Bagi sebagian petani, gulma dianggap sebagai sumber masalah dalam pertanian dan perkebunan. Pasalnya serangan gulma menyebabkan penurunan hasil panen karena menghambat penyerapan nutrisi tanaman sehingga tanaman tidak bisa tumbuh dengan baik. Salah satu gulma yang sering menyerang tanaman sayuran seperti cabai, tomat dan seledri serta tanaman pangan seperti kentang adalah nematoda puru akar (Meloidogyne incognita).
Organisme parasit ini dikenal memiliki dampak besar terhadap tanaman karena mampu menyerang berbagai jenis inang dan menghambat pertumbuhan tanaman melalui pembentukan puru pada akar. Selain itu, beberapa gulma terutama pada tumbuhan invasif memiliki kandungan metabolit sekunder yang dapat bekerja dari sisi mengganggu aktivitas hama, misalnya sebagai penolak makan, penghambat pertumbuhan, pengganggu reproduksi, atau bersifat toksik.
Mukhlis Ibrahim, mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian bidang Hama Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), berhasil mengembangkan potensi gulma ini sebagai alternatif bahan yang dapat dimanfaatkan dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman. “Gulma tersebut dimanfaatkan sebagai sumber bahan aktif alami yang berpotensi untuk pengendalian hama tanaman. Dari kajian yang pernah ada, beberapa gulma terutama pada tumbuhan invasif yang lagi diteliti memiliki kandungan metabolit sekunder yang dapat bekerja dari sisi mengganggu aktivitas hama, misalnya sebagai penolak makan, penghambat pertumbuhan, pengganggu reproduksi, atau bersifat toksik,’ kata Mukhlis, Kamis (7/5).
Dari riset awal yang ia lakukan, ia memanfaatkan senyawa atau bahan aktif dalam kandungan gulma yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku biopestisida. “Bentuk akhirnya bisa menyesuaikan proses formulasi, misalnya cairan untuk aplikasi semprot atau powder/serbuk,” katanya.
Penelitian yang dilakukan saat ini berfokus pada hama Nematoda Puru Akar (Meloidogyne incognita). Ia menyebutkan beberapa senyawa kandidat yang telah teruji pada penelitian didapatkan beberapa senyawa metabolit dari nematoda puru akar tersebut diantaranya senyawa Alkaloid, Flavonoid, Fenolik, Tanin, Saponin dan Dilapiol,
Dari senyawa tersebut selanjutnya dijadikan bahan baku biopestisida dalam bentuk cairan untuk aplikasi semprot atau serbuk untuk mengendalikan serangan gulma. “Secara garis besar penelitian ini menunjukkan adanya potensi menarik dari tanaman invasif yang selama ini sering dipandang sebelah mata,” ujarnya.
Ia mengungkapkan proses penelitian tidak selalu berjalan mudah. Selama kurang lebih tiga bulan, Mukhlis menghabiskan waktunya di laboratorium untuk menyusun rancangan penelitian, mengulang percobaan, hingga melakukan evaluasi terhadap hasil yang belum sesuai harapan. “Ada kalanya saya pulang larut malam dengan perasaan hampa. Rasa lelah sempat membuat saya ingin menyerah. Namun, setiap kali keraguan itu muncul, saya teringat wajah kedua orang tua saya seketika menyadari bahwa perjuangan ini bukan hanya untuk diri sendiri,” ungkapnya.
Di tengah proses panjang tersebut, Mukhlis memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan hasil screening penelitiannya dalam ajang The 3rd International Conference on Sustainable Industrial Agriculture (IC-SIA) yang diselenggarakan Universitas Jember pada Juli 2025. Kesempatan tersebut membawanya menjadi Best Presenter Award at The 3rd IC-SIA, 2nd Place Winner of the National Young Researcher Award from the Indonesian Phytopathological Society, serta Young Researcher Appreciation Award kategori Under 30.
Kesempatan tersebut menjadi pengalamannya untuk membawa hasil penelitian ke forum ilmiah. Dengan waktu persiapan sekitar satu bulan, ia memanfaatkan setiap kesempatan untuk merapikan data, menyusun visualisasi presentasi, serta berlatih agar materi dapat dipahami audiens dari berbagai latar belakang. “Setiap latihan adalah investasi. Saya meyakini bahwa usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia,” katanya.
Pengalaman di IC-SIA kemudian menjadi titik penting yang membuka langkah berikutnya menuju forum internasional yang lebih luas. Pada April 2026, Mukhlis kembali memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitiannya dalam 13th International Conference on Chemical and Biological Sciences (ICCBS 2026) di Osaka, Jepang. Hal ini mengantarkannya memperoleh sertifikat berstandar internasional sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi dan keterlibatan aktif dalam forum ilmiah global tersebut.
Dalam konferensi tersebut, ia tidak hanya mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga mengikuti berbagai agenda ilmiah seperti diskusi panel, pertukaran gagasan, hingga membangun jejaring akademik dengan peneliti dari berbagai negara. “Jika dahulu saya sempat meragukan kelayakan penelitian saya, kini saya justru membawa hasil tersebut dengan penuh keyakinan sebagai bagian dari kontribusi ilmiah di tingkat global,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa proses panjang yang dimulai dari langkah kecil dapat membuka peluang yang lebih besar. Ia menilai anak muda Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing sekaligus berkontribusi dalam forum akademik dunia.
Kendati demikian, Mukhlis mengaku kebahagiaan terbesar bukanlah penghargaan maupun sertifikat yang diterima, melainkan ketika dapat membagikan pencapaian tersebut kepada orang-orang terdekatnya. “Kebahagiaan itu hadir ketika saya menghubungi orang tua dan mendengar suara mereka yang bergetar karena haru,” katanya.
Selain itu, ia turut mengapresiasi dukungan teman-teman seperjuangan yang selama ini menjadi tempat berbagi cerita, tawa, dan proses selama menempuh pendidikan doktoral. Tidak lupa ia menyampaikan apresiasi kepada tim promotor S3 yang mendampinginya selama proses penelitian. “Saya juga merasa bersyukur karena dapat membanggakan tim promotor S3 yang sabar membimbing yaitu Prof. Dr. Ir. Siwi Indarti, M.P., Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si., dan Valentina Dwi Suci Handayani, S.P., M.Sc., Ph.D.,” sebutnya.
Melalui perjalanan tersebut, Mukhlis belajar bahwa sesuatu yang sering dianggap kecil dapat memiliki dampak besar ketika dijalani dengan sungguh-sungguh. Screening sederhana mampu membuka jalan menuju forum internasional, sementara tanaman yang selama ini dipandang sebagai gulma justru dapat menghadirkan potensi baru dalam pengembangan ilmu pengetahuan. “Tidak ada langkah kecil yang sia-sia apabila dilakukan dengan sepenuh hati,” tuturnya.
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Mukhlis
