Dalam lima tahun terakhir, terjadi pergeseran tren pemakaian buku digital yang lebih mendominasi dibandingkan buku fisik. Namun, pecinta buku juga masih masif di masyarakat dibandingkan dengan penggunaan e-book. Di Hari Buku Nasional yang jatuh setiap 17 Mei, menjadi momen untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia dan memperkuat ekosistem perbukuan di Indonesia.
Kepala Perpustakaan dan Arsip UGM, Arif Surachman, SIP., M.B.A., mengatakan esensi sebuah buku terdapat pada substansi kontennya, bukan pada mediumnya. “Tidak semua orang nyaman membaca melalui layar digital, apalagi jika hanya menggunakan ponsel. Kami di perpustakaan akan selalu berupaya menyeimbangkan kebutuhan mahasiswa, baik koleksi secara fisik maupun digital,” ucapnya, Selasa (19/5).
Ia menyampaikan, Perpustakaan Pusat UGM sendiri selalu memfasilitasi keduanya, baik buku fisik maupun buku digital. Saat ini, perpustakaan memiliki fokus utama pada buku digital, namun buku fisik juga masih terus disediakan. Adapun koleksi buku fisik bersifat lintas disiplin ilmu ditambah dengan buku pengayaan. “Mahasiswa juga bisa melakukan usulan untuk pengadaan buku untuk menambah koleksi perpustakaan,” jelasnya.
Arif menjelaskan untuk memperluas jangkauan pemanfaatan karya ilmiah dosen dan mahasiswa, perpustakaan memiliki fasilitas repository.ugm.ac.id. Platform tersebut digunakan agar memudahkan akses karya baik oleh mahasiswa maupun masyarakat. Namun, aksesibilitas dokumen yang diberikan menyesuaikan dengan regulasi hak cipta penulis. “Untuk karya tulis akhir mahasiswa, saat ini kami belum membuka aksesnya secara penuh, kecuali ada permintaan khusus. Namun, untuk dokumen berupa paper atau artikel ilmiah, kami sudah memfasilitasinya lewat repositori institusi,” jelasnya.
Selain Hari Buku, 18 Mei diperingati sebagai Hari Kearsipan Nasional. Sebagai bagian dari arsip UGM, perpustakaan juga berkomitmen dalam mengelola dan melestarikan arsip sejarah universitas seperti rekam jejak berdirinya kampus UGM, sejarah kepemimpinan Prof. Sardjito, hingga dokumentasi gerakan mahasiswa. Komitmen ini diwujudkan dengan pemanfaatan Sistem Informasi Kearsipan Statis (SIKS) serta proses alih media atau digitalisasi dokumen lama guna mempermudah akses. “Kami tengah mengembangkan sistem baru yang diproyeksikan dapat lebih memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi ke depan,” tutur Arif.
Untuk menjamin keamanan arsip tersebut, perpustakaan mengupayakan untuk memperkuat infrastruktur teknologi informasinya seperti pengadaan ruang penyimpanan data khusus berbasis Network Attached Storage (NAS) yang dikoordinasikan dengan Direktorat Teknologi Informasi (DTI). Sementara untuk dokumen konvensional, pengelolaan dipusatkan di Depo Arsip guna menjamin perawatan dan ketahanan dokumen fisik mulai dari naskah tercetak hingga media analog. “Masalah keamanan memang menjadi tantangan kita bersama, untuk itu kami berusaha memperkuat infrastruktur teknologi informasi,” kata Afif.
Arif menekankan bahwa pemerintah maupun universitas harus punya kebijakan yang wajib untuk memastikan setiap institusi melakukan pengelolaan kearsipan dengan baik dan benar. Ia juga berharap kedepannya setiap lembaga pemerintahan dan perguruan tinggi harus ada pengelola kearsipan yang standar. Penerapannya harus terintegrasi dari tingkat pusat universitas sampai ke level fakultas dan prodi.
Seperti diketahui jumlah koleksi tercetak berupa buku dan karya ilmiah di perpustakaan UGM hingga pada bulan tahun 2025 mencapai 827.506 eksemplar terdiri 534.865 koleksi cetak dan 261.364 karya akhir mahasiswa. Sementara koleksi elektronik atau digital baik yang berasal dari langganan maupun kepemilikan sendiri terdiri dari E-Journal sebanyak 39.000 judul, 62.076 judul E-Book, 196.000 E-Datasheet, 44.212 data E-Company Profile, dan 30.705 judul E-Proceedings.
Penulis : Jesi
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Humas UGM
