa bahwa keterlibatannya sebagai pemateri merupakan sarana untuk berbagi edukasi tentang slow fashion. Ia juga menambahkan bahwa upaya Tim Pelita Nusantara mengenalkan ecoprint bukan sekadar pemberian edukasi tentang kelestarian lingkungan, tetapi juga untuk meningkatkan perekonomian warga. “Kita ingin mengenalkan konsep slow fashion karena selama ini sampah terbanyak salah satunya adalah limbah tekstil. Harapannya, nanti teman-teman juga dapat membantu geliat UMKM warga karena ecoprint ini bernilai jual tinggi,” ujarnya.
Ami berharap ilmu mengenai slow fashion ini dapat menjadi green lifestyle untuk menjaga kelestarian lingkungan. Ia juga menambahkan bahwa andil Tim Pelita Nusantara dapat menjadi awal langkah kecil untuk memulai gaya hidup ramah lingkungan tersebut. “Melalui ecoprint ini untuk memberikan kesadaran kolektif masyarakat terkait pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Mulai dari hal kecil, karena hal-hal kecil membuat orang menjadi sempurna, tetapi kesempurnaan bukanlah hal yang kecil,” pungkasnya.
Kontributor : Rajendra Arya
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Tim KKN Pelita Nusantara
