Ujian Masuk Universitas Gadjah Mada Computer Based Test (UM UGM CBT) 2026 menjadi salah satu bentuk pemanfaatan operasional teknologi informasi berskala besar. Pasalnya sebanyak 44.972 peserta mengikuti ujian yang berlangsung pada 2–8 Juni 2026 di Yogyakarta dan Jakarta. Jumlah peserta yang besar tersebut menuntut kesiapan sistem yang mampu bekerja secara stabil selama pelaksanaan ujian berlangsung. Berbagai aspek teknologi informasi dipersiapkan untuk memastikan seluruh peserta dapat mengikuti ujian tanpa kendala berarti. Kesiapan tersebut mencakup infrastruktur komputasi, jaringan, keamanan sistem, hingga mekanisme mitigasi risiko yang telah dirancang sebelum ujian dimulai.
Direktur Direktorat Teknologi Informasi (DTI) UGM, Prof. Dr. Ir. Ridi Ferdiana, S.T., M.T., IPM., menjelaskan bahwa pelaksanaan UM UGM CBT tahun ini melibatkan infrastruktur yang tersebar di dua lokasi ujian yakni Yogyakarta dan Jakarta. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, UGM menyiapkan klaster server berkinerja tinggi yang didukung arsitektur cloud terkelola. Seluruh server juga dilengkapi sistem cadangan guna menjaga ketersediaan layanan selama ujian berlangsung. Selain itu, ribuan perangkat komputer yang digunakan peserta telah melalui proses standardisasi, pemeriksaan, dan pengamanan sebelum digunakan. “Pelaksanaan UM UGM CBT yang melibatkan hampir 45 ribu peserta merupakan salah satu operasi teknologi informasi terbesar yang kami jalankan di lingkungan akademik,” ujarnya, Jumat (5/6).
Menurut Ridi, stabilitas sistem menjadi faktor penting dalam pelaksanaan ujian yang berlangsung selama beberapa hari dengan dua sesi setiap harinya. Untuk menjaga kelancaran pelaksanaan, jaringan ujian dipisahkan dari jaringan internet publik kampus sehingga aktivitas digital lainnya tidak memengaruhi pelaksanaan ujian. UGM juga menyiapkan lebih dari satu penyedia layanan internet sebagai cadangan apabila terjadi gangguan konektivitas. Di setiap lokasi ujian tersedia pasokan daya cadangan melalui UPS serta dukungan genset untuk mengantisipasi gangguan kelistrikan. “Kami memastikan sistem ujian memiliki lapisan cadangan agar tetap dapat berjalan meskipun terjadi gangguan pada salah satu komponen pendukung,” jelasnya.
Selain menjaga stabilitas sistem, UGM juga memperkuat aspek keamanan untuk mencegah berbagai bentuk kecurangan selama pelaksanaan ujian. Soal ujian disimpan dalam sistem yang diamankan dan hanya dapat diakses ketika sesi ujian dimulai. Komputer peserta juga dikonfigurasi secara khusus agar tidak dapat digunakan untuk membuka aplikasi lain maupun mengakses sumber informasi di luar sistem ujian. Langkah tersebut dipadukan dengan pemeriksaan berlapis terhadap peserta sebelum memasuki ruang ujian. “Keamanan sistem kami rancang secara menyeluruh, mulai dari perlindungan data hingga integrasinya dengan prosedur pengawasan di lapangan,” tutur Ridi.

Perkembangan teknologi digital turut menjadi perhatian dalam penyelenggaraan UM UGM CBT tahun ini. Menurut Ridi, tantangan yang dihadapi tidak lagi sebatas praktik mencontek konvensional, tetapi juga pemanfaatan perangkat mikro yang terhubung dengan teknologi kecerdasan buatan. Perangkat seperti kacamata pintar, kamera tersembunyi, maupun alat komunikasi berukuran sangat kecil berpotensi digunakan untuk membantu peserta memperoleh jawaban dari luar ruang ujian. Karena itu, UGM memperketat pemeriksaan terhadap barang bawaan dan aksesori elektronik yang dibawa peserta sebelum memasuki ruang ujian. “Perkembangan teknologi seperti generative AI menghadirkan tantangan baru yang harus kami antisipasi melalui kombinasi pengamanan teknologi dan pengawasan yang lebih ketat,” ungkapnya.
Ridi menambahkan bahwa berbagai penyempurnaan sistem juga dilakukan berdasarkan evaluasi pelaksanaan UTBK SNBT maupun UM UGM CBT pada tahun-tahun sebelumnya. Salah satunya melalui pengembangan sistem token yang lebih dinamis untuk mengurangi potensi antrean akses saat ujian dimulai. Tim teknologi informasi juga menyiapkan dashboard pemantauan yang memungkinkan kondisi komputer peserta dipantau secara real time dari pusat kendali. Dengan sistem tersebut, potensi gangguan maupun anomali dapat dideteksi dan ditangani lebih cepat. “Kami terus belajar dari pelaksanaan sebelumnya agar sistem yang digunakan semakin andal dan responsif terhadap berbagai situasi di lapangan,” katanya.
Selain gangguan jaringan dan keamanan sistem, UGM juga menyiapkan prosedur khusus untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya pemadaman listrik. Meskipun lokasi ujian telah didukung layanan listrik premium dan genset cadangan, skenario penanganan tetap disusun untuk memastikan hak peserta tidak dirugikan apabila terjadi gangguan. Dalam kondisi tertentu, sistem telah dilengkapi mekanisme kompensasi waktu yang disesuaikan dengan durasi gangguan yang terjadi. Langkah ini dilakukan untuk menjaga prinsip keadilan selama proses seleksi berlangsung. “Yang paling penting adalah memastikan seluruh peserta tetap memperoleh kesempatan yang sama untuk menyelesaikan ujian sesuai waktu yang semestinya,” pungkasnya.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Donnie
